ADVERTORIAL | Ulang Tahun Intan GBI Kalvari Jakarta

BAGAI INTAN, BERKILAU UNTUK MENJANGKAU

Menjadi gereja yang menjangkau banyak jiwa, menjadi tekad utama Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kalvari Jakarta yang memasuki usia 60 tahun pada 1 Mei 2015. Sebagai salah satu stasiun misi pertama di Indonesia yang dibangun para utusan Injil Konvensi Baptis Selatan (SBC), GBI Kalvari berperan penting dalam melahirkan gereja-gereja Baptis di Jakarta. Bahkan sejak semula, GBI Kalvari telah memandang jauh ke depan dengan merintis gereja-gereja yang “mengepung” Ibukota Republik Indonesia ini.

Hasilnya, di Jakarta Utara berdiri GBI Ebenhaezer, GBI Betlehem, GBI Nazareth dan GBI Rosypinna. Di Jakarta Timur lahir GBI Jatinegara. Di Jakarta Selatan muncul GBI Kebayoran. Sementara di Jakarta Barat terdapat GBI Grogol.

GBI Kalvari juga giat menjangkau jiwa di berbagai daerah yang jauh. Gereja yang berdiri di Jl. Gunung Sahari VI Nomor 36 Jakarta ini melahirkan GBI Kalvari Banjit (Lampung), GBI Kalvari Mranggen (Jawa Tengah), GBI Kalvari Tegal (Jawa Tengah), GBI Kalvari Batam (Riau), GBI Margahayu (Bekasi, Jawa Barat), GBI Kalvari Jambi, GBI Kalvari Bengkulu, GBI Kalvari Cilacap (Jawa Tengah), GBI Kalvari Denpasar (Bali), GBI Kalvari Bangka (Bangka Belitung), GBI Kalvari Kabanjahe (Sumatra Utara) dan GBI Kalvari Bandar Lampung.

Saat ini, sejumlah gereja cabang hasil perintisan GBI Kalvari Jakarta sedang dalam proses menjadi gereja mandiri. Mereka tersebar di Tanjung Pinang (Riau), Pontianak (Kalimantan Barat), Medan (Sumatra Utara), Lampung, Makassar, dan Sintang (Kalimantan Barat).

Tekad untuk mendirikan setidaknya satu gereja di setiap provinsi, terus membara hingga kini. Meski demikian, tidak mudah bagi jemaat Kalvari untuk menjaga api pengabaran Injil tetap berkobar.

“Pergumulan paling berat adalah penjangkauan, karena kita dikelilingi gereja-gereja yang menjangkau, tetapi juga yang merebut orang-orang kita. Tetapi sebetulnya itu satu tantangan untuk kita, jadi temanya menjangkau. Tidak usah gentar. Kita menjangkau orang-orang yang ada di sekitar kita. Saya fokus pada keluarga-keluarga, karena lebih gampang,” ungkap Gembala Sidang GBI Kalvari Pdt. Christantio Nurdin kepada Prisetyadi Teguh Wibowo dari Suara Baptis, Minggu 15 Maret 2015.

Ayah dua anak ini mengakui, meneruskan semangat penjangkauan kepada kaum muda menjadi tantangan tersendiri. Perjalanan misi (mission trip) yang menjadi salah satu cara menumbuhkan semangat penjangkauan bagi kaum muda, tidak selalu dapat mereka ikuti. Kesibukan kuliah dan pekerjaan terkadang menjadi penghambat keikutsertaan kaum muda ke daerah-daerah perintisan gereja.

Meski demikian, semangat kaum muda untuk mengikuti perjalanan misi ini mulai bangkit.

“Sebetulnya kalau (perjalanan misi ini) bisa diprogramkan, (maka akan) bisa dijalankan. Dari segi keuangan, kita punya, gereja bisa menambahi. Kemarin kita ke Lampung, (kaum muda) sudah mulai ikut,” ujar Pdt. Christantio.

Tantangan untuk menggerakkan kaum muda dalam pelayanan juga dikemukakan Oce Meiwa Panggua yang melayani kaum muda GBI Kalvari bersama suaminya, Pdt. Rafli Sumanti. Ketika Oce dan Pdt. Rafli mulai melayani di gereja ini, keduanya merasa, kaum muda dan remaja dirundung banyak masalah. Di antaranya, muncul kelompok-kelompok yang sukar menyatu dan enggan mengikuti persekutuan pemuda.

“Kita berusaha sambil berdoa bagaimana membangun hubungan yang erat dalam persekutuan pemuda dan remaja. Sebetulnya banyak hal yang kita lakukan tetapi belum ada hasil,” ujar Oce dengan nada merendah.

“Tetapi kita tidak mau putus asa, kita terus berjuang. Salah satunya, kita intens kunjungan, mencari orang-orang yang tadinya aktif, sekarang tidak aktif. Kita mencari tahu, kenapa orang ini nggak datang. Di situ kita bisa mencari cara untuk merangkul orang itu. Yang kita lakukan (kunjungan, red.) mungkin kecil, tetapi saya rasa bisa efektif kalau kita intens menjangkau dan mengunjungi mereka,” sambung wanita asal Toraja ini.

Berbarengan dengan bulan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia Agustus mendatang, GBI Kalvari akan menggelar acara Kalvari Cup, lomba olah raga dan berbagai kegiatan gereja lainnya. Oce berharap, acara ini dapat membangun kembali hubungan erat di antara kaum muda.

