RSS

GBI Pniel Surabaya – Tak Lagi Kebanjiran

Menatap gedung Gereja Baptis Indonesia (GBI) Pniel di Jl. Simokwagean 47 Surabaya Oktober 2010 lalu, Suara Baptis cukup kaget. Maklum, kesan yang tertinggal sesudah menginap di pastori sebelah ruang kebaktian tahun 1996 lalu, gedung GBI Pniel kecil dan sederhana. Namun kini, gedung gereja telah dipugar sehingga elok dan mampu memuat jemaat lebih banyak. Beberapa pohon dan tanaman hias berdiri di depan dan samping kanan gereja sehingga terasa teduh di tengah udara kota Surabaya yang panas.

Juga pastori untuk tempat tinggal keluarga gembala sidang kini menjadi lebih nyaman dan lebih besar. Di teras pastori, sejumlah pot berisi tanaman hias berjejer cantik berkat sentuhan tangan Wahyuni, istri Gembala Sidang GBI Pniel Pdt. Royo Haryono. Maka, membaca koran pagi dan menyeruput teh manis hangat di teras itu menjadi nikmat rasanya.

“Yang mengatur tanaman itu memang saya, tetapi asal tanaman itu dari jemaat dan wali murid. Kalau saya memelihara tanaman itu sama dengan mengingat jemaat yang memberi (tanaman itu) dan mendoakan mereka,” kata Yuni, sapaan sehari-hari ibu dari Yehezkiel Kharis Haryono dan Jehuda Halel Haryono itu.

Dan yang paling penting, tahun 2003 kompleks gereja ditinggikan sekitar 1,25 meter sehingga jemaat dan keluarga gembala sidang tak perlu lagi menderita akibat banjir. Perencanaan dimulai tahun 2001 dan pembangunan baru terlaksana dua tahun kemudian.

Sebelumnya, air dari selokan pinggir jalan selalu menyerbu ruangan gereja maupun pastori yang letaknya lebih rendah. Serbuan juga datang dari semburan air dari bawah lantai pastori hingga 40 cm. Dapat dibayangkan, betapa repot dan nestapa keluarga Pdt. Hari setiap kali hujan datang. Di wilayah ini, banjir selalu datang tak tertahan setiap kali turun hujan.

“Saya berterima kasih kepada Tuhan dan jemaat, khususnya para panitia perancang dan panitia pembangunan yang dipimpin Pak Gatot Gunarso, Pak Adelan, Pak Dodik, Pak Isman, dan Pak Ardian. Rupanya jemaat ini betul-betul memiliki satu keprihatinan yang sama dengan gembala pada waktu melihat gerejanya kebanjiran,” komentar Pdt. Hari tentang renovasi kompleks gereja hasil swadaya jemaat.

Mengenang masa-masa kebanjiran, Yuni bersyukur karena jemaat selalu datang membantu membersihkan pastori. Meski sedih dan repot karena selama beberapa tahun selalu kebanjiran di musim hujan, Yuni dan keluarganya tetap tegar mengingat di sekitar mereka pun banyak rumah terendam air. Bahkan setiap kali banjir, jemaat berusaha mengungsikan keluarga gembala sidangnya ke hotel.

Meski sangat menghargai kepedulian tersebut, Yuni maupun Pdt. Hari menolak penginapan gratis di hotel dari jemaatnya.

“(Dengan tetap tinggal di pastori), kami bisa turut merasakan penderitaan teman-teman di Surabaya, khususnya penderitaan jemaat. Dengan demikian kami bisa sehati, merasa sekeluarga. Dalam pelayanan di mana pun, selalu ada risiko dan tanggung jawab. Jadi, tidak boleh pergi begitu saja. Kami juga harus berjaga-jaga di gereja karena ada banyak barang (yang harus diamankan dari rendaman banjir,” tutur Pdt. Hari.

