RSS

Baptisiana : UPACARA BAKAR MAYAT DI KANGGIME, KABUPATEN TOLIKARA, IRIAN JAYA

 Cerimas Heru *)

Sewaktu Ester, istri saya, sedang mengandung dan menantikan kelahiran anak pertama kami, ia tinggal  di Sentani, Jayapura. Sedang yang tinggal di tempat pelayanan di pedalaman Kanggime, Papua timur, hanyalah saya. Mungkin hampir dua bulan Ester harus tinggal di kota karena Kanggime tidak memiliki tempat persalinan yang memadai, menurut pendapat saya. Selain itu, lapangan pesawat perintis di pedalaman Kanggime tengah ditutup untuk diperbaiki. Akibatnya jalur penerbangan dialihkan melalui Pos Karubaga atau Mamit di Kabupaten Tolikara yang  jaraknya satu hari satu malam berjalan kaki dari Kanggime.

Dalam keadaan sendirian inilah, peristiwa itu terjadi. Saya sedang bertugas memimpin upacara pemakaman jenazah Bapak Kogoya (55 tahun), seorang penduduk  Kanggime. Ia meninggal dunia karena malaria. Maklumlah, waktu itu obat malaria sangat terbatas. Bahkan obat-obatan persediaan keluarga pun seringkali saya berikan untuk menolong penduduk setempat yang terkena malaria.

Bapak Kogoya sudah cukup lama berjuang mengatasi sakit malaria ini. Biasanya penduduk Kanggime kalau sakit malaria dan tidak mempunyai obat, akan berbaring di rerumputan, berjemur di bawah terik matahari siang. Ini dapat mengurangi rasa sakit dan demam akibat malaria. Biasanya perlu seminggu untuk menentukan apakah penderita malaria dapat melewati masa kritis atau sebaliknya, meninggal dunia.

Bapak Kogoya pernah berjuang melawan malaria tertiana maupun tropika (jenis malaria yang terberat, red.) tanpa obat dan makanan yang cukup bergizi, kecuali terus berjemur dan minum air putih saja.  Setelah meninggal, ia harus dikebumikan.  Dan sayalah yang mendapat tugas memimpin upacara pemakaman Bapak Kogoya.

Tidak seperti pengebumian jenazah di kampungku di Jawa, jenazah Bapak Kogoya harus dibakar di tempat terbuka, yaitu di halaman rumahnya. Dan, semua orang dapat melihatnya.

Sebelumnya memang sudah dipersiapkan tumpukan kayu yang disusun rapi menyerupai  mezbah setinggi satu meteran. “Mezbah” itu terbuat dari potongan-potongan kayu pohon kasuari yang terkenal kuat dan mudah terbakar.

Diiringi ratap tangis atau nyanyian duka keluarga dan  marga Kogoya, upacara kremasi ini dilakukan. Sebagai tanda ikut berduka cita, satu-dua anggota keluarga terdekat biasanya ada yang mengiris sebagian daun telinga atau memotong salah satu ruas jari tangan sampai putus, baik dengan parang atau bahkan kampak batu.

Selanjutnya jenazah Bapak Kogoya diangkat oleh empat orang dan  didudukkan di atas “mezbah” dengan posisi tangan memeluk kedua lutut, lalu dibakar. Sewaktu api dinyalakan dari sela-sela tumpukan kayu oleh Bapak Id Lambe, Ketua Klasis Kanggi, mula-mula terlihat hanya asap putih yang berputar-putar  di sekitar mezbah dan jenazah.

Tetapi  lambat laun api pun membesar. Saya dapat menyaksikan setiap detil tubuh Bapak Kogoya yang terbakar hingga menjadi abu. Maklumlah, tempat pembakaran jenazah dan  bangku tempat saya duduk hanya berjarak satu setengah meter.

Mula-mula api menjilat tubuh Bapak Kogoya lalu membakar kepala sehingga kulitnya terkelupas dan  pecah-pecah. Tulang tengkoraknya mulai terlihat jelas. Kedua bola matanya yang keluar seakan-akan menatap dan siap menelan saya. Angin pegunungan siang itu  bertiup ke arah saya, menimbulkan bau sangit  luar biasa dari daging jenazah yang terbakar. Kemudian terdengar bunyi perut yang  meletus, disusul tulang tangan dan kaki yang berderak-derak terbakar api.