“Dengan momen itu, kita bisa bersama-sama dalam keluarga besar GBI Kalvari. Kita juga berjuang supaya anak-anak muda itu merasa bahwa GBI Kalvari itu rumah kedua. Kalau ada perasaan itu, sunggguh-sungguh anak-anak itu merasa bahwa ini adalah tempat kita, kita tidak bisa ke tempat lain karena ini adalah rumah kita. Di sini kita bisa membangun kebersamaan, membangun keluarga dari bermacam-macam suku dan latar belakang,” ujar Oce.

Mendengar pernyataan Oce yang merendah dengan menyebut belum berhasil membangun hubungan erat di antara kaum muda, Ketua Panitia Keanggotaan GBI Kalvari Dkn. Heryansyah Himawan mengoreksinya. “Sebenarnya bukan tidak ada kemajuan (di antara) anak muda. Adanya persekutuan rutin, ini sudah ada kemajuan bagus. Memang tidak mudah, apalagi ke depan kami mengharapkan kaum muda terpanggil sepenuh waktu. Ini (tantangan) luar biasa.”

Dkn. Heryansyah menambahkan, tanggung jawab membangun kaum muda ini bukan hanya di pundak pendeta, tetapi juga tanggung jawab jemaat.

Salah satu pimpinan sebuah holding company di Jakarta ini mengakui, gereja umumnya lebih banyak menyusun program untuk kaum dewasa, bukan pemuda. Ketika GBI Kalvari masih memiliki sekolah dulu, membangun hubungan maupun penjangkauan kepada kaum muda lebih mudah dilakukan.

Diungkapkannya, bagaimana kaum muda GBI Kalvari pernah benar-benar seperti sebuah keluarga besar yang karib pada tahun 1970-1980-an. Mereka sering berkumpul di gereja dan di rumah Dkn. Heryansyah.

“Sebenarnya rumah keduanya bukan di gereja, tetapi di rumah saya, karena makannya gampang. Tidur pun di situ,” kenang Dkn. Heryansyah.

Ketika itu, rumah keluarga Heryansyah masih terletak di Jl. Pasar Baru, tidak jauh dari gereja. Anak-anak muda pria seusianya ketika itu sering menginap ramai-ramai di satu kamar. Yang tidak kebagian tempat tidur, cukup puas berbaring di sofa atau tempat lainnya.

“ Kalau orang satu kamar itu nggak pulang, satu sakit mata, semua juga sakit mata,” tutur Dkn. Heryansyah sambil tertawa.

Saking dekatnya hubungan mereka, para pemuda itulah yang pertama mengetahui seorang teman diserang tifus. Dengan kompak, mereka melarikannya ke rumah sakit sementara orang tua si sakit tidak mengetahuinya.

Sedemikian eratnya jalinan persaudaraan, para pemuda ini tumbuh menjadi orang-orang yang sangat melindungi adik-adiknya. Selesai persekutuan, ketua persekutuan kaum muda membagi tugas  anak-anak lelaki yang memiliki motor untuk mengantar pulang anak-anak perempuan.

Pengaruhnya terhadap orang-orang sekitar pun luar biasa. Dalam persekutuan kaum muda yang diadakan di rumah salah satu anggotanya, sering terjadi orang tuanya dimenangkan. Bahkan teman, kakak, dan adik juga dimenangkan.

“Ini karena orang tua melihat, anak-anak muda ini menunjukkan hubungan yang baik,” ujar Dkn. Heryansyah yang ayahnya juga dimenangkan kemudian.

Tidak hanya itu, hantu yang konon menghuni rumahnya pun tidak muncul lagi setelah para pemuda sering mengadakan persekutuan. Banyak anak yang tanpa disadari terancam broken home karena berbagai masalah keluarga, terselamatkan karena eratnya hubungan tersebut.

“Di situ dipersatukan oleh Yesus, dihibur, dikuatkan. Mereka sifatnya mengayomi,” kenang Soeherman Gunawan, ketua kaum muda GBI Kalvari tahun 1972. “Saya dimenangkan di gereja ini karena terkesan (dengan eratnya hubungan kaum muda). Kekeluargaannya luar biasa. Kaum muda mendominasi (pelayanan di gereja), seperti paduan suara atau jam doa.”

Soeherman yang percaya Tuhan Yesus dari penjangkauan temannya (pemuda GBI Kalvari) lalu mengisahkan, ia dan teman-teman mudanya betah sekali di gereja. Setiap pulang sekolah, berolah raga, belajar kelompok, selalu dilakukan di gereja.

“Murid-murid yang ada kepintaran, meng-ajar (yang lain). Makanya, kita larinya ke gereja, bukan ke tempat lain. Persekutu-an pemuda digabung dengan remaja, tetapi pemuda itu mem-punyai sifat meng-ayomi. Jadi, remaja senang sekali,” kata Soeherman.

Kini, puluhan mantan anggota kaum muda GBI Kalvari telah menyebar ke kota-kota di seluruh dunia. Ada yang menjadi pendeta atau anggota gereja yang giat membuka gereja Baptis di tempat tinggalnya.

Dalam peringatan ulang tahun intan 1 Mei 2015 ini, GBI Kalvari diharapkan semakin berkilau dan menjangkau lebih banyak jiwa. Ulang tahun intan ini mengambil tema “Semakin Berkilau untuk Menjangkau”. Ini adalah tema lanjutan ulang tahun emas 10 tahun lalu yang bertema  “Menabur dan Menuai”.

“Kalau tidak berkilau, bukan lagi intan yang memancarkan cahaya ke sekelilingnya. Pada umumnya, kita seringkali membuat acara yang menarik, tetapi lupa akan sekeliling kita, lupa membuat sinar untuk menolong orang lain menemukan Yesus,” tandas Dkn. Heryansyah yang menjadi Ketua Panitia Ulang Tahun Ke-60 GBI Kalvari.

