JENDELA | GEREJA DI TENGAH GEMURUH PERGUMULAN

Salah satu topik pemberitaan riuh menjelang pergantian tahun 2015 ke 2016 adalah pemberlakuan Pasar Bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tepat pada 31 Desember 2015, Indonesia dan sembilan negara anggota Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) menyepakati pemberlakuan MEA. Dengan demikian, Indonesia bersama Brunei, Filipina, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand dan Vietnam bersepakat meminimalkan hambatan-hambatan kegiatan ekonomi dalam kawasan ASEAN, seperti dalam perdagangan barang, jasa, investasi dan lalu-lintas tenaga kerja. Semua ini dilakukan untuk meningkatkan kemakmuran negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Topik MEA ini lebih menyita perhatian para pelaku industri, pengamat ekonomi dan politik. Sementara kalangan gereja dan pendidikan teologi cenderung dingin menanggapinya.

Ada beberapa alasan logis, memang. Pertama, MEA lebih berdampak langsung pada dunia industri yang dengan sendirinya  mempengaruhi situasi ekonomi dan politik. Misalnya, MEA akan mendorong negara-negara di Asia Tenggara menjadi wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Itu sebabnya, lalu lintas barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja terampil akan meningkat secara bermakna.

Kedua, dampak tidak langsung di luar sektor ekonomi dan politik menyebabkan keraguan, benarkah gelombang pasar bebas MEA sungguh-sungguh berpengaruh kepada kehidupan gereja? Bagi gereja-gereja yang berada jauh dari hiruk-pikuk industri, keraguan seperti ini tentu terasa kuat. Namun sikap hening kalangan gereja di kota-kota besar dan daerah industri terhadap pasar bebas MEA ini memunculkan kerisauan. Jangan-jangan, kita tidak menyadari situasi-situasi kritis yang muncul berkaitan dengan MEA tersebut.

Salah satu bentuk konkret MEA adalah pembebasan bea masuk (freight forwarding) ke setiap negara anggota ASEAN. Sejumlah kalangan mencemaskan, pembebasan bea masuk barang ini akan membuat Indonesia semakin kebanjiran produk-produk luar negeri sehingga mematikan industri dalam negeri.

Padahal, kaum usahawan sejak kuartal terakhir 2015 sudah gelisah dengan adanya tuntutan kenaikan Upah Minimum Kota dan Kabupaten (UMK) 2016 yang akan menaikkan biaya produksi, sementara daya beli masyarakat melemah akibat perlambatan ekonomi Indonesia dan dunia. Belum lagi berbagai keluhan terhadap etos kerja dan jam kerja padat karya di Indonesia yang rendah.

Misalnya, jam kerja di Vietnam jauh lebih tinggi ketimbang di Indonesia, yakni 48 jam berbanding 40 jam seminggu. Sementara upah tenaga kerja di sana lebih murah daripada Indonesia dan tidak pernah terjadi pemogokan dan ribut-ribut ketika menuntut kenaikan upah. Tak heran, investor lebih melirik Vietnam daripada Indonesia (www. bisniskeuangan.kompas.com).

Kita sudah mengalami pengalaman pahit sejak enam tahun terakhir akibat membanjirnya produk China di Indonesia. Gelontoran barang-barang China ini bahkan mengalir sampai jauh ke pasar-pasar di pedesaan berupa makanan ringan, mainan, peralatan rumah tangga, peralatan pertanian, pakaian dan banyak jenis lainnya. Banyak kalangan terkaget-kaget lantaran tidak memahami, mengapa semua tiba-tiba berubah. Akibatnya bisa diduga, para pelaku industri yang tidak siap akhirnya bangkrut dan terjadi banyak pemutusan hubungan kerja (PHK).

Banyak yang tidak menyadari situasi yang terjadi tersebut sebagai dampak pemberlakuan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China atau ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) mulai 1 Januari 2010. Sejak hari itu sampai hari ini, industri dalam negeri belum beranjak maju.  Badan Pusat Statistik mencatat, tahun 2009 total impor Indonesia (berupa bahan baku penolong, barang modal, dan barang konsumsi) mencapai US$ 96,829 miliar. Nilai impor ini terus naik hingga pada tahun 2013 yang mencapai US$ 186,631 (www. bisnis.news.viva.co.id).