Sesudah delapan tahun tanpa gembala sidang, Pdt. Hari akhirnya melayani GBI Pniel mulai 29 April 2000. Selain selalu kebanjiran di musim hujan, kehidupan bergereja terasa muram. Pos Pusat Pengembangan Anak (PPA) hampir ditutup, dan beberapa persoalan lain karena jemaat cukup lama tanpa memiliki gembala sidang.

“Mungkin saat itu perlu lebih merapatkan barisan menyatukan karunia, memastikan siapa yang selayaknya mengelola pendidikan, kembali merenungkan hal-hal yang perlu diperbaiki dan beberapa persoalan lainnya,” tutur Pdt. Hari.

Dibantu sejumlah anggota jemaat dan Pdt. Sinu yang juga menjadi anggota jemaat GI Mursito sebagai ketua panitia perancang, Pdt. Hari melakukan pembenahan.

“Saya tidak segan-segan minta nasihat karena mereka ini orang-orang yang betul-betul dipakai Tuhan. Lalu kawan-kawan muda yang pikirannya maju, kita satukan duduk bersama. Dengan pertolongan Tuhan, ketekunan dan kesadaran kami untuk lebih taat kepada hukum Tuhan, Dia memberkati dengan penyelesaian (beberapa persoalan mendasar),” kata Pdt. Hari.

GBI Pniel memiliki berbagai pelayanan, seperti mengelola dua kelas sekolah taman kanak-kanak, enam kelas sekolah dasar, PPA umur 3-20 tahun, hingga Sekolah Alkitab Baptis (SAB) yang menurut Pdt. Hari amat menolong pelayan-pelayan awam untuk memahami doktrin Baptis, teologi, dan berbagai keterampilan praktis pelayanan. Uniknya, SAB yang dibuka 10 tahun lalu sekarang memiliki siswa dari anggota persekutuan kaum muda sampai lanjut usia.

Jumlah kehadiran dalam kebaktian Minggu pagi sekitar 150 orang, dan kebaktian sore 45- 60 dengan orang yang berbeda. kelas-kelas Sekolah Minggu (SM) pun komplet, mulai dari Asuhan, Indria, Pratama, Madya, Tunas Muda, Muda Remaja, Pemuda, Dewasa dan Lanjut Usia plus 1 kelas persiapan baptisan.

Akur Tanpa Anggaran Dasar

Memimpin gereja di kota besar tanpa anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) yang mengatur tata kerja dan panduan mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah, biasanya akan menimbulkan banyak kerepotan. Namun GBI Pniel tidak mengalami masalah berarti meski tidak memiliki AD/ART. Bila sebagian gereja tidak memiliki AD/ART karena tidak mampu membuatnya, GBI Pniel tidaklah demikian.

Sesudah berusaha keras menyusun AD/ART gereja, sekitar lima tahun lalu jemaat GBI Pniel akhirnya sepakat menghentikan proses penyusunan tersebut. Sebagai pengganti aturan formal, jemaat memilih menjalankan roda gereja berdasarkan kasih dan saling memahami. Kalau toh kelak ada masalah yang sukar diselesaikan, gereja akan mengacu pada AD/ART Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI).

“Kita sadar, mestinya ada aturan tertulis, ada pedoman untuk penyelesaian-penyelesaian masalah. Tetapi kembali kepada kesepakatan teman-teman melalui rapat urusan gereja waktu itu, daripada kita payah-payah buatkan AD/ART, kenapa kita tidak mengacu saja pada (AD/ART) BPN (Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia, red.) itu? Akhirnya kita memutuskan bahwa apa yang ada di dalam AD/ART BPN GGBI itu menjadi pedoman bagi Pniel, ditambah dengan kasih. Harus bisa saling mengasihi satu  dengan yang lain,” tutur Guru Injil (GI) GBI Pniel, Mursito.