Diungkapkannya, tekad GBI Kalvari untuk menjangkau semua provinsi, masih kuat tertanam. Bahkan gereja ini juga ingin memperluas jangkauan pelayanannya ke luar negeri.

“Di mana ada kesempatan, kita akan menjangkau tiap provinsi satu per satu,” kata Dkn. Heryansyah.

Sebagai gereja Baptis yang injili, demikian Dkn. Heryansyah, setiap anggota jemaat GBI Kalvari harus berjiwa menginjil, baik yang senior maupun yunior. “Memang zaman dulu didominasi kaum muda. Kita harapkan (sekarang), semuanya terlibat. Kita menginjil bukan hanya internal kita, tetapi keluar juga, ke pulau-pulau. Kita perlu bekerja sama dengan bekas cabang, terutama gereja yang memiliki strategi mendirikan satu gereja di kota besar. Kita juga menginjil di daerah transmigrasi. Ke mana Tuhan tunjukkan (jalan), kita akan membuka.”

Sebagai salah satu orang lama di GBI Kalvari, ia berharap, gereja ini sungguh-sungguh menjadi teladan dalam penginjilan, pengajaran, pemuridan, dan pelayanan sosial.

“Gereja harus menjadi terang di sekitarnya. Zaman makin berat, makin sulit. Gereja harus siap, tidak terpaku pada beban berat kesibukan, tetapi harus tetap memancarkan terang cahaya itu kepada orang-orang yang belum mengikut Kristus,” tandasnya.

SB/lya/pris

EMBUN PAGI | KETIKA SEMUA ORANG JAJAN DI KANTIN SEKOLAH…

Naning Suryanto*)

Banyak orang tua, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, mengeluhkan tingginya biaya pendidikan sekarang ini. Padahal anak-anak mereka masih TK, SD, SMP ataupun SMU. Namun kalau dicermati sebenarnya keluhan mereka bukan karena membayar uang sekolah tiap bulannya (apalagi ada sekolah negeri yang gratis) tetapi pada biaya sehari-harinya. Mereka harus menyediakan uang untuk beli buku, uang transpor, belum lagi uang jajan setiap hari di sekolah untuk anaknya. Saya jadi tergelitik untuk menuliskan ini….

Salah satu “penderitaan” saya waktu masa-masa sekolah adalah tentang uang jajan. Ibu sangat “ketat” dalam mengatur pengeluaran rumah tangga. Termasuk dalam mengatur menu makanan buat kami (seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya…), satu menu bisa untuk beberapa hari. Apalagi soal uang jajan buat kami anak-anaknya, baik di sekolah maupun di rumah: “No!

Ibu termasuk orang yang tahan menerima keluhan, rengekan, protes  atau tuntutan bertubi-tubi dari kami, enam anaknya, soal uang jajan. Berbagai dalih pernah kami utarakan untuk pengadaan uang jajan, hasilnya nihil.

Buat membayar uang sekolah, memang selalu ada berkat Tuhan untuk kami (semacam “beasiswa”) yang setiap bulannya Ibu terima. Namun Ibu bersikukuh bahwa berkat itu pasti tidak termasuk uang jajan di sekolah. Karena memang berkat yang Ibu terima melalui wesel, selalu tertulis pesan: “untuk biaya sekolah”.   Sebagai “orang yang taat pada Tuhan”, berkat itu benar-benar Ibu alokasikan hanya untuk pembayaran uang sekolah plus uang buku sekolah kami. Titik!

Sewaktu kami masih kecil, sebagai ganti uang jajan, Ibu setiap hari menyediakan snack di rumah: beberapa keping biskuit, satu genggam kacang atom, permen, dan lain-lain. Setiap hari Ibu membaginya dalam enam wadah kecil (sebesar cetakan kue mangkok atau cup cake) untuk enam anaknya. Satu anak satu paket snack di wadah itu.

Lama-lama kami bosan juga, pengin banget seperti anak-anak yang lain bisa beli jajanan, sesekali (bersyukur Zaman itu jajanan belum beraneka ragam seperti sekarang yang begitu menggiurkan).

Dan jawaban Ibu tetap “No!

Setelah kami bertambah besar, kami protes, kami nggak mau lagi snack seperti itu. Akhirnya Ibu luluh juga, lalu mulai mengalokasikan uang jajan buat kami — sebulan sekali!  Yaitu waktu Ibu terima wesel dari Dana Pensiun Baptis Indonesia. Uang jajan itu cukup untuk membeli satu mangkok bakso! Buat saya  — waktu itu — istilah “Ibu pelit” atau “Ibu irit” nggak ada bedanya.

Kembali soal uang jajan di sekolah. Kalau mau, bawa saja bekal dari rumah. Saya dan kakak saya, waktu kami duduk di bangku sekolah dasar (SD),  pernah beberapa kali melakukannya. Kami bawa bekal makanan dan minuman ke sekolah setiap hari.

Tetapi akhirnya saya malu… Habis, menu makanannya itu-ituuu… saja. Jadi lama-lama saya malu “makan bersama” di sekolah. Ya, daripada malu, mendingan nggak usah bawa saja sekalian.

Di sekolah tanpa uang jajan di tangan, jam istirahat menjadi siksaan buat saya. Ini bukan masalah menahan lapar atau haus saja. Mungkin saya, satu-satunya murid yang pengin jam istirahatnya cepat-cepat berlalu.

Bagaimana tidak? Begitu bel istirahat berbunyi, semua murid langsung berhamburan keluar kelas. Ada yang langsung bermain, sebagian ke kantin. Kalau ikut main-main, berlarian sampai keringatan, ujung-ujungnya teman-teman selalu mengajak ke kantin untuk melepas rasa haus, supaya nggak dehidrasi.