Berbagai tekanan yang menggempur dunia usaha dalam negeri sejak awal 2010 semakin terasa berat setelah pemberlakukan MEA, anjloknya harga minyak dunia dan berbagai akibat krisis ekonomi global. Salah satu dampaknya, gelombang PHK kembali terjadi pada kuartal pertama 2016. Data PHK versi Kementerian Ketenagakerjaan yang diungkapkan pada 11 Februari 2016 menyebut, per Januari 2016 terjadi PHK di lima daerah (DKI Jakarta, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kabupaten Bandung) yang menyebabkan 1.377 orang kehilangan pekerjaan. PHK terbanyak terjadi di DKI Jakarta, yakni mencapai 1.047 pekerja (www.bisnis.tempo.co). Sementara Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut, 12.680 pekerja di-PHK sepanjang Januari hingga Februari 2016 (www.bbc.com).

Meski Kementerian Ketenagakerjaan mengatakan, tidak semua data PHK yang dirilis KSPI adalah valid, adanya PHK secara masif adalah kenyataan di depan mata kita. Dari masalah ketenagakerjaan saja kita menjadi tahu bagaimana ribuan orang telah menjadi penganggur pada dua bulan pertama tahun 2016. Masalah penganguran ini akan dapat menimbulkan pelbagai persoalan lain, seperti tingkat stres yang meningkat, bertambahnya kasus kriminalitas, makin besarnya potensi terorisme dan intoleransi beragama, dan berbagai masalah akibat naiknya angka kemiskinan.

Namun setiap perubahan juga menyediakan kesempatan-kesempatan baru bagi yang siap. Aliran investasi dalam jumlah besar yang masuk ke negeri kita dan pembangunan infrastruktur di berbagai pulau seperti Sumatra, Papua, Kalimantan Utara seharusnya akan memunculkan peluang-peluang usaha baru. Kemudahan terhadap lalu lintas tenaga kerja juga memberikan kesempatan berkarier bagi orang-orang yang mau terus belajar dan siap bersaing dalam efektifitas kerja.

Dalam keadaan baik maupun suram, panggilan gereja sebagai garam dan terang dunia tetap lantang. Dalam pergumulan perubahan yang terus bergemuruh, gereja harus mampu memperlihatkan adanya harapan-harapan yang tersedia bagi setiap orang yang hidup taat kepada Tuhan.

Untuk mampu melakukan peran penting tersebut, gereja perlu membuka hati dan pikiran terhadap berbagai perubahan dan terus meningkatkan kemampuannya menanggapi perubahan zaman secara tepat.

Salam.

Redaksi

EMBUN PAGI | MBAH TERLALU SAYANG DILEPASKAN

Naning Suryanto*)

Saya temukan sobekan kertas kecil di antara tumpukan surat-surat Ibu, yang ternyata bertuliskan curahan isi hati beliau. Ditulis Ibu beberapa waktu setelah Mbah (Ibu dari Bapak) jatuh dan mengalami patah tulang pada pangkal pahanya. Dengan segala upaya, Ibu telah merayu Mbah untuk dibawa ke rumah sakit, namun Mbah bersikeras untuk tetap di rumah.

————————————-

Semarang, 10 Oktober 1985

Tuhan, aku akan hancur lebur berantakan tanpa arti, tanpa campur tangan-Mu.Aku dengan segala daya kemampuan, kekuatan tubuhku, pikir, dan perasaanku, aku tak sanggup menghadapi mbah.

Tuhan, aku sungguh takut kepada-Mu. Aku tak mau membuat celaka kepada Mbah, apalagi akan menjadikan sebab kematian Mbah. Aku tidak mau dia mati di luar …. kehendak Tuhan, di luar waktu Tuhan. Kalau Engkau menghendaki memanggil dia, aku sangat (rindu) dia mati di dalam Tuhan. Dalam kesadaran penuh akan panggilan dan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Dalam kesadaran penuh bahwa Engkau memimpin jalan kekekalan yang dilaluinya.

Tuhan, aku tak layak. Aku manusia biasa dari tanah liat. Tak ada satu kemuliaan atau keistimewaan apa pun. Aku hanya tanah liat yang mudah pecah dan hancur berantakan.

Tapi biarlah nyata, kalau ada kemuliaan, itu hanya kemuliaan Tuhan. Kalau ada kekuatan, itu hanya kekuatan Tuhan.

Biarlah sekarang aku tetap betul-betul yakin bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan aku dicobai melebihi kekuatanku. Hanyalah kekuatan-Mu saja, maka betul-betul kekuatan itu luar biasa, tak terkalahkan.

Terima kasih, Tuhan.

————————————-

Lalu ingatan saya melayang. Beberapa puluh tahun yang lalu, saat masih SMA, saya sempat membaca tulisan Ibu. Saya baru sadar bahwa masa-masa itu ternyata memang terlalu berat untuk Ibu pikul sendiri.