Yang menarik, GBI Pniel memilih tidak membuat AD/ART, padahal beberapa anggota gerejanya mengerti betul tentang hukum. Misalnya Himawan Estu Bagyo yang menjadi Ketua Asosisasi Pengajar Hukum Tata Negara Provinsi Jawa Timur, GI Mursito yang adalah dosen ilmu hukum di Universitas Hang Tuah, dan Gatot Gunarso yang tengah mengambil program doktoral hukum di Universitas Tujuh Belas Agustus. Padahal, sudah menjadi pengetahuan umum, orang-orang hukum biasanya gemar menyusun dan mempersoalkan berbagai peraturan organisasi termasuk AD/ART gereja.

“Yang penting kan implumentasi dari segala yang ada? Mungkin teman-teman itu sangat dipengaruhi sistem hukum Inggris yang kebanyakan tidak tertulis tetapi sangat dipatuhi warganya. Jadi, kita kan bisa menyelesaikan dengan musyawarah kalau ada hal yang sangat mendesak, dan kita bisa saling mengingatkan satu dengan yang lain,” sambung GI Mursito.

Dikatakannya, peraturan tertulis pun kadang-kadang mudah dilanggar atau menimbulkan kerancuan tafsir. Dengan mengutamakan musyawarah, demkian GI Mursito, gereja lebih memiliki semangat kekeluargaan.

“Saya sangat senang kalau di GGBI pun begitu. Daripada pengambilan keputusan secara voting terus, sekali-kali (sebaiknya) ada musyawarah-mufakat. Dulu waktu saya ikut kongres, sedikit-sedikit voting tanpa ada musyawarah mufakat lebih dahulu. Untuk alam Indonesia, kenapa kita tidak menggunakan musyawarah mufakat dulu? Kalau itu buntu, baru voting. Terakhir saya ikut kongres tahun 2000 di Cisarua, selalu voting, sesudah itu rame. Rasanya kurang pas di hati, ya?” ungkapnya.

Namun GI Mursito menyadari, keadaan tanpa AD/ART tidak lalu dapat diterapkan di setiap gereja karena masing-masing memiliki keunikan. Namun yang penting menurutnya adalah saling pengertian antara gembala sidang dengan jemaat. Gembala sidang perlu lebih terbuka kalau menerima masukan-masukan pendapat dari jemaat.

“Kalau kita bisa terbuka, mengerti satu sama lain, itu jalan terbaik bahwa gereja yang menunjukkan kasih kepada sesama,” kata GI Mursito.

Sementara Gatot Gunarso menyebutkan, pembahasan rancangan AD/ART gereja akhirnya berhenti ketika memasuki persoalan-persoalan teknis.

“Waktu kami bicara subtansi teknis, dirasakan tidak perlu dilanjutkan lagi. Jadi akhirnya tanpa AD/ART tetapi yang penting prinsip, visi, misi alkitabiah. Pak Satjipto Rahardjo (guru besar sosiologi hukum terkenal, meninggal Januari 2010, red.) pernah berkata, semakin kita mengatur dengan rinci semakin kita nanti menemukan ketidak beraturan. Jadi, untuk hal-hal yang  sangat teknis itu, makin diatur, makin ketemu yang kurang yang baru dan menimbulkan persoalan-persoalan yang baru. AD/ART kan dipakai dasar untuk menyelesaikan persoalan-persoalan gereja. Tetapi justru karena dibatasi AD/ART, kami berpikir akan muncul hal-hal lain yang tidak akan ada habisnya.”

Karena itu, lanjut Gatot, akhirnya diputuskan, GBI Pniel menggunakan prinsip-prinsip yang tertulis dalam Alkitab untuk mengatur gereja. Sementara dalam struktur organisasi GBI Pniel, gembala sidang duduk sebagai penasihat yang memberikan saran terhadap keputusan-keputusan rapat. Menurut Gatot, keadaan ini menimbulkan suasana kekeluargaan yang teduh.