Saya cuma bisa bilang, “Nggak, ah.” Masa setiap kali ke kantin “bergantung” dengan kebaikan teman untuk menraktir? Nggak enak, dong. Jadi, saya lebih senang duduk-duduk di depan kelas, ngobrol dengan teman-teman yang nggak ke kantin. Kalau akhirnya mereka mengajak ke kantin, dengan halus saya menolaknya.

Lalu daripada kelihatan bengong di depan kelas sendirian, saya jadi lebih sering ke perpustakaan. Mending baca-baca di situ. Sayang, perpustakaan di sekolah zaman itu koleksi buku-bukunya itu-itu saja, buku-buku “Pujangga Baru”…. lama-lama bosan juga.

Kalau sedang malas ke perpustakaan, ya sudah, di dalam kelas saja. Pura-pura baca buku pelajaran atau menulis-nulis catatan.

Situasi agak tertolong kalau setelah jam istirahat ada ulangan, saya jadi punya “alibi” yang kuat untuk menghabiskan jam istirahat di kelas saja sambil “belajar”. Dan pasti ada teman yang mau bergabung belajar bersama. Jadi, nggak sendirian.

Demikianlah, saya setiap hari sekolah harus mencari kreativitas untuk menghabiskan jam-jam istirahat di sekolah, supaya tidak terlihat mencolok bahwa saya jaraaang sekali jajan di kantin sekolah.  Belum lagi kalau setiap kali ada teman yang mengajak ke kantin, selalu saya harus nebak-nebak: dia bermaksud menraktir atau… jangan-jangan saya harus bayar sendiri nanti?

Lalu saya memutar otak untuk mencari-cari alasan nggak mau ke kantin. Masa mau bilang nggak punya uang terus? Malu, dong.

Kadang-kadang saya juga harus “berakting” supaya tidak terlihat nelangsa (menderita), walau nggak bisa ikut-ikutan jajan. Nggak mudah lho, mengembangkan pergaulan tanpa uang sepeser pun.

Namun pernah ada satu kejadian yang membuat saya rela belajar menerima keadaan ini. Waktu itu saya sudah di sekolah menengah atas (SMA). Suatu kali guru matematika mengumumkan agar setiap murid menyiapkan uang Rp 2.500,00 untuk mengganti  uang  cetak lembar kegiatan siswa (LKS).

Pulang sekolah, saya ceritakan itu pada Ibu. Saat itu juga Ibu menyiapkan uangnya untuk saya bawa besok ke sekolah.

Besoknya saya ajak teman sebangku untuk bersama-sama membayarkan uang itu ke guru matematika. Jawabannya mengejutkan, dia bilang bahwa ibunya lagi nggak punya uang untuk membayar LKS itu.

Hah? Padahal dia bisa jajan di kantin sekolah setiap hari!

Akhirnya mata saya terbuka. Beberapa teman saya juga kesulitan membayar uang buku, bahkan menunggak uang sekolah, tetapi mereka bisa jajan di sekolah jauh lebih sering daripada saya. Ini adalah pelajaran manajemen keuangan yang sangat berharga dari Ibu. Walaupun sepertinya pahit apa yang saya rasakan setiap jam istirahat, tetapi soal kewajiban membayar uang buku, uang sekolah, saya bersyukur bisa menegakkan kepala saya.

Setelah pelan-pelan belajar menerima keadaan, saya juga mulai belajar menikmati jam istirahat walau tanpa uang jajan di tangan. Belajar menjadi teman bergaul, menikmati canda gurau dengan teman walau hanya di dalam ruang kelas.

Ternyata kalau kita cukup kreatif, punya empati dengan teman, kita akan menjadi teman bergaul yang menyenangkan. Sampai beberapa teman, beberapa kali “memaksa” agar saya mau ditraktir ke kantin, biar bisa tetap ngobrol dengan saya. Bahkan sampai saya punya geng, terdiri empat-lima orang yang sering menghabiskan jam istirahat dengan ngobrol di kelas. Kami patungan untuk beli jajanan yang murah meriah di kantin lalu kami bawa ke kelas. Atau kalau ada teman yang punya makanan, kita habiskan rame-rame di kelas sambil ngobrol dan bercanda.

Saya sangat menikmati masa-masa itu. Walaupun tidak setiap kali saya ikut iuran, kalau pun bisa paling-paling Rp 50,00 atau Rp 100,00. Tetapi teman-teman bisa menerima. Saya belajar, ternyata ketika saya bisa menerima diri saya apa adanya, maka teman-teman lingkungan di mana saya berada pun akan bisa menerima saya apa adanya.

Saya sadar ini tidak lepas dari campur tangan Allah yang membuka mata saya agar dapat melihat dengan jernih kondisi saya sebenarnya. Bahwa sebenarnya saya adalah “anak yang beruntung”, saya diberkati dengan Ibu yang sangat mengerti bagaimana mengatur keuangan. Karena itu kebutuhan-kebutuhan yang lebih penting dalam hidup saya terbayarkan. Sementara banyak orang tua yang tidak mengerti membedakan mana kebutuhan yang lebih penting, dan mana yang kurang penting bagi kehidupan anak-anaknya.

Dan yang lebih berharga adalah saya mendapat kesempatan untuk belajar bahwa harga diri (baca: gengsi) = tebal tipisnya dompet kita. Tetapi jauh lebih penting bagi saya untuk mengembangkan citra diri yang positif, kepribadian yang positif untuk mendapatkan pergaulan yang positif juga. Ternyata fasilitas atau uang tidak boleh menjadi pijakan saya untuk mengembangkan pergaulan. Ketika saya mulai mengembangkan citra diri yang positif, pikiran negatif saya tentang orang lain — bahwa teman-teman memandang saya iba, menganggap saya mintanya ditraktir di kantin, dan lain-lain — lambat laun memudar.