“Mbah”, demikian kami memanggil Ibu dari Bapak. Sejak awal Mbah memang tinggal bersama kami karena Bapak adalah anak kesayangannya (Bapak adalah anak bungsu dari dua bersaudara). Bahkan ketika Bapak meninggal, Mbah memilih untuk tetap tinggal bersama kami, padahal waktu itu Pakdhe (kakak laki-laki Bapak) masih hidup. Pakdhe tinggal di Kediri, kota asal keluarga Mbah. Meski jauh dari keluarga besar, Mbah tetap memilih untuk tinggal bersama menantu (ibu saya) dan enam cucunya di Semarang.

Sebenarnya mengajak Mbah ke gereja, cukup merepotkan karena Mbah tidak bisa diajak berjalan dengan cepat. Ditambah lagi, Mbah buta huruf dan sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya bisa berbahasa Jawa.

Sepulang dari gereja, beberapa kali saya tanya, “Mbah, tadi khotbahnya apa?”

Mbah sering menjawab, “Mbuh, ra ngerti (entahlah, tidak tahu, red.).”

Tetapi Ibu tetap rindu, Mbah bisa merasakan persekutuan di gereja. Dan Mbah sendiri juga mau setiap kali diajak ke gereja. Sampai Mbah betul-betul tua dan kesulitan berjalan agak jauh ke gereja. Waktu itu kami sebagai anak-anak cukup berjalan kaki ke Gereja Baptis Indonesia (GBI) Bulu, yang paling dekat dengan rumah.

Sampai akhirnya, terjadilah…..

Waktu itu Mbah mengidap penyakit demensia atau pikun. Siang atau malam pun Mbah bisa tiba-tiba lupa.

Suatu hari di tengah malam, Mbah keluar dari kamarnya lalu,tiba-tiba …bruk! Mbah jatuh!

Dan itulah awal pergumulan berat Ibu untuk merawat Mbah selama lebih dari dua tahun. Ketika Ibu sampaikan musibah ini kepada keluarga besar Mbah di Kediri, mereka pun tidak bisa banyak membantu. Seakan semua beban ada di pundak Ibu. Dengan kemampuan finansial dan daya yang ada, Ibu pun berusaha merawat Mbah di rumah.

Karakter yang keras ditunjang pengetahuan yang terbatas, membuat Mbah sulit menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa berjalan pada bulan-bulan pertama. Bahkan tak jarang Mbah minta mati saja. Walau tergeletak di atas tempat tidur, sering kali Mbah mendadak uring-uringan. Tidak ada di antara kami yang kuat menjaga Mbah selama 24 jam penuh. Apalagi kalau pikunnya kambuh,  Mbah bisa minta yang aneh-aneh. Kalau tidak dituruti, beliau marah-marah. Saya sering melihat Ibu juga menjadi sasaran kemarahannya.

Ibu semakin tidak punya waktu untuk beristirahat. Setiap hari beliau menyuapi, memandikan, mencuci sprei, selimut yang kena “ompol” Mbah, dan lain-lain.  Ibu juga menyediakan waktu untuk sekadar menemani Mbah di kamar supaya ada yang diajak ngobrol.

Saya sendiri sering menjadi jengkel. Saat menemani Mbah, bisa muncul halusinasinya. Kalau sudah begitu, Mbah akan ngajak ngobrol yang aneh-aneh. Dibantah, marah. Dibiarkan, semakin ngelantur ke mana-mana. Tak jarang kami sebagai cucunya memilih keluar dari kamar Mbah dengan hati dongkol. Tidak ditemani, kasihan. Tetapi kalau ditemani, kok malah bikin kesal. Sering kali saat sendirian, Mbah berteriak memanggil cucu-cucunya. Itulah Mbah di tahun pertama kami merawatnya.

Pada masa itu, adanya suster penjaga, tenaga fisioterapis, popok modern, dan kursi roda untuk Mbah adalah kemewahan buat Ibu, namun sungguh tak terjangkau buat kami. Ya, tidak ada pilihan bagi kami, selain memberikan tenaga dan “perasaan”, untuk merawat seumur hidup Mbah.

Memasuki tahun kedua, penyakit demensia Mbah semakin berat. Mbah nyaris tidak mengenali kami, satu per satu cucunya. Pembicaraan Mbah sering berkisar pada ingatan jangka panjang selama  puluhan tahun yang lalu, di antaranya tentang saudara-saudara dari keluarga besar di Kediri yang sebagian besar merupakan nama-nama yang asing di telinga kami. Lantaran memang kami tidak pernah bertemu. Alhasil jika saya menemani Mbah, ya udah, saya ngobrol mengikuti imajinasi beliau. Eh, ternyata kami malah bisa nyambung.