Lantas, bagaimana kalau terjadi konflik misalnya tentang batasan usia pelayanan gembala sidang bila gereja tidak memiliki peraturan yang jelas?

“Kami lebih cenderung berembuk dalam rapat urusan gereja saja. Dalam rapat biasanya orang punya referensi-referensi, itu akan dipadukan. Memang ada gesekan sedikit, perbedaan pendapat, tetapi dengan prinsip sebagai organisasi rohani, kami berpikir tidak ada masalah teknis yang tidak bisa diselesaikan,” jawab Gatot.

Ketua Pengawas Yayasan Baptis Indonesia (YBI) ini mengakui, mempraktikan hal itu tidaklah mudah. Terkadang, tambahnya, muncul persoalan yang agak rumit namun selama ini selalu berhasil diselesaikan melalui musyawarah.

Selain soal kematangan pribadi jemaat dan para pemimpinnya, keberhasilan ini juga ditentukan kondisi GBI Pniel yang diduga selama ini bertumbuh melalui proses seperti itu.

“Memang di gereja ini ada beberapa orang yang dipandang bisa mewakili jemaat untuk berdiskusi atau membahas segala persoalan. Sementara ini mungkin jemaaat masih mendukung dan percaya apa yang kita lakukan, semua untuk kemuliaan Tuhan. Satu gereja tidak sama (dengan yang lain), ya? Budaya di sini, jemaat percaya kepada beberapa orang yang rapat dan mengambil keputusan. Mungkin ini agak berbeda dengan gereja lain ya, ada banyak faktor (penyebab), faktor tingkat pendidikan jemaat, hubungan internal jemaat dan faktor-faktor lain. Instrumennya adalah keputusan tertulis rapat urusan gereja, itu sebagai pedoman saat ada masalah-masalah. Dalam bahasa hukum, yurisprudensi atau keputusan yang dulu bisa dipakai untuk menyelesaikan persoalan-persoalan serupa yang datang,” kata Gatot.

Mengutamakan musyawarah ketimbang dibatasi aturan-aturan resmi dalam AD/ART gereja menjadi cara paling pas bagi GBI Pniel hingga sekarang ini. Menurut Gatot, hal ini sangat ditentukan sejauh mana jemaat mampu menerima satu dengan yang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

“Yang paling susah itu bagaimana bisa menerima orang lain. Itu saya kira itu soal kematangan. Jadi, di sini terutama pemimpin-pemimpin gereja harus memberi contoh supaya bisa saling menerima. Sebab kalau pemimpinya pecah, jemaat pasti terpengaruh. Kunci yang kedua ya mencintai gereja kita. Kita lahir di sini, kita dibesarkan, secara pribadi saya dibaptiskan di sini lalu, lalu rohani saya dibimbing di sini. Ya, gereja ini dipakai Tuhan untuk membesarkan kerohanian kita, sehingga kita mencintai gereja kita masing-masing,” ungkap Gatot.

Dari tempat berbeda, baik GI Mursito maupun Gembala Sidang GBI Pniel Pdt. Daniel Royo Hariono menyatakan, selama ini gereja tidak mengalami persoalan yang terlalu sulit diatasi meski tanpa AD/ART.

“Sejauh ini tidak ada masalah yang sangat besar karena didasari dengan kesadaran bersama bahwa kita ini tubuh Kristus, kita adalah keluarga Allah, di mana kita sadar bahwa rupa-rupa jabatan pelayanan di gereja ini harus patuh dan tunduk kepada Allah,” tutur Pdt. Hari, sapaan karib ayah dua anak ini.

Tentu saja, lanjutnya, masalah dalam pelayanan gereja selalu ada. Kunci mengatasinya, gembala sidang harus taat pada panggilannya dan sadar penuh bahwa ia hanya hamba yang melayani Tuhan dan jemaatnya. Di pihak lain, jemaat perlu menyadari bahwa mereka patuh pada Tuhan dan mengikuti pimpinan gembala sidangnya.