Saya akhirnya sadar bahwa pada saat saya tidak dapat menikmati jajan di kantin sekolah (sementara yang lain bisa), saya sedang “menabur” untuk sesuatu yang jauh lebih berharga dalam hidup saya: penerimaan diri, penguasaan diri dan pengucapan syukur atas pemeliharaan ALLAH dalam hidup saya. Kalau ALLAH sudah katakan, “Cukup!”, ya,  saya harus harus katakan juga, “Terima kasih Tuhan, ini cukup bagiku!”

Satu pesan yang sering Ibu katakan adalah, “Janganlah engkau dikuasai keadaan, tetapi engkaulah yang harus menguasai keadaan!” Untuk dapat menguasai keadaan, kita harus memulainya dengan menerima keadaan kita apa adanya.  Itulah sebabnya ALLAH mau agar saya dapat mengucap syukur atas apa pun yang terjadi atas hidup saya.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5 : 18)

Tidak mudah bagi saya untuk belajar mengucap syukur dalam segala hal. Namun saya percaya hingga hari ini, bahwa pengucapan syukur adalah pijakan yang kokoh untuk saya menapaki masa depan!

*)Penulis adalah anggota GBI Peterongan Cabang Klepu, Jawa Tengah

LIPUTAN | Ajakan Ber-AKSI: Dengan Kartun Memberantas Korupsi

Sabtu, 21 Maret 2015 Sekolah Tinggi Desain Indonesia (STDI), Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) dan Komisi Pemberantaran Korupsi (KPK) menggelar lomba poster antikorupsi, pameran kartun dan diskusi tentang perilaku korupsi. Lomba diawali pukul 14:00 dengan pengarahan singkat oleh pengajar desain komunikasi visual, Aries Setiawan. Sekitar 15 menit kemudian, 19 peserta lomba dari sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) menggoreskan pensilnya memperebutkan hadiah Rp 1 juta (pemenang pertama), Rp 500 ribu (pemenang kedua) dan Rp 250 ribu (pemenang ketiga).

Tampaknya, mereka telah mempersiapkan diri untuk perlombaan ini. Dengan total waktu pengerjaan kurang dari dua jam, persiapan dan ide yang telah dipikirkan sebelumnya akan sangat menolong. Dan, ketegangan semakin terasa pada detik-detik terakhir pengumpulan.

Penampilan Paduan Suara Gita Wastu, gabungan anak-anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMA dengan dua buah gerak dan lagu yang sangat apik menandai pembukaan pameran hari pertama. Ruang depan yang diisi pajangan karya para kartunis dalam cahaya yang temaram makin menggetarkan suasana yang penuh keindahan.

Sambutan-sambutan singkat dan perkenalan diberikan Ketua STDI, Pdt. Martinus Ursia, Sandri Justiana (Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK), dan Joko Luwarso (Pakarti).

Dibukanya pintu penghubung ke ruangan dalam menandai acara selanjutnya, forum diskusi dengan masing-masing perwakilan dari STDI, KPK, dan Pakarti. Lagi-lagi, suasana yang temaram dihiasi pajangan karya-karya kartunis, menciptakan suasana presentasi yang hangat tentang korupsi, mendorong hadirin untuk berpikir. Korupsi yang dapat merugikan negara hingga angka triliunan Rupiah ini ternyata dipicu oleh perilaku-perilaku yang merugikan seperti bohong, menyontek, melanggar lalu lintas, buang sampah sembarangan, boros, malak, nilep uang bayaran sekolah, dan menyerobot antrean.

Pdt. Martinus dalam selebaran pameran ini menuliskan, “Pameran ini untuk merekam realitas masyarakat. Apakah masyarakat memiliki kecenderungan korup, atau hanya pejabat yang korup? Atau malah sistem politik, hukum, ekonomi yang memberi ruang lebar bagi korupsi merajalela?”

“Komunikasi lewat gambar tak pernah surut dimakan zaman,” tulis Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual Toni Masdiono, yang memimpin forum diskusi. “Di era digital ini justru komunikasi kartunal makin eksis. Korupsi pun nampaknya tak pernah hengkang dari sebagian besar negara di dunia ini,” lanjutnya.

Kesempatan ini merupakan momentum yang baik untuk masyarakat luas, terutama generasi muda siswa-siswi SMA, untuk bangkit dan bersikap kritis, berani berekspresi dan berpikir melalui kreativitas seni visual. Kreativitas inilah yang digali dari siswa-siswi SMA melalui lomba.

Sahara Krisnadevi (SMA Angkasa) berhasil meraih juara pertama. Guru seni budaya SMA Angkasa, Septian Nur Fatoni mengatakan, sebelum lomba, anak-anak didiknya di sekolah yang terkenal memiliki tim pasukan pengibar bendera (paskibra) jempolan ini memang telah dilatih dan diseleksi lebih dulu. Sedangkan peserta lain dari SMA Angkasa gagal menang lomba karena tidak menggunakan teknik yang dianjurkannya, ujar Septian kepada Lya Anggraini dari Suara Baptis. Menurut Septian, goresan siswanya itu memang bagus dan berkarakter, hanya teknik pewarnaannya lemah.

21 Maret 2015  dok bigjohn 2Pemenang ketiga adalah Akmal Zaidan (SMA Negeri 20 Bandung). Posternya bergambar manusia bermuka tikus bertuliskan “WANT3D” di atas dan “DEAD OR ALIVE” di bawahnya dengan media sederhana pensil warna merah, pensil B, dan spidol.