Taktik komunikasi ini saya pakai untuk menyuapi beliau, padahal saya sama sekali tidak mengerti siapa yang sedang kami bicarakan. Bila Mbah sendirian di kamar dan hendak memanggil seseorang, Mbah akan berteriak memanggil sebuah nama yang tidak kami kenal, sampai salah satu dari kami datang menemani.

Karena ketidakmengertian kami, pelan-pelan keadaan Mbah makin terpuruk. Dengan posisi kaki hampir selalu menekuk, lututnya jadi kontraktur (mengutip kamuskesehatan.com, kontraktur adalah  terbatasnya mobilitas sendi sebagai akibat dari perubahan patologis pada permukaan sendi atau jaringan lunak yang secara fungsional berhubungan dengan sendi, red.).

Mbah mengalami komplikasi akibat berbaring berkepanjangan, yaitu decubitus (menurut Ensiklopedia Indonesia, decubitus adalah matinya jaringan karena jaringan darah pada suatu bagian kulit dirintangi tekanan terus-menerus sebagai akibat duduk terlalu lama, kondisi koma, atau imobilitas, red.). Waktu itu kami, khususnya Ibu, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang Ibu tahu hanya merawat dengan penuh perhatian, tanpa saran-saran medis. Misalnya, merawat luka decubitus tersebut sebisanya, mulai mengganti balutan, mencoba menggerakkan dan memiringkan tubuh Mbah.

Keadaan Mbah semakin lemah, apalagi beliau mulai tidak mau makan. Saya rayu seperti apa pun, Mbah bersikukuh mengatupkan mulutnya. Keadaan ini membuat daya tahan tubuhnya semakin lemah. Akibatnya, di bulan-bulan terakhir Mbah terkena Bronchopneumonia atau peradangan akut pada bronkiolus. Pada hari-hari terakhirnya, Mbah benar-benar tidak mau makan, termasuk minum obat. Minum pun hanya beberapa sendok.

Saya bisa melihat gurat-gurat kesedihan di wajah Ibu melihat mertuanya yang semakin lama semakin lemah. Di ujung “jalan buntu”, ketika Ibu pergi ke pasar mencari bubur bayi untuk Mbah, Tuhan memberikan pengertian kepada Ibu bahwa Mbah lebih memerlukan pelayanan rohani di hari-hari akhirnya.

Sejak saat itu, saya lebih sering melihat Ibu bersimpuh di pinggir ranjang Mbah untuk berdoa. Tak jarang Ibu mengajak Mbah untuk ikut berbicara dengan Tuhan, juga membaca Alkitab dalam bahasa Jawa. Karena tubuhnya lemah, sepertinya Mbah tidak banyak memberikan tanggapan. Tetapi Ibu tetap mau menghabiskan waktu berjam-jam dengan Mbah.

Pada suatu malam, saya melihat Ibu tidak beranjak dari tempat tidur Mbah. Ibu berdoa semalaman, sambil sesekali memeluk beliau. Ternyata, itulah malam terakhir Mbah. Besok siangnya, sepulang dari sekolah, beliau mengembuskan napas terakhirnya.

Saya baru mengerti, inilah alasan terbesar buat Ibu untuk merawat Mbah seumur hidupnya, yaitu demi menjaga iman Mbah sampai Tuhan memanggil. Karena semestinya waktu itu (sejak Bapak meninggal) ada yang lebih berhak merawat Mbah, yaitu kakak kandung Bapak di Kediri. Tetapi Ibu rela mengambil tanggung jawab itu. Selain karena memang kemauan Mbah, Ibu terbeban dengan pertumbuhan iman Mbah yang baru beberapa tahun percaya Tuhan, sudah ditinggal “pergi” anak kesayangan untuk selama-lamanya. Ibu rela menjalani 14 tahun yang penuh tantangan bersama Ibu mertuanya. Sampai akhirnya, Mbah pulang ke dalam kekekalan di dalam Tuhan.

Keluarga besar Bapak belum mengenal Tuhan. Setelah Bapak percaya Tuhan Yesus, Bapak sangat rindu memenangkan ibunya. Maka terjadilah pada 21 Februari 1965, Mbah yang bernama Marjam Somowardojo dibaptis di GBI Setia Bakti, Kediri oleh anaknya sendiri. Kartu baptisan Mbah pun masih disimpan Ibu.

Merawat mertua seperti sebuah amanat buat Ibu. Walau hidup sehari-hari tidak mudah untuk Ibu sendiri dan anak-anaknya, Mbah terlalu berharga untuk dilepaskan. Karakter Mbah yang sangat keras, tidak mudah diberi pengertian, bahkan tak jarang mencela Ibu, menjadi tantangan tersendiri yang harus beliau lewati untuk tetap tulus mengasihi mertuanya sampai akhir. Ibu rindu melihat Mbah mencapai garis akhir dengan baik dan tetap memelihara imannya di dalam Tuhan Yesus yang telah menyelamatkannya. Ketika “hari itu” tiba, Ibu dapat mengatakan, “Sudah selesai.”

