Munas II GGBI | WARNASARI GEREJA, TETAP PEMERAN UTAMA

Tepat di pukul 10.00 WIB, acara pengesahan dilanjutkan ke sesi WARNASARI yang dipimpin Pdt. Paul Kabariyanto. Lepas membacakan poin musyawarah, beberapa peserta kembali mengajukan usulan berkenaan dengan agenda acara bersama ke depan.

Loyalitas, sempat terucap dari Pdt. Dodik Hernowo, Gembala Sidang GBI Klaten. Menyepakati keluhan Eleonora Moniung sebelumnya yang menyayangkan ketidakhadiran para perwakilan lembaga di sesi-sesi terakhir, khususnya ketika yang dimaksud tidak menginap bersama dengan peserta lain di Wisma Retret Baptis (WRB) Bukit Soka, Salatiga.

“Tidak ada kesan keluarga besar di akhir musyawarah, karena sampai detik ini narasumber banyak yang tidak hadir!” tandas Elen.

Pdt. Dodik pun mengungkapkan kekecewaannya pada jajaran yayasan dan lembaga yang tidak lengkap mengisi bangku musyawarah, dan menganggap itu sebagai bentuk ketidakloyalan.

Menjawab pertanyaan berintonasi tinggi tersebut, Sekretaris Pembina YBI/YRSBI Yohanes Widoyoko Irawan mengambil alih. Sebagai salah satu tokoh yang duduk di deretan kursi lembaga, ia menjelaskan, “Dalam MUNAS ini kan yang wajib hadir adalah utusan gereja. Jika Bapak Ibu bertanya, mengapa tidak semua (pimpinan) lembaga hadir, perlu diketahui, sebenarnya yayasan, lembaga, dan BPN GGBI itu diundang untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban dan program. Jika tugas tersebut sudah selesai, yang bersangkutan berhak meninggalkan tempat.”

Ia melanjutkan, “Hampir semua pengurus dan pengawas sudah bekerja sangat keras, jadi mohon dimaklumi. Dan saya memohon maaf atas nama pengurus dan pengawas, karena belum sampai selesai sudah meninggalkan tempat ini. Para pengurus dan pengawas lain itu ladangnya tidak di sini (yayasan atau lembaga), mereka punya lapangan pekerjaan lain. Saya dan Pdt David (Ketua Pembina YBI/YRSBI) masih bisa tetap di sini karena kami ini pengangguran, jadi sampai besok pun masih bisa kami ladeni,” paparnya santai dan kalem, disambut tawa para peserta.

Masih soal peran yayasan, sehubungan dengan rencana pembangunan aula di WRB Bukit Soka, Salatiga (yang bisa memuat 800 orang untuk MUBES) juga perluasan sarana penginapan, Widoyoko pun menjelaskan, bahwa ini bukan tanggung jawab yayasan. Ia meminta agar umat tidak salah paham dan kemudian menuntut Yayasan Baptis Indonesia (YBI) untuk bertanggung jawab penuh.

“Sifat kami (YBI dan YRSBI) hanyalah supporting system, jadi kami hanya mendukung. Jadi penyelenggaraan MUBES tetap ada di tangan BPN GGBI dan gereja!” tegasnya.

Pdt. Hana membenarkan penjelasan tersebut. Ia berharap sisa dari beban biaya pembangunan aula maupun penambahan bangunan penginapan di WRB Bukit Soka Salatiga ini, juga menjadi beban umat. Bahkan seharusnya, umatlah yang bertanggung jawab penuh, mengingat kepentingan acara musyawarah-musyawarah adalah kepentingan umat.

Rencana pembangunan ini bertujuan menghemat anggaran musyawarah berikutnya agar sebagian peserta tidak perlu menginap di hotel. Usaha menghemat anggaran ini juga dilakukan dengan mengganti model buku minit ke bentuk Compact Disc (CD). Di samping mengirit ongkos cetak, bentuk soft copy ini dapat memudahkan peserta untuk membawanya di pertemuan berikutnya dan memudahkan penyalinan.

Berbicara mengenai musyawarah selanjutnya, Pdt. Hana mengimbuhkan, setiap gereja sebaiknya tidak mengganti-ganti utusan, karena keputusan Munas akan terus berkesinambungan.
Ia juga terus mengingatkan peserta bahwa kekuatan tetap di tangan umat, dan penting untuk terus menjalin kebersamaan dan asas kekeluargaan.

Penulis : Andry W.P
Editor : Prisetyadi Teguh W.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*