Pingin gambar, seneng gambar, jadi deh..” katanya ketika diminta menjelaskan karyanya.

Peserta ini datang tepat ketika lomba dimulai dan selesai lebih cepat. Tampaknya ia telah menyiapkan diri sebelum datang di tempat lomba.

Menurut Toni, karya pemenang kedua, Felicia Sianti Dewi (SMA Kristen 3 BPK Penabur), sebenarnya memiliki orisinalitas dan pewarnaan yang sangat bagus. Tikus-tikus bermunculan dari lubang-lubang di meja permainan, siap dihantam palu pemain yang hanya tampak punggungnya. Pada layar game tertulis “BERANTAS” berwarna merah. Sayang, tulisannya tidak kontras dengan latar belakang yang gelap.

Karya poster pemenang pertama adalah karikatur dalam sebuah lingkaran kecil tentang laki-laki dan perempuan dikelilingi berkantung-kantung uang. Warna hitam cat semprot yang memenuhi kertas menonjolkan gambar dalam lingkaran tersebut. Huruf-huruf dari stiker tersusun rapi di bawahnya, “HEI KORUPTOR! SUATU SAAT HUKUM MENGADILIMU!” Tulisan ini ditempelkan dengan cerdik. Keseluruhan hasilnya, komposisi dan pewarnaan, sangat bagus, menarik orang untuk mendekat.

Para juri menyatakan bahwa pemahaman tentang korupsi di tingkat anak-anak SMA sudah cukup lumayan. Mereka berpesan untuk bisa menularkan semangat antikorupsi kepada teman-teman di sekolah. Mereka juga mengingatkan bahwa seluruh peserta sebetulnya sudah juara karena punya nyali untuk ikut lomba. “Hanya segelintir orang yang berani ikut lomba, padahal yang berkemampuan banyak,” tandas Toni.

Pameran yang ditampilkan selama seminggu sampai Sabtu, 28 Maret 2015 ini di antaranya memajang karya-karya kartunis senior seperti Pramono, Gesi Goran, Anwar Rosyid, Koesnan Hoesie, dan Sudi Purwono.

Dalam kesempatan itu, dibagikan pula buku Kartunis Ber-AKSI, kumpulan karya 100 kartunis dari Aceh, Medan, Riau, Jambi, Lampung, Kalimantan Selatan, Jakarta, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Semarang, Solo, Yogya, Surabaya, dan Bali.

Melalui gerakan moral Kartunis Ber-AKSI ini, Pakarti ingin mengajak seluruh komponen masyarakat turut berperilaku antikorupsi dan melawan praktik korupsi di Indonesia.

Hidup antikorupsi!

 SB/lya anggraini

Dirjen Bimas Kristen: GGBI, ASET PENTING BANGSA INDONESIA

Tema Kongres X GGBI di Surabaya pada tahun ini “Memperkokoh Keluarga Besar Umat Baptis Indonesia Memperluas Jangkauan Pelayanan” memberikan makna bahwa sebuah hasil tidak akan dapat tercapai hanya melalui bekerja atau berdoa, tetapi juga harus menyeimbangkan antara keduanya. Baik dilakukan jemaat, maupun hamba Tuhan. Ini disampaikan Oudita Hutabarat, Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama, dalam Pembukaan Kongres X GGBI di Garden Palace Hotel pada Selasa malam, 10 Maret 2015.

“Meski event ini digelar secara rutin sesuai AD/ART GGBI, ini adalah sarana istimewa, yakni sebagai wadah evaluasi selama lima tahun yang lalu, sekaligus wadah pengambulan keputusan untuk kebijakan selama lima tahun ke depan,” kata Oudita.

Ia menilai, kemitraan antara pemerintah dan lembaga-lembaga keagamaan harus terus ditingkatkan. Karena pemerintah tidak dapat bergerak sendiri dalam mengawal spiritual bangsa, tetapi juga melibatkan masyarakat, termasuk lembaga-lembaga keagamaan yang sangat strategis dan langsung dekat dengan umat.

“Kementerian Agama, khususnya Bimas Kristen, mengucapkan terima kasih kepala lembaga-lembaga Kristen, khususnya GGBI, karena selama ini telah membangun iman jemaat kepada Tuhan Yesus Kristus,” katanya, “Hal ini tentu sangat berdampak pada nilai-nilai sosial dan moral masyarakat, serta kemajuan bangsa Indonesia”

Bimas Kristen juga memberikan apresiasi kepada GGBI yang telah memberikan sumbangsih pada banyak hal. Lembaga Baptis tidak hanya memberkati Indonesia melalui iman, tetapi juga diimplementasikan dengan terjun langsung di bidang pendidikan dan kesehatan.

Oudita menjelaskan, saat ini Indonesia sedang dihadapkan pada beberapa masalah mendesak. Salah satunya dalam sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) di Kalimantan Utara pada pekan lalu, gereja diminta ikut terlibat dalam menanggulangi kemiskinan, ketidakadilan, dan radikalisme.