Satu amanat sudah Ibu selesaikan. Sekali lagi, bukan dengan kekuatan Ibu melainkan dengan kekuatan Tuhan yang memampukan Ibu untuk mengerjakannya sampai akhir.

*)Penulis: adalah dokter umum, anggota GBI Peterongan Cabang Klepu, Jawa Tengah

Editor: Luana Yunaneva

Embun Pagi | KEHILANGAN ALKITAB KENANG-KENANGAN DARI BAPAK

Naning Suryanto*)

Setiap kali memperingati ulang tahun Gabungan Gereja Baptis Indonesia Indonesia (GGBI, setiap 12 Agustus, red.),  ingatan saya melayang ke Bapak. Mungkin… karena dulu sewaktu saya masih kecil, beberapa pendeta bercerita bahwa Bapak punya kiprah dalam terbentuknya GGBI. Dan Bapak sangat getol untuk memajukan peginjilan di Indonesia, terutama melalui konsep “Keluarga Besar GGBI”.

Di mana saya waktu itu? Saya masih terlalu kecil untuk dapat memahami panggilan pelayanan Bapak, masih terlalu kecil untuk ikut mengerti konsep “keluarga besar” seperti yang ada dalam benak Bapak. Terlalu kecil untuk dapat ikut merasakan gairah Bapak dalam ber-GGBI (walaupun terhitung sangat singkat)…

Sampai saya besar, saya kenal wajah Bapak hanya dari foto-foto beliau. Saya kenal kisah hidup Bapak hanya sepenggal-sepenggal dari cerita Ibu dan dari kata orang.

Ibu memang bercerita kepada kami tentang Bapak, hidupnya dan pelayanannya, supaya kami, anak-anaknya, mengenal Bapak. Namun secara detail, bagaimana kiprahnya, bagaimana situasinya dulu dan apa tantangan yang dihadapi Bapak, saya tidak banyak mendengar dari Ibu. Jadi bisa dibilang, saya nyaris tidak tahu apa-apa tentang pelayanan Bapak.

Malu sebenarnya untuk mengakui, bahwa saya anak Pdt. Mulus Budianto, tetapi saya tidak banyak tahu sepak terjang pelayanan Bapak di GGBI! Saya tidak banyak tahu pengajaran Bapak. Justru dari orang-orang lain (pendeta-pendeta Baptis, teman-teman Bapak) saya sering mendengar cerita suka duka pelayanan Bapak. Tetapi tetap saja menjadi potongan-potongan puzzle yang tidak utuh….

Namun bagaimana pun juga, Bapak telah memberikan warisan yang sangat berharga buat kami, anak-anaknya. Sejak saya kecil, bahkan saat belum bisa membaca, saya sudah punya Alkitab (Perjanjian Baru). Di Alkitab itu, pada halaman pertama tertulis (dalam huruf cetak) “Kenang-kenangan dari Pdt. Mulus Budianto untuk anakku: Phebe Setyaning Karti”. Kemudian tertera tanda tangan Bapak (dalam bentuk stempel): “Pdt. Mulus Budianto”.

Ternyata semua anak Ibu juga memiliki Alkitab seperti saya, yang tertulis nama mereka masing-masing. Ketika sudah bisa membaca, saya bertanya kepada Ibu, apakah ini tulisan tangan Bapak?

Ibu menjawab, itu bukan tulisan tangan Bapak tetapi tulisan Ibu sendiri (biasanya Ibu menulis dalam huruf Latin, sih… jadi saya tidak mengenalnya). Ibu memang sengaja menulis dengan cara yang berbeda karena ide pemberian Alkitab ini datang dari Bapak. Ternyata ada cerita istimewa di balik keberadaan Alkitab itu…

Kira-kira setahun sebelum Bapak meninggal, menurut penuturan Ibu, Bapak memberikan suatu “pesan”. Waktu itu sepulang memimpin ibadah pemakaman seseorang, Bapak bercerita, ia melihat begitu banyak karangan bunga bela sungkawa. Padahal karangan bunga tersebut sebentar akan rusak, layu lalu terbuang sia-sia.

Dari situ muncul ide Bapak dan sekaligus sebuah “pesan” kepada Ibu: Seandainya Bapak lebih dulu dipanggil Tuhan, kalau ada yang ingin mengucapkan bela sungkawa, janganlah mereka menyumbang karangan bunga. Bapak ingin, ucapan bela sungkawa mereka diwujudkan dengan menyumbang Alkitab. Nanti Alkitab-alkitab yang terkumpul itu dibagi-bagikan kepada banyak orang. Jadi, uangnya tidak terbuang percuma. Sebaliknya, Firman Tuhan yang dibagikan pasti memberikan berkat. Dan  yang penting, dapat berdampak kekekalan pada mereka yang mau sungguh-sungguh menerimanya.

