Lanjutan Musyawarah Pleno II : GEREJA PERLU DUKUNG “TAHUN PENUAIAN”

Musyawarah Pleno II masih berlanjut pada pukul 19.00 WIB usai makan malam. Peserta MUNAS dengan semangat menyerukan yel keluarga besar, “Salam keluarga besar, Mantap!” saat membuka acara. Sesi lanjutan ini dimulai dengan doa pembukaan oleh Pdt. David Sutarto, Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Sangkakala, Pekalongan, Jawa Tengah.

Kini giliran Pdt. Hana Aji Nugroho, Ketua BAMUSNAS sendiri yang menyampaikan laporan  pertanggungjawaban. Unik, Pdt. Hana mengawali laporannya dengan satu filosofi “jari tangan.”

“Di antara kita tidak ada yang mempunyai jari tangan dengan panjang yang sama. Saya diajarkan oleh nenek saya, filosofi (jari tangan) ini menggambarkan keluarga besar,” tuturnya.

Makna filosofi ini ialah bagaimana keluarga besar Baptis Indonesia seharusnya tetap dapat bersinergi dalam fungsinya masing-masing. Inilah mengapa susunan kursi musyawarah kali ini dibentuk melingkar.

Selanjutnya, Pdt. Hana tidak banyak berbicara karena laporan lengkap akan disampaikan secara  dalam musyawarah komisi-komisi. Pihaknya hanya menegaskan pada peserta bahwa tidak ada “BAMUSDA” (Badan Musyawarah Daerah).

”Jika ada sesuatu yang terjadi di daerah, silakan hubungi kami. Tidak ada lagi BAMUSDA. Jika ada yang perlu diselesaikan, bila kami bisa terjun (ke daerah), kami akan usahakan datang,” tandasnya.

Masih dalam musyawarah pleno II, laporan pertanggungjawaban dan rencana kerja selanjutnya disampaikan pimpinan Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI), Pdt. Yosia Wartono (ketua) dan David Vidyatama (sekretaris jenderal).

Dalam kesempatan ini, David Vidyatama mengingatkan peserta tentang moto GGBI yaitu GM3, “Gereja Memberitakan, Menumbuhkembangkan, dan Mengutus”. Berikutnya, David menjabarkan laporan kerja dari departemen-departemen GGBI, di antaranya menyangkut sejauh mana pencapaian target-target yang sudah dicanangkan.

Dalam beberapa laporan yang sampai di BPN GGBI, menurut David, ada kekurangan sehubungan dengan keaktifan gereja-gereja menyampaikan laporannya dalam beberapa program yang telah disepakati.

“Menurut data yang terkumpul, dari sejumlah  614 gereja Baptis, hanya 25 persen (153) saja yang mengembalikan data baptisan. Dukungan lewat data sangat kecil.”

Menurut David, belum tentu sedikitnya angka baptisan yang terdata disebabkan oleh tidak adanya baptisan, namun memang gereja yang melapor baru sedikit. Demikian halnya dengan laporan gereja yang memuridkan, dari 19 Badan Pengurus Daerah (BPD) GGBI, baru 8 yang melapor. Juga sampai saat ini baru 13 BPD GGBI yang melaporkan adanya 11 hamba Tuhan baru.

Lepas dari minimnya laporan gereja, BPN GGBI pun melaporkan kabar gembira, yaitu sudah adanya 4 prospek perintisan gereja Baptis di empat propinsi, yaitu Gorontalo, Maluku Utara, Sulawesi Barat, dan Papua Barat. Kabar baik lainnya, sudah ada 10 BPD GGBI yang setia menyelenggarakan jaringan doa Baptis tiap bulan. Juga buku renungan harian New Life  yang sudah sukses dicetak dan tersebar sebanyak 2.300 eksemplar.

Sehubungan dengan program BPN GGBI 2016 – 2017, Pdt. Yosia mengimbuhkan, “Kerangka program taun ini berfokus pada misi sampai ke ujung bumi. Yaitu bagaimana tahun ini menjadi tahun kerja yang menggelora, dengan tema ‘Pekerja Untuk Tuaian’.”

Tahun ini, BPN GGBI akan melakukan berbagai pembekalan terhadap gereja secara besar-besaran. Termasuk di dalamnya pelatihan Pengabaran Injil (PI), kepemimpinan bagi pemuda, juga mentoring pendeta dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Pdt. Yosia berharap, gereja-gereja dapat aktif mendukung program BPN GGBI dengan mendata tuaian dan turut memikirkan pekerja untuk tuaian. “Tahun ini menjadi tahun penuaian.  Banyak jiwa yang dimenangkan dalam batas usia belasan. Inilah pentingnya gereja menyelenggarakan SIL (Sekolah Injil Liburan). Begitu juga dalam KKR (kebaktian kebangunan rohani), kami menargetkan ada  60 pemuda menyerahkan diri untuk melayani Tuhan sepenuh waktu.”

Tidak luput dari perhatian, BPN GGBI pun kini tengah berusaha cerdas mengelola keuangan dengan menggunakan dana sehemat mungkin dalam program 2016-2017 ini.

Penulis: Andry Wahyu Pertiwi

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

Munas II GGBI | Prestasi YBI: Sertifikasi Aset Melebihi Target

Pelayanan mimbar oleh perwakilan Badan Pengurus Daerah (BPD) Surakarta dalam alunan pujian berjudul “Ada Lagu dalam Hatiku” membuka Pleno II dalam Musyawarah Nasional (Munas) Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) pukul 16.30 WIB. Berlangsung Selasa 8 Maret 2016 di Wisma Retret Baptis (WRB) Bukit Soka Salatiga, pleno ini diikuti 122 utusan gereja, 3 orang dari Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI, 27 orang dari Yayasan Baptis Indonesia (YBI), dan 7 orang dari peninjau.

Selanjutnya, para peserta dibagi menjadi tiga komisi yaitu Komisi Organisasi, Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) dan Yayasan Baptis Indonesia (YBI), serta BPN GGBI dan Badan Musyawarah Nasional (Bamusnas). Masing-masing komisi akan membahas laporan pertanggungjawaban (LPJ) serta rencana program kerja dan anggaran (RKA).

Dimoderatori Bamusnas, YBI mengawali presentasi dan penjelasan yang disampaikan Pdt. David Sumarto (Ketua Pembina) dan Edi Krisharyanto (Ketua Pengurus). Tidak lupa, Edi mengenalkan para pimpinan kedua belas lembaga di bawah naungan YBI yang mengenakan kemeja batik khas Bengkulu berwarna hijau, serta pengurus organ YBI yang mengenakan jenis batik yang sama namun berwarna coklat.

Pada sidang pleno kedua ini, Edi tidak hanya menjelaskan kinerja yang telah dilakukan kedua belas lembaga, tetapi juga banyaknya pekerjaan yang masih tersisa dari tahun lalu. Anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Pengharapan Surabaya tersebut mengapresiasi sejumlah prestasi yang dicapai timnya, melampaui target yang dicanangkan bersama, seperti penelusuran dan sertifikasi 28 aset dari target hanya 15 aset, juga penjualan aset lain yang melebihi taksiran (appraisal).

Lantaran waktu pelaksanaan acara melebihi jadwal yang ditentukan, Ketua Bamusnas Pdt. Hana Aji Nugroho meminta izin umat untuk melanjutkan acara dengan presentasi dari YRSBI. Ketua Pengurus YRSBI Pdt. Victor Rembeth menjelaskan, salah satu fokus pihaknya saat ini adalah membangun perkumpulan praktisi kesehatan Baptis Indonesia. Selain itu, mewujudkan pelayanan kesehatan yang “PAS” yakni Profesional, Akuntabel, dan Spiritual.

“Kami juga mengapresiasi Rumah Sakit (RS) Baptis Batu yang cepat tanggap ketika pengamat dan  ahli geografi politik  Indonesia asal Amerika Serikat yang bernama Benedict Richard O’Gorman Anderson meninggal dunia di salah satu hotel di Kota Batu, Minggu 12 Desember 2015 lalu. Saat itu diduga ia meninggal akibat serangan jantung,” ungkapnya. “Ini bisa menjadi ajang promosi kita (RS Baptis, red.).”

Pemaparan Pdt. Victor ditutup dengan mendoakan tiga pengurus perkumpulan praktisi kesehatan Baptis, antara lain Arnold Kabaria Serworwora (Ketua), Iva Yuana Dwi Kusuma (Sekretaris), dan Aries Wahyuningsih (Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan). Sesudahnya, seluruh peserta menikmati makan malam bersama.

Penulis: Luana Yunaneva

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

Munas II GGBI | Suasana Pembukaan MUNAS II GGBI

Suasana Ibadah Pembukaan Musyawarah Nasional (MUNAS) II Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI), pada Selasa, 8 Maret 2016 berlangsung khidmat.

Ibadah pembukaan yang harusnya dimulai pukul 10.30 WIB ini, sedikit molor di pukul 10.35. Kendati demikian beberapa peserta masih ada yang terlambat lantaran beberapa diantaranya baru tiba dari luar kota atau sedang melakukan persiapan lain.

Ibadah pembuka yang dipimpin Abednego Sutrisna ini dibuka dengan lagu “Bangkit S’rukan Nama Yesus”. Dilanjutkan penyampaian firman Tuhan oleh Pdt. Paul Kabariyanto yang juga merupakan Wakil Ketua BAMUSNAS.