Oudita yakin, GGBI merupakan salah satu organisasi yang sehat dan berusaha menjadi yang lebih baik. “GGBI adalah aset yang penting bagi bangsa Indonesia. Selamat berkongres, Tuhan Yesus Kepala Gereja, akan menolong dan menguatkan kita,” pungkasnya. (SB/Luana Yunaneva)

Surabaya, “Putri” yang Sedang Merias Diri

Kota Surabaya ibarat seorang putri yang bersiap diri menyambut para peserta Kongres X GGBI pada 10 sampai 13 Maret 2015. Ini disampaikan Pdt. Daniel Royo Hariyono, Ketua Panitia Kongres X GGBI pada pembukaan kongres di Garden Palace Hotel Surabaya tadi.
Selama ini seluruh panitia sudah bekerja semaksimal mungkin, sehingga diharapkan acara ini dapat berjalan sehati dan sepikir untuk menjadi Baptis yang bergandengan tangan, mewujudkan hakekat gereja sebagai garam dan terang dunia. Hal tersebut sesuai tema kongres tahun ini, yaitu “Memperkokoh Keluarga Besar Umat Baptis Indonesia Memperluas Jangkauan Pelayanan (Yesaya 54:2-3; Efesus 4:1-6).
Gembala Sidang GBI Peniel Surabaya tersebut mengajak keluarga besar GGBI memperkokoh pondasi dan menebarkan karunia rohani, sehingga menjadi berkat bagi seluruh insan di dunia. Saat ini gereja harus menyadari, ladang sedang luas terbentang dan menanti respon gereja-gereja Tuhan, untuk siap dipetik dan dibawa pulang. Untuk itu Pdt. Royo berharap, gereja-gereja baptis tidak tertutup, tetapi dapat lebih mengikuti globalisasi dan memperluas jangkauan di masa mendatang (SB/Luana Yunaneva)

Hari Pertama Kongres, Peserta Kelelahan

Jelang Kongres X GGBI | 10 – 13 Maret 2015

KONGRES, TEMPAT MENIKMATI KEBERSAMAAN BAPTIS

Jelang Kongres X Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) 10-13 Maret 2015, terlontar harapan agar acara lima tahunan ini tidak hanya untuk “ketok palu” dan memilih para pimpinan Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI, Badan Perwakilan Gereja (BPG) GGBI, Yayasan Baptis Indonesia (YBI), dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI). Menanggapi hal itu, Ketua Panitia Pelaksana Kongres X GGBI Pdt. D. Royo Haryono mengemukakan, agar keputusan dan ketetapan-ketetapan kongres sesuai kehendak Tuhan dan umat, para peserta seharusnya mempersiapkan diri secara rohani. Selain itu, lanjutnya, peserta juga siap membahas materi-materi kongres dengan kritis, cermat, bijaksana, juga disiplin dalam penggunaan waktu.

Jika persiapan tersebut dilakukan, tandasnya, pastilah kongres tidak hanya “ketok palu” dan memilih organ-organ GGBI.

“Namun demikian kongres perlu konsisten dengan berbagai hal yang mungkin memang sudah pernah disepakati dan diputuskan pada sidang BPG tahunan sehingga mungkin dapat langsung dilanjutkan. Mengenai pemilihan organ GGBI, semestinya telah ada mekanisme yang disepakati saat sidang BPG tahunan. Gereja-gereja telah berdoa meminta hikmat kepada Tuhan Yesus,  melihat kembali persyaratan-persyaratan alkitabiah tentang pemimpin dan kepemimpinan rohani, kemudian memilih calon-calon, mengirimkan para bakal calon pemimpin, kemudian dibahas untuk diputuskan bersama dalam kongres yang rohani,” kata Pdt. Royo kepada Luana Yunaneva dari Suara Baptis.

Pdt. Royo mengatakan, sampai akhir Januari 2015, panitia pengarah dan panitia pelaksana sudah memesan tempat dan melunasi biaya akomodasi untuk 400 peserta di Garden Palace Hotel, lokasi kongres. Perizinan pun sudah diurus pihak hotel. Bahkan Gubernur Jawa Timur H. Soekarwo memberikan dukungan dan menerima kehadiran pimpinan GGBI dan panitia pelaksana di rumah dinas gubernur, Gedung  Grahadi.

Peserta kongres juga sudah memenuhi kuorum (jumlah minimal anggota yang harus hadir dalam kongres), yakni 50 persen gereja anggota GGBI plus 1 gereja. Dari 268 gereja, sampai 30 Januari 2015 sudah tercatat 220 gereja yang mendaftarkan diri.

Kongres juga dipastikan akan dihadiri para mantan pimpinan GGBI, tamu dari luar negeri seperti Amerika Serikat (Dallas Baptist University, International Baptist Mission, Indonesia Baptist Fellowship), Hongkong Baptist Church, dan International Baptist Church Singapura.

Konsep materi kongres sudah berada di tangan panitia pelaksana dan sudah siap digandakan. Namun karena sosialisasi materi di daerah-daerah belum tuntas dan sedang berjalan, hasilnya akan di dilampirkan. Sementara pendanaan dipastikan akan tercukupi dari dukungan gereja-gereja di dalam dan luar negeri, badan-badan pengurus daerah, lembaga-lembaga Baptis, YBI, YRSBI, BPN GGBI, BPG GGBI para mitra luar negeri, para donatur bahkan anggota panitia pelaksana sendiri.

“Kelengkapan-kelengkapan penunjang yang bersifat teknis dalam pelaksanaan sedang dikerjakan menuju kesiapan 100 persen, mulai perizinan, buku acara, lagu tema, petugas, para pembicara dari dalam maupun luar negeri. Pembicara dari luar negeri dipilih dari konvensi Baptis yang sudah menjalin kerja sama dengan GGBI. Sedangkan pembicara dari dalam negeri adalah orang-orang Baptis yang memiliki integritas, teruji kegerejaannya, kebaptisannya, berorganisasinya, wawasannya, kemasyarakatannya, dan keterlibatan pelayanan di gereja lokal, lembaga, dan organisasi GGBI,” ujar Pdt. Royo.