Ibu hanya menyimpan “pesan” itu dalam hati. Waktu itu, Ibu sama sekali tidak menyangka bahwa saatnya tidak lama lagi…

Ketika saatnya datang, Ibu benar-benar mewujudkan kerinduan Bapak untuk membagikan Alkitab kepada orang-orang di sekitar acara pemakaman Bapak. Termasuk tukang-tukang becak yang lagi nongkrong di pinggir jalan.

Pernah suatu hari, kira-kira seminggu setelah acara pemakaman Bapak, seorang tukang becak datang di rumah kami di Jalan Arjuna No. 37 Semarang. Tukang becak ini khusus datang untuk meminta Alkitab! Karena teman-temannya dapat, kok dia belum dapat!

Puji Tuhan, masih ada Alkitab yang bisa diberikan Ibu kepada tukang becak ini. Jika orang lain saja diberi, maka Ibu sisihkan enam buah Alkitab untuk anak-anaknya sebagai kenang-kenangan dari Bapak…

Kecintaan untuk membagikan Injil kepada sebanyak mungkin orang, terus Bapak lakukan. Bahkan pada saat embusan napas terakhir, Bapak rindu momen itu diisi dengan membagikan Alkitab kepada sebanyak mungkin orang.

Itu sebabnya Alkitab kenang-kenangan dari Bapak, menjadi sangat berharga buat saya. Saya sangat suka menatap lekat-lakat tulisan di halaman pertama itu. Setiap kali saya membaca Alkitab itu, setelah membuka halaman pertama, saya dapat merasakan, Bapak pasti senang melihat saya membaca Alkitab kenang-kenangan darinya.

Setiap kali saya bepergian, tidak tidur di rumah, selalu Alkitab ini saya bawa dalam tas, entah ke rumah saudara atau ikut retret. Walau kemudian saya punya Alkitab lain (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), saya tetap membawa Alkitab dari Bapak.

Suatu kali saat ikut retret ke luar kota, saya bersama teman-teman berangkat ke Yogyakarta dengan bus umum. Berdesak-desakan kami berdiri di dalam bus, tas-tas dijadikan satu ditumpuk di bagian belakang. Saat turun pun kami berdesak-desakan.

Setelah turun semua, baru kami sadar kalau tinggal tas saya yang belum ikut diturunkan. Tetapi bus sudah telanjur kencang berlalu….

Baju dan lain-lain mudah saja diganti yang baru. Satu-satunya yang saya sesali waktu itu adalah kehilangan Alkitab kenang-kenangan dari Bapak! Saya tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Saya tidak akan pernah bisa melihat lagi tulisan “… untuk anakku Phebe Setyaning Karti…” Dan bagi saya, waktu itu, Alkitab itu tak pernah bisa tergantikan!

Ibu menghibur saya, bahwa Alkitab dari Bapak pasti akan ditemukan orang  lain. Dan berdoalah, agar itu menjadi berkat baginya. Jadi kehilangan saya tidak sia-sia…

Ada pelajaran yang sangat berharga di balik peristiwa itu. Tanpa saya sadari, saya mengultuskan Bapak melalui Alkitab kenang-kenangan itu. Ketika Alkitab itu “dirampas” dari hidup saya, saya merasa seperti kehilangan. Paling tidak semangat saya untuk membaca Alkitab jadi turun.

Ibu menolong saya untuk lebih tajam melihat kejadian ini. Memberitahu saya bahwa itu tidak benar, dan Allah izinkan itu terjadi supaya saya melepaskan diri bayang-bayang Bapak.

Saya harus tetap bersemangat untuk belajar Firman Tuhan seumur hidup saya. Saya harus membaca lebih banyak lagi, berkali-kali lagi, Firman Tuhan. “Semangat” itu tidak akan pernah terampas dari hidup saya dengan hilangnya Alkitab kenangan dari Bapak. Hanya bedanya, saya memang tidak akan pernah memiliki lagi Alkitab yang ada tulisan “….. untuk anakku Phebe Setyaning Karti…”.

Tetapi itu tidak pernah mengurangi kuasa kebenaran Firman Allah! Karena tanda tangan Bapak (apalagi cuma stempel) tidak ada artinya apa-apa. Sejak saat itu saya mulai membiasakan diri, untuk membaca Alkitab “tanpa bayang-bayang Bapak”.