“Sehingga waktu terjadi beberapa persoalan yang menyangkut kehidupan jemaat dengan gembala, jemaat dengan sesama jemaat atau bahkan kehidupan berorganisasi, selalu ada jalan keluar dengan musyawarah dan mufakat berdasarkan kasih,” ungkap pria kelahiran Semarang 13 Maret 1970 ini.

Upaya memecahkan masalah sering kali dilakukan melalui cara-cara sederhana, mulai dari berbicara melalui telepon, perbincangan di tempat parkir, atau percakapan-percakapan tidak resmi lainnya.

“Kadang-kadang apa yang kita bicarakan, sampai di rumah kita catat, lalu dikonfirmasi ulang kemudian menjadi sebuah kesepakatan bersama untuk dilakukan,” lanjutnya.

Memasuki 12 tahun pelayanan di GBI Pniel, Pdt. Hari menangkap kesan, jemaat yang dilayaninya sangat mematuhi ketetapan Tuhan terutama dalam kehidupan bergereja. Terbukti, demikian Pdt. Hari, mereka bisa menempatkan diri sebagai jemaat yang rela dipimpin gembala sidang, meski banyak di antaranya berpengetahuan luas dan memiliki karunia-karunia yang melebihi dirinya. Menurut Pdt. Hari, hal ini menimbulkan hubungan gembala sidang dan jemaat yang harmonis.

“Saya bersyukur karena diberkati untuk mengembalakan jemaat yang patuh kepada Tuhan. Mereka jemaat yang sungguh-sungguh sadar bahwa mereka hamba-hamba Kristus, taat kepada ketuhanan Kristus dan Alkitab, menghormati pimpinan gembalanya, saling mengasihi satu dengan yang lain. Walaupun ada kekurangan-kekurangan, itu wajar sebagai manusia,” ujarnya.

Sementara Yuni mengungkapkan, selama sesudah delapan tahun tidak bergembala sidang, jemaat membutuhkan keluarga gembala sidang sebagai teman dalam pelayanan gereja.

“Setiap jemaat punya kelebihan dan kekurangan. Tetapi jemaat yang sekarang ini lebih erat satu dengan yang lain seperti keluarga sendiri bagi saya,” kata Yuni.

Selama 12 tahun melayani di GBI Pniel, masih betahkah Yuni di sana?

“Sampai saat ini kami sangat nyaman di sini. Ini rumah kami, ini ladang pelayanan yang Tuhan percayakan, belum pernah terpikir sedikit pun untuk pindah. Semakin hari semakin banyak yang terlibat melayani sehingga jemaat semakin mengerti isi hati kami. Juga karena tugas kami belum selesai,” jawab Yuni seraya menyebutkan sejumlah pembenahan pada gedung gereja, kondisi sekolah dasar, dan PPA.

“Tetapi terserah Tuhan, kami ini kan hamba-Nya. Kalau diminta pindah menjadi karyawan LLB (Lembaga Literatur Baptis), boleh,” seloroh Yuni sembari tertawa.

Selama seminggu tinggal bersama keluarga Pdt. Hari, Suara Baptis mendapati banyak makanan dari anggota jemaat untuk keluarga gembala sidang. Citra yang muncul, mereka sangat mengasihi keluarga gembala sidangnya.

Menanggapi hal ini, Pdt. Hari mengungkapkan rasa syukurnya. “Itu wujud kedewasaan jemaat, wujud kasih kepada Tuhan serta hamba-Nya.”

Diingatkannya, baik gembala sidang maupun jemaat adalah tubuh Kristus dan keluarga rohani. Karena itu perlu saling memahami, saling tolong, dan saling mengampuni.

“Dan yang terpenting adalah rendah hati satu dengan yang lain, lebih taat kepada Tuhan Yesus Kristus dan ajaran Alkitab,” harapnya.

SB/anes/yudas/pris





Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.