Tema yang diusung kali ini adalah “Siap Bekerja Sama Wujudkan  Harapan”, terambil dari Nehemia 2:18; 4:6. Pdt. Paul menjabarkan tiga poin dalam kotbahnya: jangan mementingkan diri, harus saling menopang, dan fokus terhadap apa yang dikerjakan.

Usai ibadah pembuka, Ketua BAMUSNAS Pdt. Hana Aji Nugraha, Pdt. Paul Kabariyanto, dan Pdt. Frank Daud Suitela (Sekretaris) mengambil alih acara untuk mengesahkan peraturan dan jadwal acara MUNAS, juga pembagian komisi.

Sampai pukul 11.32, jumlah peserta yang hadir sekitar 200 orang.

Dalam sesi ini, Pdt. Paul Kabariyanto mengimbau  seluruh peserta agar bekerja sama menjaga keamanan dengan tidak keluar dari lingkungan Wisma Retret Baptis (WRB)  tanpa mencatat serta wajib mengenakan name tag  di setiap kesempatan. Mengingat adanya pergantian nama dari sidang BPG ke MUNAS ini, dikhawatirkan dapat memicu situasi lingkungan yang tidak diinginkan. Maka itu dalam MUNAS kali ini, beberapa polisi mulai berjaga di luar ruangan.

Dalam MUNAS kali ini, BAMUSNAS memperkenalkan dan menyambut kedatangan dua anggota baru, yaitu perwakilan dari Gereja Baptis Indonesia (GBI) Cibinong dan GBI Imanuel, Karanggede, Boyolali, Jawa Tengah.

Selanjutnya, dua lembaga di bawah naungan Yayasan Baptis Indonesia diberi kesempatan mempromosikan diri, yaitu Sekolah Tinggi Desain Indonesia (STDI) Bandung dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Kediri.

(AWP/Pris)

Munas II GGBI | Siapakah BAMUSNAS GGBI?

Selasa, 8 Maret 2016, BADAN PENGURUS NASIONAL Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BAMUSNAS GGBI) kembali menyelenggarakan musyawarah nasional (MUNAS) yang kedua. Kendati sudah dua kali diadakan, beberapa umat Baptis disinyalir belum begitu memahami perbedaan BAMUSNAS dengan Badan Pengurus Gereja (BPG).

Ditemui di Wisma Retret Baptis (WRB), Bukit Soka, Salatiga (8/3/2016), Ketua Badan Musyawarah Nasional (Bamusnas) GGBI Pdt. Hana Aji Nugroho memberikan keterangan sehubungan dengan identitas BPG yang tahun lalu sudah berganti nama menjadi BAMUSNAS.

Pdt. Hana Aji Nugroho“Sebetulnya perpindahan antara BAMUSNAS dengan BPG hanya masalah falsafah saja dari sidang yang beraroma Barat menjadi aroma Indonesia,” tandasnya.

Menurut Pdt. Hana, prinsip musyawarah yang dianut sekarang sudah tidak terpaku pada voting, tetapi lebih pada esensi musyawarah yang mencapai mufakat.

Jika berbicara tentang fungsi dan peran, sebenarnya masih sama dengan BPG, yaitu menggerakkan dan mengoptimalkan sinergi antarorganisasi. BAMUSNAS kini fokus mengedepankan asas keluarga besar, yaitu musyawarah. Lantaran GGBI ini ada di Indonesia maka dari itu kita terapkan filosofi yang “Indonesia”.

“Misalnya, BAMUSNAS ini memikirkan bagaimana sebuah pelayanan akan berjalan, itu akan disinergikan antara YRSBI, YBI dan BPN.”

Dalam sistem tata organisasi, BAMUSNAS di sini sejajar dengan BPN, Pembina Yayasan Baptis Indonesia (YBI) dan Pembina Yayasan Rumah Sakit Bapti Indonesia (YRSBI). Kekuasaan tertinggi tetap pada umat Baptis Indonesia.

BAMUSNAS saat ini diketuai Pdt. Hana Aji Nugroho. Wakil ketua Pdt. Paul Kabarianto, bendahara Pdt. Timotius Suharto, dan sekretaris Pdt. Frank Stevanus Daud Suitela.

Di samping itu ada tiga komisi dalam BAMUSNAS. Komisi yayasan, baik YBI maupun YRSBI dipimpin Pdt. I Gede Wastra. Selanjutnya komisi organisasi diketuai Pdt. Helly Hariyanto, dan komisi BAMUSNAS Pdt. Yusuf Widodo.

Mengingat fungsi BAMUSNAS yang berperan menjadi wadah pertemuan gereja-gereja Baptis, Pdt. Hana berharap agar gereja-gereja selalu menyadari keberadaan BAMUSNAS ini dan tidak memblow up isu-isu atau kebijakan yang seharusnya bisa dibawa dalam BAMUSNAS. Karena BAMUSNAS adalah representasi dari gereja-gereja.

“Pascamunas,  setelah masing-masing memperoleh kesepakatan, nantinya organ-organ termasuk BPN, YBI, YRSBI akan melangsungkan rapat kerja sendiri.” pungkasnya.

Penulis : AWP

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

SEPUTAR YRSBI | Klinik Pratama Kerja Sama YRSBI-BPD GGBI

Sembilan bulan terlewat, program pendirian klinik pratama di setiap wilayah Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia  (BPD GGBI) belum terwujud. Program ini telah diputuskan dalam rapat kerja Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) Mei 2015 silam.

Rencananya, klinik pratama ini bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Bila kelak dapat memenuhi persyaratan, klinik ini dapat berperan sebagai Pemberi Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (PPK 1) atau yang dalam kartu BPJS Kesehatan ditulis sebagai Faskes Tingkat 1 (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama).  Dengan demikian, PPK 1 hampir setingkat dengan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Dengan sistem kapitasi BPJS Kesehatan yang membagi kuota pada PPK 1, klinik pratama YRSBI akan mendapat cukup peluang untuk berkembang.

Berdasarkan rumusan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 tahun 2014 Pasal 2, ayat 2, klinik pratama ialah klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar baik umum maupun khusus. Beberapa persyaratan pendirian klinik baik pratama maupun utama diatur dalam permenkes ini, termasuk mengenai bangunan,  sarana, prasarana, tenaga kesehatan, dan sebagainya.

Anggota Pengurus YRSBI, dr. Frenki  Pieter Hetharia menuturkan, sampai saat ini belum ada BPD GGBI dan gereja setempat mana pun yang menyambut tawaran kerja sama pengadaan klinik pratama tersebut. Ia menduga, penyebabnya adalah ketidakjelasan informasi sehingga BPD-BPD GGBI tetap hening.

“Memang yang menjadi kekurangan kami ialah menjelaskan lebih (dalam) lagi tentang keterlibatan BPD seperti apa (dalam pembangunan klinik pratama),” ungkapnya.

Hal tersebut menyangkut apa yang harus disiapkan BPD-BPD GGBI, gereja setempat dan YRSBI sendiri. Dalam sasaran konsep, YRSBI sudah matang namun implementasinya belum cukup disosialisasikan. Frenki berharap program ini dapat disosialisasikan ulang dalam Musyawarah Nasional (Munas) II GGBI, Maret 2016, di samping pelaporan pertangungjawaban beberapa program 2015 lainnya dan penjelasan program tahun depan.

“Mungkin nanti saya mengusulkan kepada Ketua Pengurus YRSBI agar bukan hanya memberikan penjelasan secara formal di podium, tetapi juga ada kelanjutan diskusi yang lebih detail. Juga lebih fokus apabila ada BPD-BPD (dan gereja setempat) yang bersedia (menawarkan tempat untuk klinik pratama),” papar Frenki yang merasa tindak lanjut pengadaan klinik sudah harus masuk pada tahap teknis.

Berbicara tentang persyaratan, strategi YRSBI untuk bekerja sama dengan BPD GGBI dan gereja di setiap wilayah merupakan langkah pemanfaatan peluang dari regulasi pemerintah. Pasalnya, pembangunan klinik pratama ini lebih mudah persyaratannya dibandingkan klinik utama. Perlu diketahui, klinik utama ialah klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik atau pelayanan medik dasar dan spesialistik.

Klinik pratama hanya perlu satu penanggung jawab yaitu dokter umum. Selanjutnya, perlu ada tenaga teknis kefarmasian, tenaga admisnistrasi atau tenaga lain yang dibutuhkan.

Persyaratan bangunan dan ruangan juga ringan. Tidak seperti klinik utama yang harus memiliki laboratorium sederhana dan apotek sendiri, karena sifatnya yang memang lebih spesialis.

Bagi Frenki, hal yang menarik ialah, klinik pratama maupun utama boleh merawat pasien inap dengan kapasitas lima hingga sepuluh tempat tidur.

“Sebenarnya konsep dari pemerintah itu baik, asal kita mau menangkap peluang dari itu!” tegasnya.

Menyinggung soal tindak lanjut, YRSBI ingin BPD-BPD GGBI dan gereja setempat menyediakan tempat sedangkan YRSBI dapat mengurus manajemen dan operasionalnya.

Menurut dokter yang juga pendiri klinik utama “Arafah” di daerah Cipatik, Bandung Barat ini, mendirikan klinik pratama sesungguhnya tidaklah sulit. Dijelaskannya, klinik pratama tidak harus dinaungi yayasan tertentu layaknya klinik utama. Klinik pratama bisa didirikan perorangan seperti dokter yang membuka praktik pribadi.