Alkitab kenangan itu mengajarkan saya bahwa Bapak (melalui Ibu) sangat rindu agar kami, anak-anaknya, mencintai Alkitab. Bagi saya itu seperti “pesan terakhir” Bapak buat kami, anak-anaknya. Tetapi kini, kecintaan saya pada Alkitab harus muncul dari dalam diri saya sendiri. Saya punya tanggung jawab sendiri untuk membaca, mempelajari, hidup di dalamnya dan membagi Firman Tuhan buat orang lain.

Tanpa terikat oleh kenangan masa lalu, Tuhan rindu membentuk saya sendiri sesuai kemauan dan rencana-Nya dalam hidup saya. Boleh mengenang Bapak, tetapi jangan sampai mengikatkan diri pada kenangan itu, karena bisa saja saya tidak akan maju satu langkah pun.

Bapak sudah selesai, tetapi saya yang masih hidup harus terus melangkah. Bahkan Ibu mengajarkan prinsip yang penting, yaitu “Bukan karena Bapak”. Saya melayani Tuhan, saya belajar Firman Tuhan, saya memberikan hidup saya buat Tuhan, semata-mata karena cinta saya pada Tuhan. “Bukan karena Bapak”.

Demikianlah, Bapak mewariskan semangatnya kepada saya. Tetapi Ibu yang mengajarkan makna dan memberikan teladannya dalam hidup saya.

Akhirnya… tetaplah bersemangat melayani, GGBI-ku! Bersemangatlah untuk memenangkan banyak jiwa bagi-Nya. Bertumbuh dan makin berkembang dalam kecintaan kita akan Injil. Mengutus makin banyak orang yang mencintai Injil dan rela membaginya dengan orang lain sampai ke pelosok negeri, bahkan berbagai belahan dunia. Rela membayar harga untuk Injil! Biar Dia semakin bertambah, kita makin berkurang, dan semakin tenggelam dalam Kasih-Nya.

GGBI untuk Tuhan Yesus!

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan ALLAH yang menyelamatkan setiap orang yang percaya…” (Roma 1 : 16)

 

*)Penulis adalah dokter umum, anggota GBI Peterongan Cabang Klepu, Jawa Tengah

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

Saatnya Kreasikan Pohon Natalmu

Pohon cemara merupakan salah satu ornamen yang tidak dapat dilepaskan dalam perayaan Natal, baik di gereja, rumah, fasilitas umum, hingga pusat perbelanjaan. Tapi pernahkah Anda bosan dengan ikon pohon Natal yang hanya itu-itu saja?

Kali ini, Tim Suara Baptis (SB) ingin mengajak Anda menampilkan kreasi baru pohon yang tidak lekang oleh musim tersebut. Tentu Anda dapat membuatnya sendiri bersama keluarga, kerabat, dan sahabat terkasih menggunakan bahan-bahan yang mudah dan murah.

Dinding Pohon Natal

  • Bahan-bahan:
  1. Washi tape (bisa diganti dengan selotip warna-warni)
  2. Media (misal: tembok, papan, atau sebagainya)
  • Cara membuat:

1. Tempel selotip pada media membentuk segitiga kecil di bagian atas.

2. Buat lagi segitiga dengan ukuran sedikit lebih besar di bawahnya. Ulangi terus hingga jumlah segitiga dinilai sudah cukup membentuk sebuah pohon mirip cemara.

 

Washi-3-TrianglesDone1-645x471

3. Buat lagi sebuah pohon di sebelahnya, namun dengan pola dasar garis yang membentuk segitiga, seperti contoh berikut:

Washi-4-Stripes-645x429

4. Pohon ketiga dibuat dengan lebih cara paling sederhana

Washi-8-LargeTriangle

5.Beginilah tampilan ketiga pohon secara bersama-sama.

Washi-9-FinalWall-645x429

6. Beri sejumlah kotak kado di dekatnya untuk mempercantik desain ruangan

Washi-10-Final-645x429

Sumber: http://www.brit.co/washi-tape-trees/

Pohon Natal Balut

  • Bahan-bahan:
  1. Styrofoam berbentuk kerucut
  2. Kain
  3. Pin berukuran kecil

fabric+wrapped+trees+supplies

  • Cara membuat:

1. Ambil kain dan tancapkan pada ujung styrofoam menggunakan pin.

fabric+wrapped+trees+step+1

2. Lipat kain menjadi dua, memanjang, dan tancapkan di bagian atas kerucut.

fabric+wrapped+trees+step+2

3. Mulailah melilitkan kain ke styrofoam sambil menjaga kain agar tetap rapi. Tancapkan pin sesekali untuk mengamankannya.

