RSS

Konser Musik Klasik Bandung

Musik Kelas Atas ??

Hentakan kaki paduan suara memukul lantai saat membawakan lagu “The Conversion of Saul” sangat menggema di ruangan berkapasitas 700 orang. lagu yang dibawakan secara ekspresif ini menggambarkan tentang proses perubahan Saulus yang kelak menjadi Paulus. Lagu “The Conversion of Saul” dibawakan akapela dinyanyikan dengan gaya yang berbeda, seperti suara bisikan, dan hentakan kaki.

Di awal tahun 2011, Kota Bandung disuguhi acara beraroma musik Klasik. Memang bukan dari Gereja Baptis yang mengadakannya namun bersyukur antusiasme jemaat Baptis untuk menikmati lagu klasik setidaknya masih ada.

Kedua acara ini menyuguhkan acara bernuansa klasik tetapi dengan nuansa yang berbeda, kesamaannya hanya terletak dalam aturannya, seperti ;

Selama acara diharapkan semua yang hadir tidak boleh meninggalkan ruangan, tidak boleh makan dan minum, tidak boleh merokok, handphone dinonaktifkan, dilarang mengambil gambar dengan handycam dan kamera foto dengan menggunakan cahaya. Aturan yang ketat, tapi sangat mendukung acara supaya berjalan dengan baik.

Konser klasik, Schubert Mass in G Major, Magnificat Church Choir, yang diadakan 29 Januari 2011 di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Kebonjati no. 100, Bandung, mampu menyedot sekitar 90 persen yang hadir dari 700 kapasitas tempat duduk yang tersedia.

Magnificat Church Choir Studio (MCCS) merupakan paduan suara lagu-lagu klasik gabungan dari beberapa gereja di Bandung. MCCS diprakarsai oleh Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Kebonjati no. 100. Keanggotaan MCCS tanpa dibatasi denominasi dan dipilih melalui audisi. Betania Arisandi yang pernah mengisi rubrik Single Plus “Suara Baptis” 1 Tahun 2010, pernah menjadi anggota MCCS pada tahun 2005.

Setiap tahunnya MCCS selalu mengadakan konser musik Klasik, untuk konser kali ini mengambil judul Schubert Mass in G Major.

Walaupun dimulai pukul 19.00 WIB, antusiasme penonton cukup bagus. Terbukti satu setengah jam sebelumnya, gereja sudah didatangi orang-orang yang ingin menyaksikan konser. Para orang tua, anak muda bahkan anak-anak berbaur ingin menyaksikan konser ini.

Konser ini disiapkan secara profesional, dengan membeli tiket, kita baru bisa menikmati konsernya. Ruangan gedung gereja berlantai dua ditata sederhana tidak diberi ornamen yang bermacam-macam. Untuk menjaga suasana tenang, penonton anak-anak dibawa ke lantai dua.

“Lagu-lagu yang akan dibawakan adalah lagu dengan faktor kesulitan yang tinggi,  dibawakan dalam indahnya musik klasik,” kata pembawa acara mengawali konser ini.

Semua penonton terdiam saat konser dimulai. Dari arah pintu panggung keluar Paduan Suara Magnificat Church Choir dengan menggunakan jubah biru putih. Ada 23 wanita dan 13 pria, terbagi dalam suara sopran, alto, tenor dan bass, dengan satu dirigen.

Lagu berjenis akapela berjudul “Magnificat” dipilih sebagai pembuka konser. Ruangan yang menggema menambah suasana konser semakin baik. Ada 18 lagu klasik yang dinyanyikan. secara akapela, maupun dengan iringan piano dan organ.

Mengatasi lagu-lagu yang sulit seperti konser Schubert Mass in G Major tanpa adanya latihan yang cukup dan kerja sama yang baik tidak akan mungkin menghasilkan paduan suara gereja yang bagus.

“Dalam lagu klasik dituntut teknik vokal yang cukup matang. Kalau tidak, sulit untuk menjangkau nada-nadanya. Dan diperlukan kebersamaan teknik untuk bisa membentuk bunyi yang lebih sama,” ujar Indra Listiyanto, Direktur Musik MCCS sekaligus dirigen in konser Schubert Mass in G Major.

Indra yang pernah menjadi dirigen terbaik mewakili kontingen Jawa Barat dalam Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional V menambahkan, untuk latihan MMCS membutuhkan waktu 10 bulan dengan jarak latihan seminggu sekali. Dan bila sudah mendekati konser, latihan diperketat menjadi seminggu dua kali.

“Rata-rata usia MCCS sekitar 20 sampai 60 tahun. Rata-rata mereka punya banyak kesibukan sehingga untuk berkumpul selalu ada kendala. Tapi Puji Tuhan konser tadi berjalan dengan lancar,” imbuhnya.

Konser Schubert Mass in G Major berakhir pukul 21:00 WIB. Banyak anak muda yang hadir dalam konser ini.