Kendala utamanya, berdasarkan pengalaman Frenki, ialah masalah tempat. Itulah mengapa YRSBI sangat mengharapkan umpan balik dari BPD GGBI atau gereja-gereja. Sebab hal ini menyangkut masalah strategi lokasi. Dengan sendirinya, gereja atau BPD GGBI setempatlah yang lebih mengenal daerahnya.

“Nah, yang saya lihat, komunikasi kami (pihak YRSBI) dengan BPD (GGBI dan gereja setempat) itu kurang klik (nyambung). Walaupun informasi awalnya sudah (diberikan), namun sepertinya penjelasan tentang lokasi dan persyaratan lokasi belum begitu lengkap. Padahal secara prinsip peraturan dari menteri kesehatan itu tidak sulit,” paparnya.

Frenki yang yakin dengan keberhasilan dan kemudahan realisasi program ini pun menambahkan, diskusi lebih rinci tentang pendirian klinik ini akan meruncing pada masalah pembiayaan.

Kendati sampai saat ini belum ada BPD GGBI dan gereja setempat yang menanggapi, YRSBI akan tetap mengupayakan realisasi klinik pratama pada tahun ini.

“Saya optimis kok, kalau sudah ada BPD (dan gereja) yang memulai, nantinya pasti banyak (BPD dan gereja lain) yang mengikuti,” ungkapnya yakin.

Program pengadaan klinik pratama sendiri bertujuan agar kehadiran pelayanan kesehatan rumah sakit Baptis dapat dirasakan umat Baptis di semua daerah bahkan masyarakat luas. Bisa saja dalam pelayanan klinik pratama nanti, ada kasus-kasus yang perlu dirujuk ke rumah-rumah sakit Baptis  di Kediri, Batu atau Bandar Lampung.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi (kebidanan dan kandungan, red.) ini menyadari bahwa keberadaan “orang-orang” kesehatan  masih kurang di tengah-tengah umat. “Bagi saya, jangan kita tunggu-menunggu, tapi kita yang harus hadir. Saya selalu beranggapan bahwa segala sesuatu yang besar dimulai dari hal kecil. Kalau kita mulai dari satu klinik, kita menabur. Saya tidak tahu nanti siapa yang menyiram, yang memberi pertumbuhan kan tetap Tuhan.”

Sehubungan dengan modal awal, YRSBI berbagi modal 70 persen sedangkan BPD GGBI dan gereja yang bersangkutan 30 persen. Angka 30 persen tersebut termasuk tempat, instalasi listrik dan beberapa bagian yang berkaitan dengan lokasi.

Pembagian hasil pun dilakukan dengan perhitungan yang sama, yakni YRSBI mendapat 70 persen sedangkan BPD GGBI dan gereja 30 persen. Pendapatan YRSBI sebesar 70 persen  tersebut akan dikeluarkan lagi untuk kesejahteraan tenaga kesehatan yang bekerja di klinik  dan operasional lain, sedangkan pendapatan 30 persen yang masuk ke BPD GGBI dan gereja merupakan laba bersih yang tidak dikeluarkan lagi.

Ketika ditanya tentang tenaga dokter yang akan melayani di klinik pratama, Frenki mengatakan, akan lebih baik jika tenaga dokter bisa diambil dari BPD GGBI dan gereja setempat. Namun jika tidak ada, maka YRSBI akan menghubungi dokter lain yang siap diutus ke daerah yang bersangkutan.

Frenki mengaku, sebenarnya selama tahun 2015 lalu pihaknya belum mendiskusikan lebih lanjut tentang kapan dan di mana klinik pertama akan didirikan.

“Jadi, sepertinya perlu ada evaluasi lebih lanjut khususnya tentang ketidakefektikfan publikasi mengenai (pengadaan klinik pratama) ini. Strategi 2016 harus kita ubah. Kami akan membicarakan ini lebih lanjut,” pungkasnya.

Penulis & pewawancara : Andry W.P.

Editor : Prisetyadi Teguh Wibowo

SEPUTAR DANA PENSIUN | Pelantikan Perdana Pengurus dan Pengawas Dana Pensiun

Meskipun Dana Pensiun Baptis Indonesia (DPBI) berdiri sejak 31 tahun lalu, baru kali ini penetapan pengurus dan pengawasnya melalui pelantikan secara resmi. Sabtu 9 Januari 2016 lalu, Pendiri DPBI melantik Pengurus dan Dewan Pengawas DPBI di Gedung Baptis Jl. R.P. Soeroso No. 5 Jakarta Pusat.

Pelantikan ini merupakan perpanjangan masa jabatan, baik Pengurus maupun Dewan Pengawas DPBI. Hanya saja, kali ini jabatan ketua dewan pengawas dipegang Pdt. Hendi Tjiptamustika, yang pada periode lalu dijabat Pdt. Timotius Sutarman.

Pengurus DPBI terlantik adalah Bagus Widiatmo (ketua), Pdt. Stefanus Ngatimin (sekretaris), Edy Rahardja (bendahara), dan Heryansyah Himawan (anggota). Sedangkan Dewan Pengawas terdiri dari Pdt. Hendi Tjiptamustika (ketua), Prisetyadi Teguh Wibowo (Sekretaris), dan empat anggota yakni Pdt. Timotius Sutarman, Pdm. Sori Tjandrah Simbolon, drg. Peterus Rimba, dan Cerimas Heru. Para pengawas ini mewakili Mitra-mitra Pendiri DPBI, yakni Lembaga Literatur Baptis, Rumah Sakit (RS) Baptis Kediri, RS Baptis Batu, RS Imanuel bandar Lampung, dan pensiunan.

DPBI berdiri 14 Juni 1985. Lembaga ini dibuat para pemimpin Baptis nasional bersama Misi Baptis Indonesia (Konvensi Baptis Selatan, Amerika Serikat). Ketika itu mereka melihat pentingnya sebuah lembaga yang mampu menjamin adanya pendapatan yang berkelanjutan bagi pensiunan karyawan lembaga-lembaga Baptis waktu pensiun. Melihat besarnya manfaat lembaga ini, Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) lalu bergabung supaya para pendeta Baptis pun dapat menjadi peserta DPBI.

Sebagai sebuah lembaga keuangan, DPBI diatur ketat oleh berbagai regulasi, mulai dari Undang-undang Dana Pensiun (empat buah), Peraturan Pemerintah (lima buah), Peraturan Menteri Keuangan (28 buah), dan sejumlah peraturan lainnya. Berbagai peraturan yang mengikat tersebut menempatkan DPBI seolah-olah sebuah lembaga yang berdiri di luar lingkaran lembaga-lembaga Baptis nonrumah sakit.

Misalnya, para pemimpin lembaga Baptis nonrumah sakit bertanggung jawab kepada Pengurus Yayasan Baptis Indonesia (YBI). Dalam tugasnya, Pengurus YBI diawasi Pengawas YBI dan kedua-duanya bertanggung jawab kepada Pembina YBI sebagai organ tertinggi.

Sementara dalam sebuah dana pensiun, pemerintah mewajibkan adanya organ tersendiri yang serupa dengan organ sebuah yayasan seperti YBI. Maka, DPBI pun memiliki organ Pengurus, Pengawas, dan Pendiri. Baik Pengurus maupun Pengawas DPBI bertanggung jawab kepada Pendiri DPBI sebagai organ tertinggi. Dan sesuai dengan peraturan yang berlaku, Pendiri DPBI adalah Pengurus YBI.

Pelantikan, Bukan Sekadar Upacara

Ketua Pendiri DPBI, Edy Krisharyanto merasa, acara pelantikan sederhana itu berlangsung khidmat, terutama ketika ketua dewan pengawas dan ketua pengurus menyampaikan sambutan usai pelantikan. Menurut Edy, mereka mengungkapkan komitmennya dalam menyongsong tantangan pengelolaan dana pensiun  di masa mendatang.

“Mereka senang atas kepercayaan dan dukungan dalam mengelola aset lebih dari Rp 140 miliar milik umat Baptis ini,” kata Edy kepada wartawan Suara Baptis (SB) Andry Wahyu Pertiwi.

Bagi Edy, acara pelantikan ini sarat makna. Pelantikan  Pengurus dan Dewan Pengawas DPBI ini bukan sekadar upacara, namun penegasan bahwa tanggung jawab organisasi telah dinyatakan dan menuntut profesionalitas. Juga pelantikan ini menunjukkan, roda kepengurusan dan kepengawasan serta tanggung jawab atas pelayanan di tubuh DPBI periode 2016 – 2019 ada di tangan Bagus Widiatmo dan Pdt. Hendi Tjiptamustika.

“Itu menandakan, eksistensi lembaga telah dipercayakan pada organ kepengurusan dan kepengawasan yang baru. Pengurus periode ini adalah figur periode sebelumnya, namun bukan berarti ke depannya akan ringan,” tegas Edy.

Lektor Kepala Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini berharap sedikitnya tiga hal kepada pengurus dan pengawas yang baru. Pertama, mampu meningkatkan kesejahteraan para peserta DPBI yang mencapai 1.217 orang. Kedua, agar mampu mejaga rasio kecukupan dana (RKD) 100 persen. Ketiga, turut mempersiapkan kaderisasi pengurus dan pengawas masa depan.

