Munas II GGBI | MUSYAWARAH PLENO VI, REVISI SURAT KETETAPAN, BAMUSNAS TERBUKA MENERIMA MASUKAN

Di penghujung agenda MUNAS II 2016 (Rabu, 10/3/2016), meski sebagian kecil peserta dan beberapa perwakilan lembaga sudah meninggalkan Salatiga karena beberapa kepentingan, peserta lain yang tersisa masih tampak antusias mengikuti musyawarah.

Kali ini, sesi Pengesahan dan Warnasari dipimpin Pdt. Frank Stevanus Daud Suitela, sekretaris BAMUSNAS. Runut, Pdt. Frank membacakan 15 lembar Surat Ketetapan Musyawarah Nasional (MUNAS) II GGBI yang merupakan rumusan hasil kesepakatan bersama.

Tertib, peserta MUNAS dan perwakilan lembaga bergantian menyampaikan usulan perbaikan dalam salinan Surat Ketetapan yang sudah sampai di tangan peserta tersebut. Koreksi meliputi kesalahan ketik, nama, istilah sampai pada usulan pergantian nama “Surat Ketetapan” menjadi “Surat Keputusan” yang diikuti perubahan draft surat.

Sebagaimana interupsi yang disampaikan Eleonora Moniung, utusan Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kebayoran, Jakarta. Menurutnya, secara umum surat yang merupakan hasil kesepakatan semacam ini disebut “Surat Keputusan.”

Melengkapi usulan Elen, Jorius Sumampouw, salah satu pengawas Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) membagikan pengalamannya dalam penyusunan SK berdasarkan proses legal drafter, yaitu harus dimulai dari “memperhatikan” karena ini merupakan dasar hukum SK. Kemudian “menimbang”, setelah itu barulah muncul suatu ketetapan, dan lalu “mengesahkan.” Ia melanjutkan, “Benar apa yang dikatakan Ibu Elen, bahwa surat ini seharunya disebut Surat Keputusan, karena hasil dari keputusan musyawarah bersama (kalau ketetapan cenderung bermakna peraturan).

Pdt. Hana Aji Nugroho, selaku Ketua BAMUSNAS menanggapi positif masukan tersebut. Ia mengaku senang jika peserta turut menolong pihak BAMUSNAS dalam penyempuraan SK, khususnya dalam hal ini menyangkut penggunaan istilah dan bahasa yang tepat.

Memasuki menit ke-46, suasana memuncak dalam pembahasan SK no.4/MUNAS II GGBI/2016, tentang Pembentukan TIM 3.

Pdt. Helly Hariyanto, yang ditunjuk sebagai anggota TIM 3 menanyakan status keputusan dalam SK no. 4 ini, apakah berarti ketetapan no.11 di MUNAS I tahun 2015 tentang TIM 7 sudah tidak berlaku.

Menjawab ringan, Pdt. Frank mengarahkan agar yang bersangkutan memperhatikan bagian “menimbang” no. 2, yang menjelaskan bahwa keberadaan Tim ini merupakan tindak lanjut ketetapan nomor 11 MUNAS I GGBI 2015.

Ungkapan “tindak lanjut” dalam baris itu mengundang berbagai koreksi. Sekretaris Pembina YRSBI, Yohanes Widoyoko menyarankan, saat mencabutan SK sebelumnya (SK no. 11/MUNAS I GGBI/2016) hendaknya dalam salinan SK yang dipakai sekarang disertakan juga laporan yang belum di audit dan keputusan yang sudah telanjur dicantumkan di minit sebelumnya. Atau bisa menggunakan istilah “SK tersebut (SK no. 11/MUNAS I GGBI/2016) sudah tidak berlaku.”

Menjawab pendapat itu, Pdt. Hana menuturkan, pihaknya akan melakukan musyawarah internal dengan pimpinan-pimpinan BAMUSNAS.

Penting, saat pembacaan dan pembahasan ini, sejumlah peserta menanyakan kepanjangan dari singkatan BAMUSNAS yang benar. Mayoritas peserta mengira kepanjangan BAMUSNAS adalah Badan Musyawarah Nasional. Namun, sesuai dengan penegasan wakil ketua BAMUSNAS, kepanjangan BAMUSNAS adalah BADAN PERMUSYAWARATAN NASIONAL (sekaligus ralat liputan wawancara SB Online ‘Siapakah BAMUSNAS?’), sesuai yang tercantum dalam Anggaran Dasar & Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Penulis : Andry W.P
Editor : Prisetyadi Teguh W.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*