“Saya suka lagu klasik, jadinya saya nonton konser ini. Dulu saya pernah beli lagu-lagu klasik di LLB (Lembaga Literatur Baptis), ” tutur Hendra, jemaat Gereja Utusan Pantekosta Bandung yang datang bersama seorang temannya.

Salah satu panitia penyelenggara Silvy Rustandi mengatakan bahwa visi yang ingin diraih MCCS adalah untuk memajukan paduan suara gereja.

“Harapan kami, dengan adanya Magnificat Church Choir ada banyak paduan suara gereja yang bisa berkembang lebih baik ke depan,” tuturnya.

 

Menikmati musik klasik

Gairah untuk menghargai musik klasik gereja-gereja di Bandung selama beberapa tahun terakhir terlihat nyata. Ironisnya, gereja-gereja Baptis kurang menunjukkan sekap serupa. Padahal di tahun 1970-an gereja Baptis menjadi acuan dalam dunia musik gereja.

“Kalau tidak mengerti, akan sulit untuk menikmati musik klasik,” kata Pdt. Billy Kristanto dalam seminar Apresiasi Musik Klasik di di Balarea Room, Bandung Trade center (BTC). Acara ini diprakarsai Sekolah Tinggi Reformed Injili Bandung, Selasa 15 Februari 2011.

“Ada yang berpendapat musik abad pertengahan tidak bersemangat, tidak membawa gairah, orang yang berpendapat seperti itu menutup diri ke dalam suatu kemungkinan untuk diperkaya Tuhan, karena musik itu berkat Tuhan,” tutur dosen Sekolah Tinggi Teologia Reformed Injili Internasional jurusan Musik ini.

Pdt. Billy pernah menempuh studi di Berlin, Den Haag, dan Heildeberg. Ia pernah berkesempatan belajar di bawah musikus ternama seperti Ton Koopman dan musikolog Silke Leopold.

Dikatakannya, banyak penyelidikan membuktikan adanya korelasi hidup manusia dengan konsumsi musik. Apalagi orang yang memainkan musik atau menyanyi ada pengaruh dalam kejiwaan, kerohanian, psikologi dan intelektual manusia.

“Di dunia ini kita harus bertekun kalau ingin mengejar sesuatu,” ujar pendeta yang melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia tersebut.

Seminar musik klasik di awal tahun 2011 ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Bandung, apalagi seminar ini bertepatan dengan hari libur nasional. Terbukti ruangan Balarea seluas 1.300 meter persegi dipenuhi sekitar 1.100 peserta. Anak-anak, pemuda, orang tua semua hadir di sini.

“Kita mau mengajarkan bagaimana orang mengerti musik klasik secara umum, Kadang-kadang orang masih bingung, anggapannya musik klasik sebagai musik kelas atas,” tutur Arif, ketua penyelenggara seminar.

Seminar yang dibarengi konser dengan penjelasan musik klasik berlangsung dari pukul 16.00 WIB hingga 20.30 WIB.

Ketua Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPD GGBI) Jawa Barat, Pdt. Stefanus Joko Budiyanto hadir di seminar ini bersama Judith, anaknya.

“Saya membawa anak saya, supaya ke depan ia mencintai musik-musik klasik,” tuturnya.

Bagaimana bila Baptis mengadakan seminar musik klasik seperti ini?

“Mungkin perlu dicoba dan itu sangat bagus. Kita belum tahu animonya seperti apa. Baptis sekarang ini perkembangannya semakin mengikuti keadaan zaman. Musik-musik kontemporer yang sering dipakai sehingga musik-musik himne sudah mulai ditinggalkan,” ujar Pdt. Joko.

Tampak juga jemaat GBI Bakti, Dkn. Suyanto Japara yang hadir bersama keluarganya. Ia hadir di seminar ini untuk memperdalam musik klasik dan kaitan musik klasik dengan Tuhan.

“Mungkin sekarang musik-musik klasik terlalu sulit atau gimana, jadi sekarang kita mencari yang praktisnya saja, yang cepat, langsung enak,” ujar Dkn. Suyanto.

Pengisi suara tenor di Paduan Suara GBI Bakti ini berharap, pemuda-pemuda Baptis rajin belajar musik klasik sehingga bisa mengembangkan musik-musik gereja yang bagus, ada unsur kebenaran sehingga pertumbuhan rohaninya sehat.

Seminar yang berdurasi hampir empat jam ini tidak membuat Alan Suparman beranjak dari kursinya. Pemuda anggota GBI Baithlahim yang hadir dalam seminar di BTC ini terlihat menikmati.

“Saya datang ke acara seminar Apresiasi Musik Klasik karena ingin lebih tahu tentang musik klasik. Belum mengena semua sih, cuma dikit, ” tutur Alan yang datang sendirian.

Alan memiliki harapan yang sama dengan Dkn. Japara yaitu agar anak muda Baptis mau belajar tentang musik klasik, warisan yang luar biasa dan mutunya tidak diragukan lagi.

 

Sb/bigjohn





Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.