“Dalam setahun terakhir, para Pengurus dan Pengawas DPBI menunjukkan kinerja yang positif. Hal ini  saya ukur dari tingkat kepatuhan regulasi, termasuk terpenuhinya kualifikasi persyaratan di tubuh Pengurus dan Pengawas DPBI. Juga parameter objektif saya dari laporan lima tahun terakhir, menunjukkan prestasi yang berasal dari instansi di luar Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI).”

Prestasi DPBI yang dimaksudkan Edy adalah Juara I dari 17 anggota Badan Kerja Sama Dana Pensiun Kristen Indonesia (BKS Dapen-KI) tahun 2011, 2012, dan 2014. Juara III dari 252 anggota Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) tahun 2011, Juara II ADPI 2012, dan lima besar ADPI tahun 2014.

Ketua Dewan Pengawas DPBI Pdt. Hendi Tjiptamustika pun terkesan dengan pelantikan perdana yang dilakukan pendiri. Menurutnya, acara ini sangat baik karen Pendiri DPBI kini mulai mengatur legalitas tiap-tiap orang yang memiliki jabatan dalam lingkup DPBI.

Pdt. Hendi berpendapat, sebagai lembaga keuangan Baptis, legalitas memang sangat diperlukan. Legalitas ini bukan hanya perlu untuk DPBI melainkan lembaga-lembaga Baptis lain juga.

“Dulu sih  hanya direktur rumah sakit yang dilantik. Namun sekarang setelah dana pensiun berjalan sekian puluh tahun, akhirnya ada pelantikan pengurus dan pengawas,” tuturnya.

Membahas target ke depan, Pdt. Hendi mengaku, ia bersama timnya belum mencanangkan target khusus sementara ini. Dikatakannya, dewan pengawas tetap fokus untuk mengawasi kinerja pengurus terkait pengelolaan dana dan sebagainya.

“Jadi, pelaksanaannya ada pada pengurus. Kadang-kadang dalam kurun waktu tertentu kita lihat keuangannya, karena perputaran uang itu sendiri kan harus diperhatikan, supaya bermanfaat dan dapat dimaksimalkan,” paparnya.

Berdasarkan evaluasi kinerja pengurus selama periode lalu, Pdt. Hendi berharap kinerja periode ini dapat terus ditingkatkan. Menurut pengamatannya, pengurus periode lalu (yang juga menjabat pada periode sekarang) sudah bekerja maksimal. Apalagi DPBI hanya memiliki satu pengurus penuh waktu yaitu Edy Raharja (bendahara).  Sedangkan pengurus lainnya berstatus paruh waktu. Itulah mengapa, melihat keterbatasan tersebut, berbagai pencapaian yang diperoleh DPBI  adalah luar biasa.

“Memang, seharusnya ada orang-orang yang full time (penuh waktu) untuk menangani uang sebanyak ini. Tapi sementara ini, selama bisa dihandle pengurus  sekarang (yang kebanyakan paruh waktu di DPBI), saya rasa tidak masalah,” imbuhnya.

Pdt. Hendi menambahkan, kenyataannya Pengurus dan Pengawas DPBI sudah berhasil disertifikasi, dan akan menjalani ujian kelulusan kembali secara berkala. Walaupun belum semua anggota Pengurus maupun Pengawas DPBI berlatar belakang pendidikan keuangan, prestasi-prestasi DPBI selama ini sudah cukup membuktikan komitmen mereka.

Kendati demikian, Pdt. Hendi berujar, mungkin lima tahun mendatang perlu mempersiapkan orang-orang yang lebih mumpuni dalam bidangnya dan penuh waktu.

Senada dengan ungkapan Edy Krisharyanto, Ketua DPBI Bagus Widiatmo mengatakan, “Saya merasakan (dalam pelantikan ini) ada peneguhan dan pengutusan.”

Persis seperti diutarakan Pdt. Hendi, Bagus pun melihat acara ini sebagai wujud perhatian para pendiri kepada DPBI. “Jadi, selama menjabat sebagai Pengurus DPBI, ini pelantikan pertama kali dan membawa arti tersendiri buat kami, khususnya saya!” ungkap Bagus senang.

Tanpa mengurangi arti kepengurusan sebelumnya, bagi Bagus momen pelantikan ini memberikan sentuhan istimewa. Menurutnya, proses pelantikan bukan hanya soal seremonial tetapi mempertegas pengakuan. “Bahwa kami benar-benar ditunjuk dan ditugaskan sebagai Pengurus dan Pengawas DPBI. Artinya, secara moral kami merasa didukung. Inilah awal yang sangat baik untuk saya!”

Anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Jatibening Bekasi ini berharap, kinerja Pengurus DPBI lebih baik di masa mendatang.

Sebagai pemeran utama dalam acara penting ini,  rupanya Bagus tak luput dari perasaan canggung. Berbicara soal kostum pelantikan yakni harus mengenakan jas, ia sempat bingung dan bertanya-tanya kepada anggota Pengurus DPBI lainnya. Sebab, mantan atlet renang tersebut selama ini lebih sering berpakaian santai.

“Paling pol paling pakai batik,” ujarbnya seraya terkekeh.

Sebelum pelantikan, Bagus dan anggota Pengurus DPBI sudah lebih dulu berfoto dengan gaya resmi. “Memang terkesan norak ya, dulu kami pernah bikin foto sendiri di studio mengenakan jas. Tapi di acara ini, ternyata kami nggak harus selfie lagi,“ ungkapnya sembari terkekeh.

Maklum, kali ini Pengurus DPBI berfoto resmi usai pelantikan. Begitu juga dengan Pengawas dan Pendiri DPBI. Tak heran, Bagus merasa tersanjung dengan sesi foto bersama tersebut.

Menyinggung soal persyaratan Pengurus dan Pengawas DPBI, Bagus memaparkan, secara umum mereka haruslah anggota gereja Baptis Indonesia. Itu ketentuan mutlak, karena segala aspek yang terkait dengan identitas umat Baptis wajib melekat dalam pribadi tiap Pengurus DPBI. Berkenaan dengan syarat khusus, Pengurus dan Pengawas DPBI juga dituntut memenuhi syarat yang ditentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Apalagi kita sudah mengelola dana di atas Rp 100 miliar. Maka, semakin hari akan semakin ketat. Terlebih untuk saat ini, kita harus punya sertifikat pengetahuan dasar-dasar dana pensiun,” tandasnya.

Bukan hanya itu, Pengurus dan Pengawas DPBI juga mendapatkan sertifikasi lain yang berkaitan, serta lulus ujian kelayakan dan kepatutran dari OJK.

Dalam pembahasan target, Pengurus DPBI masih berorientasi pada target periode sebelumnya, yaitu peningkatan dana kelolaan dan meningkatkan Rasio Kecukupan Dana (RKD).

“Targetnya, RKD harus setinggi mungkin di atas 100 persen,” jelas Bagus.

Selain itu, DPBI juga menargetkan peningkatan kinerja dalam pengelolaan investasi dan kepesertaan. Target-target periode saat ini memang lebih fokus pada langkah penyempurnaan periode lalu.

Ia pun berharap, tahun ini DPBI segera menyempurnakan peraturan dana pensiun serta meningkatkan nilai manfaat pensiun.

Sejak didirikan Yayasan Baptis Indonesia (YBI)  14 Juni 1985 lalu, akhirnya pada Sabtu, 9 Januari 2016, dewan pengurus dan pengawas Dana Pensiun Baptis Indonesia (DPBI) untuk pertama kalinya dilantik pendirinya, YBI.

                                                                                                                                 Penulis & Pewawancara : Andry W. Pertiwi                                                                                                              Editor       : Prisetyadi Teguh Wibowo

SEPUTAR YBI | Raker Lebih Akrab, YBI Siap Dampingi 12 Lembaga

Rapat Kerja (Raker) Yayasan Baptis Indonesia (YBI) dan lembaga-lembaga Baptis di buka Ketua Pengurus YBI, Edi Krisharyanto, Selasa 19 Januari 2016 pukul 13:00. Rapat berlangsung sampai Jumat, 22 Januari 2016 dengan suasana yang penuh keakraban.

Dalam sambutan pembukaan dan arahan, Edi Krisharyanto mengatakan, raker ini bertujuan sebagai bentuk penyampaian pertanggungjawaban atas capaian-capaian tugas dan pelayanan tahun 2015, membangun kebersamaan antarlembaga, membuat laporan 2015  dan menyusun program 2016, serta menjalin dan meningkatkan kerja sama antarlembaga.

Bertempat di Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB) Kecamatan Pondok Kubang, Bengkulu Tengah, para pemimpin ke-12 lembaga di bawah naungan YBI bisa menjalani agenda dengan lebih akrab, namun pembahasan materinya tetap tajam. Pemilihan tempat raker di LPPB ini dilontarkan Edi pada raker di Jakarta tahun 2015 lalu. Pemilihan lokasi raker ditujukan agar sesama pimpinan lembaga dalam naungan YBI dapat saling mengetahui. Dari sini, akan terbangun jiwa kebersamaan serta diharapkan dapat saling bekerja sama antarlembaga.

Untuk pertama kalinya, raker YBI dengan para pemimpin lembaga Baptis dihadiri Ketua Badan Musyawarah Nasional Gabungan gereja Baptis Indonesia (Bamusnas GGBI) Pdt. Hana Aji Nugroho. Rapat ini juga dihadiri organ lengkap YBI, mulai dari pembina (Sekretaris Pembina YBI/YRSBI Widoyoko Irawan), pengawas (Ketua Pengawas Louis Mandagie dan anggota Pengawas Tangkahan Hutagaol) hingga pengurus (Edi Krisharyanto, Pdt. Radik Irianto, Deny Ratna Yuniarta, Yurin Widayati, dan Samuel Wirjawan).