Dalam acara pembukaan kongres, akan dimainkan beragam penampilan dari keluarga besar GGBI antara lain Tari Remo oleh anak-anak Surabaya, paduan suara Badan Pengurus Daerah (BPD) Surabaya, musik etnik perkusi dan paduan suara dari 120 anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Setia Bakti Kediri, tari-tarian tradisional oleh mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Baptis Kediri dan Sekolah Dasar (SD) Kristen Baptis di Surabaya. Gubernur Jawa Timur juga telah berjanji akan memberikan kata sambutan dalam acara ini.

Idealnya, demikian Pdt. Royo, gereja-gereja anggota GGBI mengirimkan utusan ke kongres sesuai  Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) GGBI. Kongres merupakan kekuasaan tertinggi dalam pengambilan keputusan GGBI. Dalam kongres sebelumnya di Lembang, Jawa Barat tahun 2010, gereja-gereja telah memutuskan Surabaya menjadi tuan rumah Kongres X GGBI 2015.

“Karena itu panitia pelaksana tidak pernah lelah mengingatkan, memotivasi, memfasilitasi, dan mencari solusi bersama gereja-gereja agar yang ideal itu dapat dicapai.  Jika ada masalah internal, gereja dapat berkoordinasi dengan panitia pelaksana. Kami pun terus proaktif menelepon gereja dan lembaga-lembaga dalam tubuh GGBI agar terlibat,” ujar Gembala Sidang GBI Peniel Surabaya ini.

Notulis persidangan yang akan berperan penting dalam kongres, terdiri dari anak-anak muda di Surabaya dibantu beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Baptis Indonesia (STBI) Semarang. Pelibatan mahasiswa STBI bukan karena Surabaya kekurangan sumber daya, tetapi panitia ingin memberi kesempatan kepada para mahasiswa ikut dalam proses berorganisasi di GGBI.

Mahasiswa STBI juga akan mengambil bagian lainnya seperti memimpin ibadah, puji-pujian, dan lain-lain. Para notulis juga akan dibantu staf BPN GGBI yang kesehariannya terlibat dalam pelayanan administrasi GGBI. Dengan demikian, mereka pun dapat mengetahui proses dari keputusan-keputusan yang dihasilkan.

Pdm. Candra Agung Pambudi, salah satu anggota panitia acara dan ibadah  mencatat, setidaknya sudah 10 orang bersedia menjadi notulis dari kebutuhan 20-25 notulis. Pihaknya akan mengevaluasi, apakah kebutuhan notulis mencapai sebanyak itu atau tidak. Adapun syarat menjadi notulis antara lain memiliki laptop pribadi, mampu mengetik dengan cepat dan teliti, terlebih mereka dituntut cermat mendengarkan dan mengecek hasil rekaman.

“Rencananya, panitia pelaksana akan mengadakan pelatihan khusus untuk para notulis sebanyak dua kali,” jelas Pdm. Candra.  “Nantinya mereka akan mendapatkan wawasan sehubungan pelayanan gereja, istilah-istilah teologi, tahapan sidang, dan pembagian tugas. Saya berharap, dengan pelatihan khusus ini, hasilnya benar-benar sesuai hasil sidang.”

Pdt. Royo berpesan, para calon notulis tidak perlu ragu dan khawatir karena panitia menyediakan alat perekam sebagai cadangan dalam proses persidangan komisi maupun pleno. Tim dari dewan pimpinan sidang pleno dan komisi pasti juga akan menulis secara rinci. Nantinya, hasil kerja notulis, tim dewan pimpinan sidang, dan rekaman akan disatukan untuk meminimalkan kesalahan pengutipan dan penulisan hasil sidang. Alat perekam audio akan mendokumentasikan seluruh proses persidangan, sedangkan video hanya dikontrak berdurasi 10 sampai 15 jam, dan dititik beratkan pada pembukaan dan penutupan acara. Sisanya hanya bersifat dokumentasi.

Pdt. Royo berharap, GGBI benar-benar disadari sebagai lembaga rohani wadah umat, gereja dan lembaga untuk melayani dan mengemban amanat Tuhan Yesus. Maka, seharusnya semua agenda rapat dalam kongres benar-benar berada dalam kepatuhan terhadap firman Tuhan, mengedepankan hikmat Roh Kudus, serta didasarkan pada rasa dan semangat sebagai keluarga rohani.

“Itu artinya pembicaraan disampaikan dengan taktis, strategis, penuh kasih dan dikuasai hikmat Tuhan,” katanya.

Ia berharap, para utusan menikmati setiap agenda dengan penuh sukacita karena kongres bukan sekadar rapat besar, melainkan wadah berkumpulnya keluarga rohani para gembala sidang, pendeta, pimpinan lembaga, pengurus, dan umat Tuhan pada umumnya. Dengan begitu, semua seharusnya menikmati kebersamaan, saling membagi dan memperkaya satu sama lain selama acara ini berlangsung.

“Kalau kongres dijiwai tingkat kerohanian tinggi, bernuansakan kasih, disemangati rasa kekeluargaan, maka keputusan-keputusan dan ketetapan-ketetapan berdasar yang bijaksana, cerminan kepatuhan dan ketundukan pada Firman Tuhan dan keberpihakan pada gereja-gereja lokal untuk dapat semakin bertumbuh dan berkembang, akan dihasilkan.  Selanjutnya semua komponen GGBI akan menjaga komitmen dan konsistensinya untuk mengimplementasikan setiap keputusan dan ketetapan yang sudah mereka hasilkan dalam kongres demi kemuliaan Tuhan Yesus Gembala Agung, Kepala Gereja. Selamat datang di Surabaya, kami akan menyambut dengan kegembiraan,” kata Pdt. Royo mengakhiri perbincangan.

SB/luana