fabric+wrapped+trees+step+3

4. Ketika hasil lilitan sudah berada di bawah kerucut, pasang pin agar kain dapat menancap pada styrofoam

fabric+wrapped+trees+step+4

5. Pohon Natal mini sudah jadi. Anda bisa membuatnya beberapa buah agar semakin semarak. Pohon Natal ini tidak hanya dapat digunakan sebagai dekorasi tetapi juga bingkisan untuk orang-orang terkasih.

fabric+wrapped+trees+final

Sumber:http://www.landeeseelandeedo.com/2011/11/festival-of-trees-fabric-wrapped-trees.html


Kami ingin menantang Anda yang berjiwa kreatif, untuk menuangkan kreativitas dalam pohon Natal. Caranya:

  1. Buat pohon Natal Anda sendiri. Boleh meniru contoh di atas maupun membuat desain sendiri. Dapat dikerjakan secara individu mau pun bersama keluarga, sahabat, atau jemaat.
  2. Ambil foto pohon Natal bersama Anda dan orang-orang yang ikut membuatnya. Ingin kelihatan lebih kekinian dengan selfie? Boleh.
  3. Add akun Facebook dan follow Twitter Majalah Suara Baptis.
  4. Posting foto ke akun pribadi Anda, lalu tag ke akun Majalah Suara Baptis, dan tambahkan hashtag #kreasikanpohonnatalmu

Kirim foto kreasi pohon Natal Anda maksimal 1 Januari 2016 pukul 23.59 WIB.

Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Tiga pengirim foto paling unik dan keren akan dimuat dalam Majalah Suara Baptis edisi I/2016 dan mendapatkan masing-masing sebuah mug cantik dari Lembaga Literatur Baptis (LLB). Kami tunggu ya!

Penulis: Luana Yunaneva

 

 

BPN GGBI Prihatin dan Serukan Perdamaian atas Insiden di Singkil, Aceh

Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI) menyampaikan keprihatinan dan seruan damai mengenai tindakan intoleran terhadap gereja di Singkil, Aceh, 13 Oktober 2015.

Disampaikan Ketua Pdt. Dr. Yosia Wartono, Wakil Ketua Pdt. Daniel Royo Haryono, dan Sekretaris Jenderal David Vidyatama, perdamaian dan persatuan di bumi pertiwi kembali mendapatkan ujian. Tindakan intoleran berupa penyerangan massa terhadap gereja di Singkil, Aceh menimbulkan korban meninggal dan terluka. Bahkan mendorong umat Kristen di wilayah tersebut mengungsi ke tempat lebih aman.

Keadaan yang tidak nyaman dan memprihatinkan ini membuat BPN GGBI menyatakan keprihatinan mendalam dan mengecam tindakan massa yang anti toleransi sebab insiden tersebut telah menyebabkan korban jiwa dan harta, serta menghilangkan rasa aman bagi masyarakat setempat. Lembaga yang membawahi Badan Pengurus Daerah (BPD) GGBI tersebut meminta seluruh elemen masyarakat untuk mengupayakan terciptanya rasa aman, serta menghindari segala bentuk kekerasan dan pemaksaan kehendak dalam penyelesaian masalah di masyarakat. Juga mengingatkan semua pihak untuk menghormati hak-hak asasi beragama dan berkeyakinan seperti amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Harapannya, tidak ada lagi pelarangan hak-hak beribadah ke depan, tetapi masyarakat memiliki kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Melalui rilis yang disampaikan di Jakarta 16 Oktober 2015, BPN GGBI juga meminta pemerintah dan aparatur negara baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk tidak boleh absen dalam melindungi seluruh warga. Hal ini termasuk kewajiban pemerintah setempat untuk memfasilitasi warga beribadah ketika dalam kondisi objektif mereka tidak mampu mendirikan rumah ibadah seperti yang tertulis dalam Peraturan Bersama Dua Menteri Tahun 2006. Masyarakat juga diajak mewaspadai adanya gerakan yang sedang berupaya dan secara terus-menerus ingin mengoyak keamanan, persatuan dan kesatuan bangsa, serta tidak menginginkan perubahan negara Indonesia menjadi lebih baik, maju, dan sejahtera. Salah satu isu utama yang paling rentan adalah membenturkan masyarakat dalam agama dan kepercayaan.

Sebagai penutup, pihaknya juga menyerukan seluruh gereja Baptis untuk senantiasa berdoa bagi kedamaian dan kesejahteraan bangsa Indonesia, serta mengedepankan kehidupan yang membawa kabar baik berdasarkan kasih Kristus. GBI juga berusaha menggalang persatuan dan kesatuan dengan masyarakat sekitar, serta berkontribusi membangun Indonesia yang maju dan sejahtera.

Penulis: Luana Yunaneva