“Saya lihat, semua peserta raker juga sukacita. Mukanya tidak ada yang berkerut,” kata Direktur LPPB Rachmadi Johan Setiawan. “(Raker) tidak perlu tegang. Yang penting tujuan tercapai.”

Terpilihnya Bengkulu sebagai tuan rumah raker YBI kali ini menjadi kebanggaan tersendiri untuk lembaga pertanian yang terkenal dengan hasil olahan sirup jeruk kalamansi tersebut. Johan mengungkapkan kepada Prisetyadi Teguh Wibowo dari Suara Baptis (SB), selama ini pihaknya hanya mampu berangan-angan menjadi tuan rumah. Ia bersyukur, kali ini Tuhan izinkan agenda tersebut digelar di lembaga yang memiliki lahan seluas 25 hektare tersebut. Ia berharap para peserta raker memiliki kesan mendalam selama berada di LPPB.

“Karyawan kami sangat antusias. Ini dibuktikan dengan bagian umum yang menyiapkan seluruh lokasi sebaik mungkin. Mereka senang bisa mengenal dan menatap langsung, siapa saja orang-orang yang selama ini hanya mereka dengar namanya. Memang selama ini kami biasa share (berbagi) dengan karyawan mengenai orang-orang di YBI.”

Bila selama ini rapat-rapat kerja YBI dengan para pemimpin lembaga Baptis dilakukan di Jakarta, ke depan rapat akan dilakukan bergantian di setiap lembaga. Dengan demikian, akan terbangun rasa kekeluargaan dan saling dukung dimulai dari para pemimpin lembaga dan stafnya.

Pdt. Hana AjiNugroho yang diundang mengikuti raker, memuji pelaksanaan acara ini yang memperlihatkan adanya sinergi antar lembaga.

“Saya mengapresiasi kinerja tim YBI, juga memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para ketua lembaga. Saya rindu, semua yang hadir bisa menolong dan mendampingi supaya kita semakin kompak dan pekerjaan Tuhan bisa berjalan dengan baik,” ujar Pdt. Hana.

Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Karangayu, Semarang tersebut berharap, ada kerjasama pula antara YBI dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) sehingga roda kepengurusan bisa berjalan dengan baik untuk kemuliaan nama Tuhan.

Pemilihan LPPB Bengkulu sebagai tuan rumah Raker YBI tidak sembarangan. Sekretaris Pembina YBI/YRSBI Widoyoko Irawan mengakui, dari segi lokasi, Bengkulu memang jauh. Namun kehadiran lembaga-lembaga ini menjadi penghargaan dan semangat untuk lembaga pertanian yang juga mengolah berbagai jenis kopi, virgin coconut oil, kelapa sawit, karet, kunyit putih, kayu manis, dan minyak atsiri tersebut. Apalagi jumlah orang Baptis yang pergi ke sana selama sekian puluh tahun, tidak seberapa.

Ia mengatakan, membangun kebersamaan biayanya tidak murah, apalagi YBI menaungi 12 lembaga.Widoyoko juga mengingatkan, hasil pertemuan tersebut tidak langsung tampak dan langsung dapat diukur.

“Selama ini, baru sedikit orang yang sudah (pernah pergi) ke Bengkulu. Sementara pemikirannya adalah semua pemimpin lembaga perlu saling kenal untuk membangun kebersamaan. Pada waktu mereka bertemu, jika ada MoU (memorandum of understanding/nota kesepahaman) yang saling berkaitan antarlembaga, bisa lebih ditingkatkan,” papar pria kelahiran Bandung, 30 Juni 1945 itu.

Di tengah membangun kebersamaan, juga perlu dilakukan penguatan doktrin sebagai keluarga besar. Apalagi para pengurus YBI periode 2015-2020 akan lebih banyak membangun kebersamaan. Widoyoko yakin, seringnya pertemuan para pemimpin lembaga akan membuat nota kesepahaman sebagai kredit poin di antara mereka semakin nyata. YBI pun juga siap menjadi pendukung sistem dan dana. Meski sudah terpisah dengan YRSBI, YBI terus berusaha mencari dana melalui berbagai cara. Salah satu tahap awal dengan bergerak di bidang properti.

Membawahi 12 lembaga tentu tidak mudah, apalagi hanya dengan enam pengurus yang masing-masing memiliki profesi dengan kegiatan padat. Hal ini menuntut pengurus merelakan waktu untuk keluarga sementara waktu. Widoyoko berharap, umat memahami jerih lelah mereka.

Dicontohkannya, ketika Pengurus YBI pergi ke Bandung, mereka langsung menemui para pimpinan tiga lembaga sekaligus, seperti Lembaga Literatur Baptis (LLB), Sekolah Tinggi Teologia Baptis Bandung (STTBB), Sekolah Tinggi Desain Indonesia (STDI), dan internal YBI, untuk membahas banyak hal.

“Oleh karena itu, bukan mustahil kepengurusan mendatang jumlahnya diperbanyak. Tapi berulang kali setiap akan memilih orang, secara umum mereka mempertanyakan siapa, atau bilang ndak ada orang,” ungkapnya. “Padahal ternyata ada orang-orang yang lebih muda, sekalipun sebelumnya tidak pernah mengambil bagian di gereja yang sifatnya nasional. Begitu masuk di YBI atau YRSBI, mereka mampu beradaptasi dengan cepat. Bahkan semangatnya luar biasa.”

Sementara itu Ketua Pengurus YBI Edi Krisharyanto menjelaskan, Yayasan  (YBI) akan menyelenggarakan pelatihan bidang keuangan untuk pimpinan lembaga. “Pelatihan ini tidak main-main mengingat perlunya keseragaman pemahaman akan laporan keuangan dan standar penggajian atau pemberian honorarium pimpinan dan karyawan lembaga,” jelas Edi.

Pihaknya juga siap mendampingi, menghargai, dan mendukung ke-12 lembaga di antaranya dengan mengusahakan kunjungan sebulan sekali serta siap mendampingi dan dihubungi 24 jam dalam kondisi yang sangat penting.

“Masih banyak PR (pekerjaan rumah) dari hasil rapat ini. Sejumlah catatan tadi perlu di-follow up(tindaklanjuti) sehingga waktu, tenaga, dan pikiran yang sudah kita berikan melalui raker tidak sia-sia tetapi dapat kita wujudkan dalam karya nyata menuju lembaga yang lebih baik,” tukasnya. “Saya melihat laporan setiap lembaga sudah dibuat dengan penuh kejujuran dan kesungguhan, meski ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dan diperbaiki.”

Perihal YBI mau dibawa ke mana, anggota GBI Pengharapan, Surabaya tersebut mengajak pimpinan lembaga dan umat melihat visi dan misi YBI. “Pasalnya, kedua hal tersebut menjadi bagian utama yang mengarahkan kita baik Pengurus YBI maupun lembaga-lembaga dalam melangkahkan roda lembaga setiap hari, seiring dengan penyertaan Tuhan kita Yesus Kristus,” kata Edi.

Untuk lembaga pendidikan, sambugnya, peningkatan kualitas tampak bukan dilihat hanya dari sisi penilaian akreditasi Badan Akreditasi Nasional maupun Lembaga Akreditasi Mandiri, tetapi bagaiman mewujudkan kesungguhan orang-orang yang terlibat dalam memberikan pelayanan terbaik di masing-masing lembaga. Dengan ketulusan dan profesionalitas, ia yakin, dengan sendirinya akan berdampak pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan.

“Sementara untuk lembaga nonpendidikan, tentu ada ukuran dan kebijakan Yayasan yang telah diketahui bersama, yaitu tertib pada visi-misi, regulasi, administrasi dan keuangan dalam wadah YBI, transparansi laporan, kaderisasi, kemandirian lembaga, pengembangan badan atau lembaga baru dan  pengembangan aset, membangun pola kerja sama dengan dalam maupun luar negeri. Delapan tertib ini akan menjadi arah serta pedoman bagi organisasi YBI dan lembaga-lembaga,” pungkas Edi.

Penulis: Luana Yunaneva

Editor: Prisetyadi teguh Wibowo

LIPUTAN | Retret PKMB BPD GGBI Banyumas

KEBANGKITAN KEMBALI KAUM MUDA BANYUMAS

Lega karena pertolongan Tuhan ketika situasi serasa di ujung tanduk, benar-benar dirasakan panitia Retret Persekutuan Kaum Muda Baptis (PKMB) Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPD GGBI) Banyumas  di Wisma Oblat Maria Imakulata Kaliori, Banyumas 1 – 2 Januari 2016 lalu. Pasalnya, tiga hari menjelang pelaksanaan retret, dana yang terkumpul hanya Rp 3 juta. Padahal anggaran perhelatan ini mencapai Rp 14 juta.

Sejak perencanaan awal, panitia tidak ingin membebankan anggaran retret ini kepada gereja-gereja Baptis di wilayah Banyumas. “Kami ingin membuktikan bahwa pemuda mampu (menyelenggarakan retret) sendiri,” tandas ketua panitia Tahan S. Siagian kepada Pemimpin Redaksi Suara Baptis Prisetyadi Teguh Wibowo Januari 2016 lalu.

Setiap peserta dikenakan biaya Rp 100 ribu, tetapi panitia mensubsidi 30 persen.  Jadi, peserta hanya perlu membayar Rp 70 ribu. Sisanya, menjadi tugas panitia, khususnya seksi dana dan usaha untuk mencari kekurangannya.

Bukan hanya soal dana. Berbagai kesulitan lain harus diselesaikan panitia penyelenggara. Mereka kebingungan memutuskan susunan acara. Selain itu, pertemuan antaranggota panitia sendiri juga sulit lantaran rumah masing-masing yang berjauhan. Akibatnya, komunikasi menjadi terhambat.

“Kami semua campur aduk. Ada yang was-was, bekerja keras, ada juga yang masih memikirkan acaranya nanti bagaimana, ini karena sebagian besar panitia masih amatiran,” ungkap Tahan.

Apalagi, sampai tiga hari menjelang pelaksanaan retret, dana yang dipegang panitia kurang dari seperempatnya.

Namun, bagai mendapat durian runtuh, pertolongan Tuhan memang tepat pada waktunya. Sehari menjelang hari H, panitia dikejutkan kedatangan Bayu, anggota panitia seksi dokumentasi, pendataan, surat-menyurat sekaligus pencari dana.

“Ketika H-1, Bayu datang membawa uang sekarung,” kenang pria kelahiran Pematang Siantar 5 Juli 1989 tersebut dengan gaya hiperbola. Tahan mencoba mengungkapkan kekagetan tersebut  ketika melihat Bayu datang dengan uang di dalam tas kresek besar. “(Saya) sampai nggak bisa ngitung. Saya hanya bisa bilang, ‘Wow!’ Susah mengungkapkannya.”

Bantuan dana kian berdatangan seperti air mengalir. Bukan hanya dari Banyumas, tetapi dari luar daerah juga.  Di sini, Tahan dan anggota panitia yang lain semakin melihat campur tangan Tuhan.

“Saya benar-benar mengalami pekerjaan itu bersama Tuhan,” paparnya.

Bahkan ketika retret sudah usai, masih ada dana yang masuk ke rekening panitia.

“Mungkin telat ngasihnya,  tetapi itu membuktikan masih ada yang peduli dengan acara ini. Saya rasa acara ini memberikan pembelajaran kepada panitia, di mana Tuhan selalu campur tangan. Ini kan acara Tuhan, bukan acara kita? Jadi, otomatis Tuhan yang campur tangan,” tutur pemuda lulusan Sekolah Tinggi Teologia Injili Indonesia (STTII) Purwokerto ini.

Ketua Seksi Kaum Muda BPD GGBI Banyumas Budi Priyanto pun mengaku sangat merasakan campur tangan Tuhan. Dari anggaran awal Rp 14 juta, saat pelaksanaan ternyata hanya membutuhkan sekitar Rp 10 juta. Dari dana yang sudah terpakai, masih ada saldo kurang lebih Rp 1,5 juta.

Tentu saja itu hal yang tidak dinyana, mengingat baru beberapa hari sebelumnya kecukupan itu seperti jauh dari mungkin.

Tahan dan Budi berharap, melalui retret ini pemuda Baptis Banyumas bisa lebih bersatu dan mampu menjadi generasi penerus yang membawa perubahan.

Dukungan Gereja untuk Kaum Muda

Retret kaum muda dibuka dengan kebaktian yang dipimpin Ketua BPD GGBI Banyumas Pdt. Timbul Srigati. Sesudah itu, selama dua jam Prisetyadi menyampaikan seminar tentang ledakan media sosial di depan 70-an peserta retret. Melalui berbagai klip video berisi tayangan musik, jebakan kencan online, stand up comedy hingga kasus-kasus pidana yang muncul karena kesembronoan menggunakan media sosial, Prisetyadi mengajak kaum muda melihat sisi negatif tetapi juga sisi positif perkembangan internet.

Terhadap beberapa peserta retret yang mengajukan pertanyaan, Prisetyadi menjelaskan beberapa gelagat kecanduan media sosial, mendorong memperbanyak aktivitas langsung bersama orang-orang di sekitar kaum muda untuk mengimbangi godaan internet, tetapi juga bagaimana mendapatkan manfaat-manfaat nyata dari kemajuan teknologi informasi itu. Misalnya, menggunakan aplikasi pengatur keuangan pribadi hingga kursus berbagai keterampilan secara gratis.

Acara dilanjutkan dengan kebaktian kebangunan rohani dipimpin dosen STTII Purwokerto Pdt. Antipas Rudianto. Malam harinya, persekutuan diadakan di luar ruangan. Pagi di hari kedua, peserta retret mengikuti outbound dan kebaktian penutupan.

Sejumlah peserta mengaku senang mengikuti retret ini karena mendapat teman-teman baru, terkesan dengan acaranya, hingga ada yang meminta panitia mengajar cara memanikan alat musik.

Budi mengatakan, bertolak dari acara ini diharapkan akan ada pergerakan yang bermakna. “Ya bisa dikatakan Banyumas itu kan kota pinggiran dan minoritas. Di sinilah kami ingin mendorong para pemuda agar bisa mengeluarkan potensinya, menggali talenta mereka sehingga bisa melayani di gereja masing-masing.”

Pria asli Cilacap ini rindu agar persekutuan pemuda berikutnya bisa didukung gereja-gereja di seluruh Banyumas. “Jadi kalau di BPD nanti ada rapat, kita mencoba untuk mengakomodasi apa yang mereka harapkan, supaya mereka bisa mendukung,” ucapnya.

Terlepas dari berbagai kesulitan, faktanya acara ini dapat berjalan lancar dan mengesankan. Memang, selain untuk tujuan keakraban, acara ini dibuat agar pemuda Baptis Banyumas cakap berorganisasi. Tak hanya itu, mereka juga dapat belajar dan merasakan dampak yang baik dari komunikasi tatap muka, bukan hanya online. Hal itu dimaksudkan agar pemuda tidak apatis akan dunia sekitarnya.

Ketua BPD GGBI Banyumas Pdt. Timbul Srigati pun terkesan dengan acara tersebut. “Saya rasa (retret) ini baik sekali. Ini benar-benar menjadi perhatian saya soal pelayanan,” ungkapnya.

Pdt. Timbul mengungkapkan, “Terus terang, kita (BPD GGBI Banyumas) seperti kehilangan generasi. Lima tahun yang lalu kita punya generasi emas, dan orang-orangnya masih melayani hingga sekarang. Setelah itu BPD GGBI (Banyumas) seperti kehilangan pemimpin-pemimpin muda.”

Retret ini seolah menjadi gebrakan awal kebangkitan kaum muda Baptis Banyumas. Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Pengharapan, Nusawungu, Cilacap ini menjelaskan, seluruh anggota panitia retret sedang belajar untuk lebih kompak dan rapi dalam menjalankan tugasnya. Jika biasanya kepanitian acara mengandalkan dua-tiga orang saja, kali ini kaum muda yang terlibat dalam kepanitiaan harus belajar bertanggung jawab pada tugas masing-masing di samping harus tetap bekerja sama.

“Acara ini secara khusus bertujuan agar anak-anak muda bukan hanya mengikuti persekutuan biasa, tetapi juga ada waktu sharing (berbagi pengalaman) dan menjalin keakraban dari hati ke hati,” sambungnya.

Menurut Pdt. Timbul, awalnya acara ini hanya akan diadakan sebagai persekutuan perayaan Natal dan diperkirakan hanya akan berlangsung beberapa jam saja.  Namun seiring pembicaraan panitia, acara berkembang menjadi retret dua hari satu malam.

Melihat semangat yang muncul dari acara ini, Pdt. Timbul menargetkan, dalam lima tahun ini ada lima hingga enam pemuda Baptis Banyumas memutuskan menjadi hamba Tuhan. “Nggak usah banyak-banyak,” terangnya, “kalau ada pemuda yang mengambil keputusan seperti itu, tentunya akan menjadi kebanggaan tersendiri.”

Pdt. Timbul meminta gereja-gereja Baptis di Banyumas memberi dukungan lebih besar pada acara-acara persekutuan kaum muda. “Kalau gereja atau para orang tua tidak suka dengan pergaulan pemuda di luar Kristen, dan tidak mau anaknya bergaul atau berpacaran dengan orang di luar Kristen, seharusnya gereja memfasiitasi acara-acara di mana kaum muda berada dalam komunitas Kristennya. Kalau kita hanya melarang tetapi tidak mendukung proyek-proyek semacam ini, ya sama saja.”

Ia juga menegaskan, pergaulan pemuda zaman sekarang sangat memerlukan perhatian khusus mengingat persoalan pemuda di Banyumas cukup serius. Alih-alih terlibat aktif pelayanan di gereja, sebagian pemuda malah tergaet pacar non-Kristen  lalu mundur dari persekutuan. Bagi Pdt. Timbul, kasus demikian tidak boleh didiamkan.

Itu sebabnya ia sangat menganjurkan, Pengurus PKMB BPD GGBI Banyumas sungguh-sungguh menindaklanjuti perkembangan pelayanan kaum muda.

Tahun ini, Seksi Pemuda BPD GGBI Banyumas sudah menyiapkan program persekutuan rutin. Di antaranya olimpiade pemuda yang ditujukan sebagai pembangunan karakter. Para pengurus kaum muda daerah juga berharap, kelak ada persekutuan-persekutuan bertajuk misi yang menantang kesiapan pemuda dalam menerima panggilannya.

Penulis : Andry W.P

Editor : Prisetyadi Teguh Wibowo

MUDA | SATU KATA: OPTIMIS!

Djohan Lim*)

Wow, kita sudah memasuki tahun 2016! Apakah kamu sudah menulis tujuan atau  goal tahun 2016? Bagaimana persiapan kamu menghadapi ujian kenaikan kelas atau UN? Bagaimana bisa tetap optimis menjalani tahun 2016?

Ada  sebuah cerita menarik tentang dua orang pemuda penjelajah alam. Seorang pemuda penjelajah alam, berjalan dari sebuah desa di pegunungan ke sebuah desa di lembah. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang petani tua yang sedang bekerja di ladang. Pemuda itu berhenti dan bertanya, “Maaf Pak Tua, saya sedang dalam perjalanan ke desa di lembah. Bisakah Bapak menceritakan bagaimana keadaan desa tersebut?”

Petani tua itu berhenti dari pekerjaannya dan dengan tersenyum balik bertanya kepada pemuda itu, “Kamu datang dari mana?”

Pemuda itu menjawab, “Aku datang dari desa di pegunungan.”

“Bisakah kamu ceritakan seperti apa desa di pengunungan itu?” tanya petani.

“Waduh, mengerikan sekali!” pemuda itu berseru. “Tidak ada yang bisa berbicara dengan bahasa yang dapat saya mengerti! Saya harus tidur di lantai tanah dingin di salah satu rumah penduduk desa! Bahkan mereka memberi saya makan semacam sup rumput yang rasanya lebih pas buat makanan ternak! Belum lagi cuaca di sana sangat tidak nyaman dan dingin!”

Setelah mendengar cerita pemuda tadi, petani tua berkata, “Jika demikian, saya berpikir bahwa di desa lembah, kamu akan menemukan situasi yang kurang lebih sama dengan yang di desa pengunungan.”

Beberapa jam kemudian pemuda penjelajah alam lain lewat di samping ladang petani tua.  Pemuda ini juga bertanya kepada petani tua, “Maaf Pak Tua, saya sedang dalam perjalanan ke desa di lembah. Bisakah Bapak ceritakan bagaimana keadaan desa di sana?”

“Dari mana asalmu, Nak?”

“Saya datang dari desa di pegunungan.”

“O desa di pengunungan. Bagaimana keadaan desa itu?”

“Desa yang mengagumkan!” pemuda itu menjawab dengan antusias. “Di sana tidak ada yang bisa berbicara dengan bahasa yang dapat saya mengerti. Jadi, kami harus berkomunikasi menggunakan gerakan tangan dan ekspresi wajah. Saya masih tersenyum ketika mengingat hal itu. Saya harus tidur di lantai tanah yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Penduduk desa itu memiliki makanan yang khas, yakni semacam rebusan aneh dan saya tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Rasanya baru buat lidah saya!  Suatu pengalaman yang luar biasa melihat penduduk desa biasa hidup dalam cuaca dingin. Itu salah satu perjalanan terbaik dalam hidup saya!”

Petani tua itu tersenyum mendengarkan pemuda ini bercerita dengan penuh semangat.

“Jika demikian, saya berpikir bahwa kamu akan menemukan pengalaman yang luar biasa juga di desa lembah.”

Dari cerita di atas, kamu dapat belajar bahwa suatu situasi bisa memiliki pandangan yang berlainan dari masing-masing orang. Pemuda yang pertama melihat segala sesuatu dengan kacamata negatif, sedangkan pemuda kedua melihat dengan pandangan positif. Demikian juga dalam menjalani tahun ini, kamu dapat memilih untuk memandang dengan kaca mata negatif atau dalam semangat positif.

Semua tergantung  padamu.

Dalam artikel ini, kamu bisa belajar bagaimana menikmati hari-hari di depan dengan positif dan semangat yang optimis!

  • Semua hal yang baik, berujung baik.

Apa pun yang akan kamu hadapi di hari esok, ketika kamu berbuat baik, percayalah bahwa semuanya akan berujung baik juga, walaupun hasilnya saat ini mengecewakan. Bisa saja kamu melakukan kesalahan dan kecerobohan. Tetapi ketika kamu menyadarinya dan bangkit kembali, pengalaman pahit saat ini pasti akan berujung baik. Jadi, dengan mengetahui bahwa semua akan berujung baik, akan membuat kamu berani mengambil langkah demi langkah untuk mencapai goal di tahun 2016.

Cobalah hal-hal baru yang positif bersama teman-teman. Wujudkan mimpi-mimpimu. Hidup ini penuh warna. Jadi, mari nikmati setiap hari dengan warna baru!

  • Lakukan yang baik sekarang, jangan menunda.

Tidak  ada hari buruk untuk memulai sesuatu yang baik. Setiap bangun pagi, ingatkan dirimu bahwa hari ini adalah hari terbaikmu! Jadi jangan membiasakan dirimu untuk menunda. Apa pun yang kamu tunda hari ini akan menjadi beban hari esok. Jangan menunggu semua berjalan baik baru kamu akan bertindak.

Terlalu banyak remaja saat ini tidak bergerak karena alasan menunggu timing yang tepat. Padahal itu hanya alasan yang dibuat karena kemalasan dan ketakutan. Ingatlah, sesuatu yang sempurna sebenarnya diawali dengan yang  tidak sempurna. Jadi, ayo bergerak dan lakukan sekarang apa yang selama ini hanya sebatas rencana dan mimpi. Apakah kamu berencana untuk ke luar kota? Ikut camping?  Melayani di lingkungan? Terlibat dalam kegiatan sosial? Memberikan hadiah bagi orang tua?

Jangan menunggu hari baik. Jangan menunda. Jangan malas. Jangan banyak membuat alasan. Kalau bisa dimulai hari ini, kenapa harus menunggu besok?

  • Setiap hari adalah lembaran yang baru.

Kabar baik yang harus kamu ketahui :Hari ini adalah lembaran baru! Kesempatan baru! Keajaiban baru! Kekuatan baru! Itu artinya setiap hari kamu mendapat semangat yang baru dari Tuhan! Jangan biarkan kegagalan dan kesedihan kemarin membuat kamu terpuruk hari ini. Jika jatuh, harus bangun lagi karena hari ini diri kamu tidak sama dengan kemarin! Bukankah sudah dikatakan bahwa tidak ada kegagalan, yang ada adalah pembelajaran! Jadi, nikmatilah anugerah “hari baru” ini seperti menikmati segelas minuman hangat di pagi hari!

Ketika menulis artikel ini, saya   sangat optimis dan percaya bahwa kamu akan menikmati hari-hari di tahun ini dengan hal-hal besar yang luar biasa! Jadi mulailah bergerak dan isilah hari ini dengan semua yang terbaik yang dapat kamu lakukan!

“A pessimist sees the difficulty in every opportunity;

But an optimist sees the opportunity in every difficulty.”

― Winston S. Churchill

 *)Penulis adalah pemerhati kaum muda, anggota GBI Kalvari Jakarta

Editor: Yulita Evelin Datu

LIPUTAN KHUSUS | Hamba Tuhan di Tengah Pergaulan Global

PERLU TINGKATKAN KUALITAS “MIMBAR”

Pergantian tahun 2015 ke 2016 diikuti berbagai perubahan penting. Tepat di hari terakhir taun 2015, Indonesia dan sembilan negara anggota Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) menyepakati pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan demikian, Indonesia bersama Brunei, Filipina, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand dan Vietnam bersepakat meminimalkan hambatan-hambatan kegiatan ekonomi dalam kawasan ASEAN, seperti dalam perdagangan barang, jasa, investasi dan lalu-lintas tenaga kerja.

Salah satu bentuk konkretnya adalah pembebasan bea masuk (freight forwarding) ke setiap negara anggota ASEAN. Sejumlah kalangan mencemaskan, pembebasan bea masuk barang ini akan membuat Indonesia kebanjiran produk-produk luar negeri sehingga mematikan industri dalam negeri.

Padahal, kaum usahawan sejak kuartal terakhir 2015 sudah gelisah dengan adanya tuntutan kenaikan Upah Minimum Kota dan Kabupaten (UMK) 2016 yang akan menaikkan biaya produksi, sementara daya beli masyarakat relatif lemah akibat perlambatan ekonomi Indonesia dan dunia. Belum lagi berbagai keluhan terhadap etos kerja dan jam kerja padat karya di Indonesia yang rendah.

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani pada 14 Desember 2015 lalu, jam kerja di Vietnam jauh lebih tinggi ketimbang di Indonesia, yakni 48 jam berbanding 40 jam seminggu. Apalagi upah tenaga kerja di sana juga jauh lebih murah daripada Indonesia dan tidak pernah terjadi pemogokan dan ribut-ribut ketika menuntut kenaikan upah. Tak heran, investor lebih melirik Vietnam daripada Indonesia (www. bisniskeuangan.kompas.com).

Lantas, bagaimana dunia pendidikan teologi dan gereja-gereja di Indonesia menyikapi berbagai perubahan di awal tahun 2016 ini?

Ketua Departemen Pendidikan Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI) Pdt. Petrus Maryono mengatakan, banyak dosen sekolah tinggi teologi (STT) Baptis yang berpendidikan di luar negeri. Semestinya ini pun membuat para lulusan mumpuni dalam bidangnya.

Doktor lulusan Dallas Theological Seminary tersebut menambahkan, keterbukaan pintu pendidikan teologi sebenarnya sudah ada nun jauh sebelum munculnya isu MEA. Hal ini terjadi lantaran dukungan pesatnya perkembangan komunikasi, jejaring, dan kelancaran lalu lintas antarnegara.

“Hamba Tuhan perlu peka untuk meningkatkan ‘kualitas mimbarnya’. Maksudnya, kotbahnya jangan sampai menjadi khotbah yang hambar dan terkesan ‘kurang persiapan’. Pendeta atau hamba Tuhan harus mempersiapkan dengan baik, sehingga jemaat mendapatkan makanan rohani yang sehat,” ungkapnya kepada Andry Wahyu Pertiwi dari Suara Baptis (SB).

Dosen bahasa Yunani Sekolah Tinggi Teologia Injilil Indonesia (STTII) Yogyakarta ini menambahkan, “Kita sebenarnya diingatkan, baik dari Perjanjian Lama atau pun Perjanjian Baru, ketika bangsa Israel memasuki negeri perjanjian, mereka akan tahu bahwa akan masuk dalam lingkungan yang (pengajarannya) berseberangan dengan firman Tuhan. Itulah sebabnya, penting bagi kita hamba Tuhan mengajarkan hal yang paling utama, yaitu berpegang pada firman Tuhan.”

Menurut Pdt. Petrus, Perjanjian Baru juga memperingatkan, akan ada guru palsu dan serigala berbulu domba. Rasul Paulus pun mengatakan hal yang sama, akan datang malaikat gelap yang menyamar sebagai malaikat terang.

“Mendekati akhir zaman akan bermunculan pengajar-pengajar sesat,” paparnya.

Karena itu, tidak ada cara lain selain para Kristen tetap cermat menjalani kesalehan, menjalankan firman, giat pelayanan dan tekun dalam doa.

“Hal itu yang perlu ditekankan,” ujarnya.

Menanggapi MEA, kesepakatan tersebut berintikan berkat, yaitu peluang dan tantangan. Walaupun dampak MEA mungkin tidak begitu kentara atau tidak berimbas langsung ke gereja, hamba Tuhan maupun pendidikan teologi, Pdt. Petrus menegaskan, tidak mungkin pihak-pihak tersebut hanya “mengubur kepala di dalam pasir” alias menolak melihat kenyataan globalisasi yang nyatanya berpengaruh cukup besar. Maka, sambungnya, gereja pun harus turut memberi sumbangsih untuk memanfaatkan sisi baik globalisasi, mengoptimalkan peluang untuk maju, serta melemahkan pengaruh negatifnya.

Mengutip pendapat Romo Y.B. Mangunwijaya (Alm), anggota panitia perancang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Nyutran, Yogyakarta ini mengatakan, menjadi orang beriman di abad modern semakin berat dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Apalagi ketika iptek dan materialisme menjadi norma, pragmatisme menjadi pandangan hidup. Hal-hal tersebut akan melemahkan iman dan kebanyakan orang akan menjadi duniawi. Namun jika umat Kristen lebih dekat dengan Tuhan dan firman-Nya, juga tekun dalam pelayanan, mereka akan mampu bertahan.

Sepakat dengan Pdt. Petrus, Ketua Sekolah Tinggi Teologia  Baptis Jakarta (STTBJ) Pdt. Susanto Dwiraharjo pun mengakui, MEA sesungguhnya menjanjikan peluang yang cukup besar bagi Indonesia. Misalnya, peluang untuk meningkatkan diri, baik dalam kinerja dan utamanya dalam kepribadian sebagai anak-anak Tuhan.

Pdt. Susanto juga meyakini, MEA memberi peluang untuk meningkatkan kualitas STT yang dipimpinnya. “Kalau MEA terjadi, maka bahasa akan menjadi hal yang sangat penting. Di sinilah sekolah-sekolah tinggi teologia harus lebih meyiapkan diri dan mahasiswanya agar lebih terampil menguasai bahasa internasional,” tandasnya.

Bukan hanya bahasa, kecakapan dalam menjalin relasi dan berkomunikasi pun menjadi sangat penting. “Ya, memang banyak kendala, mengingat cukup banyak mahasiswa yang berasal dari luar Jawa. Jadi, dibutuhkan perhatian ekstra untuk menolong mereka membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, apalagi bahasa internasional,” jelasnya.

STTBJ memiliki beberapa dosen lulusan luar negeri, juga beberapa dosen tamu asing. Maka, sekolah ini dapat mendorong mahasiswa untuk mempraktikkan kecakapan berbahasa Inggris.

Pdt. Susanto mengaku, tiga tahunan lalu STTBJ pernah membuka kelas bahasa Mandarin kerja sama dengan mahasiswa dari Cina dan Taiwan. Namun program tersebut macet karena hambatan pengurusan visa dan masalah akademik. Dengan berjalannya MEA, anggota GBI Jakarta Baptist Community tersebut berharap, kesuilitan pengurusan visa dan sejenisnya tidak akan terjadi lagi. Ia bahkan optimis akan kemungkinan membuka program-program studi yang bersifat internasional.

Pdt. Susanto merasa, makin mudahnya warga ASEAN masuk Indonesia dalam pelaksanaan MEA akan mendorong pengenalan berbagai ajaran dan budaya baru. Maka, tugas hamba Tuhan dan praktisi akademisi Baptis adalah menyiapkan mahasiswa dan  umat Kristen dengan teologi yang alkitabiah.

Pererat Kekeluargaan Baptis

Ketua BPN GGBI Pdt. Yosia Wartono mengungkapkan, gereja sangat berperan dalam mempersiapkan mental dan kerohanian umat saat memasuki MEA. Dikatakannya, MEA harus menjadi prospek tiap gereja, namun jangan ditakuti. Dikatakannya, gereja perlu memanfaatkan peluang lalu lintas tenaga kerja asing untuk pengembangan penginjilan dan penuaian.

“Dengan adanya MEA, semua orang asing akan keluar-masuk negara ini. Gereja harus memandang itu sebagai prospek tuaian, karena tidak semua orang yang datang dari luar negeri itu percaya Tuhan Yesus,” ungkapnya kepada Luana Yunaneva dari SB.

Pdt. Wartono mengatakan, supaya dapat menjadikan arena MEA sebagai prospek, gereja harus paham strategi penginjilan. Salah satunya dengan mengembangkan penggunaan bahasa Inggris.

“Kita tidak perlu takut bersaing karena kapasitas kita tidak lebih rendah dari masyarakat Asia pada umumnya. Bahkan, menurut saya masyarakat Indonesia ini masyarakat yang serba bisa. Inilah yang seharusnya membuat kita optimis,” ujar Gembala Sidang GBI Setia Bakti Kediri ini.

Ia melanjutkan, para hamba Tuhan tinggal membuka wawasan kompetisi dalam MEA dan menjadikannya menjadikannya sebagai peluang, kepada warga gereja. Dengan demikian, jemaat mengetahui situasi dan kondisi yang akan dihadapi di masa mendatang. “Jadi, yang perlu disiapkan saat ini adalah mentalitas yang kompetitif dan spiritualitas yang matang, itulah tugas gereja.”

Dalam peran GGBI yang cukup majemuk, Pdt. Wartono mengungkapkan, pokok permasalahan yang sudah muncul sejak lama dan perlu dipikirkan bersama, yaitu masalah kebersamaan.  “Sekalipun selama ini kita sudah merasa bersama-sama, seringkali yang dimaksud kebersamaan adalah tiap gereja menyatakan ‘kami ini otonomi’. Kami melihat kebersamaan itu strategis dalam konteks bahasa Indonesia karena kita hidup di bawah tekanan berbagai sudut. Kalau kita berjalan masing-masing dengan mengatasnamakan otonomi, keberadaan kita akan sangat terbatas.”

Maka, ia mengajak umat Baptis Indonesia mempererat kekeluargaan antargereja dan terus bekerja sama sebagai keluarga besar GGBI.

Di sisi lain, Gembala Sidang GBI Tlogo Semarang, Pdt Nixon Siathen mengungkapkan, dalam MEA ini, Indonesia mungkin perlahan akan mengalami sedikit kejutan jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang berkembang ataupun yang sedang berkembang. Menurutnya, MEA akan banyak berpengaruh  pada lapangan pekerjaan, pendidikan, bahkan kesehatan.

Selain itu, banyaknya pandangan tentang MEA dan reaksi-reaksi yang banyak bermunculan, dapat mengacaukan fokus gereja. “Sebagai hamba Tuhan, melihat besar atau kecilnya tantangan yang akan terjadi, kami tidak akan lepas dari bagaimana kami percaya Tuhan. Kami tidak bisa berpegang pada pemikiran atau situasi yang sedang terjadi,” ungkapnya.

Ia yakin, pelbagai krisis yang selama ini disorot, justru menjadi peluang besar bagi peningkatan pelayanan para hamba Tuhan di Indonesia. “Kita tidak perlu takut! Sebaliknya kita harus percaya dan optimis. Bagaimanapun keadaannya, kita harus tetap mengandalkan Tuhan. Seperti yang tertulis dalam Yeremia 17 ayat 7, diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!”

Ia pun menuturkan, persaingan seperti apa pun bukanlah ancaman jika manusia mengandalkan Tuhan sepanjang waktu. Mereka yang melakukannya akan diberi kekuatan untuk menyongsong tahun yang terus datang kemudian.

Pewawancara : Luana Yunaneva & Andry W.P.

Penulis : Andry W.P.

Editor  : Prisetyadi Teguh Wibowo