Sungguh, saya tidak dapat menghindar, harus menyaksikan semua ini. Saya benar-benar susah bernapas. Saya juga tidak dapat pindahHhttpwww.emp.pdx tempat karena mereka menganggap saya sebagai “tamu kehormatan”. Maka, saya harus menyaksikan prosesi ini sampai selesai.

Mungkin sekitar satu sampai dua jam proses kremasi ini berlangsung.  Tetapi rasanya hampir seharian saya seperti terpanggang dan terbakar bersama Bapak Kogoya. Sambil duduk, sempat saya mencium dan membersihkan baju serta tangan yang terkena asap sangit dan jelaga daging terbakar itu.

Usai pembakaran mayat, terlihat onggokan abu berwarna hitam dan putih. Yang berwarna hitam adalah abu arang bekas kayu sedangkan abu putih adalah abu jenazah Bapak Kogoya. Abu putih itu kemudian dikumpulkan dan ditaruh di tempat yang terbuat dari tanah liat lalu dikuburkan di halaman rumahnya.

Peristiwa itu membuat saya shock. Belum pernah saya menyaksikan dan mengalami hal seperti ini. Selama beberapa hari saya tidak bisa tidur, atau tepatnya tidak mau tidur. Saya selalu terbayang-bayang mendiang Bapak Kogoya, bahkan selalu melintas dalam mimpi…

Setelah beberapa hari sejak upacara pembakaran mayat itu, saya bertanya kepada salah satu tua-tua gereja suku Lani, penduduk Kanggime, Bapak Mitur Towolom, “Pak, mengapa di Kanggime orang yang mati itu dibakar, tidak dikebumikan saja?”

Dia kemudian menjelaskan panjang lebar dengan bahasa Indonesia yang sangat terbatas. Tetapi pada dasarnya ada tiga alasan. Pertama, alasan teologis, “Biarlah dari debu kembali ke debu.” Kedua, alasan medis, “Kalau ada penyakit yang menular, hal itu tidak lagi mengkhawatirkan penduduk lainnya karena sudah habis dibakar.” Ketiga, alasan ekonomis, “Dari manakah mau dibeli papan dan paku untuk membuat peti jenazah? Semua itu harus didatangkan dari kota, sudah pasti barang-barang ini terlalu mahal.”

Itulah sebabnya, penduduk Kanggime  membakar mayat orang yang sudah meninggal — termasuk mendiang Bapak Kogoya — sebagai cara memberi penghormatan terakhir terhadap orang yang dikasihinya.

Wa…!

 *)Penulis pernah menjadi utusan Injil

di pedalaman Papua selama belasan tahun,

kini melayani di RS Imanuel Bandar Lampung 


2 Comments Add Yours ↓

  1. 1

    Tulisan ini menarik dibaca, tetapi pada saat yang sama bagian akhir dari jawaban pak Mitur Towolom itu sepertinya tidak dapat diterima sebagai orang Lani, mengapa pertama, tiga jawaban itu bukan jawaban Towolom kalau dianalisis, tetapi terlihat lebih pada interpretasi penulis. Kedua, sebagai orang Lani Towolom mesti menjawab bahwa bakar mayat merupakan tradisi nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun, tidak hubungan sama sekali dengan alasan teologi, alasan medis, dan lasan biaya mahal. mungkin di era sekarang orang berfikir demikian ttp dimasa lalu tidak, yang org Lani kawatirkan adalah “jangan sampai tubuh yang sudah tdk bernyawa itu dimakan ulat, dimakan bintang buas, atau dimakan babi piaraan. wawawa

  2. 2

    terimah kasih Pak Heru, saya sangat menghargai dan mengapresiasi yang setinggi-tinggi,atas tulisan ini. hanya saja alasan yang bapak sampaikan kenapa Mayat Orang lani (pada khususnya dan pegunungan Papua pada umumnya) harus di bakar?? dari uraian tulisan ini ada 3 hal yang di ketahui, namun itu bukan alasan yang tepat. Karena Pembakaran Mayat suku lani ini bulan hal baru, tapi hal ini memang dari nenek moyang Turun temurun orang lani dan Pegunungan Papua itu sendiri,
    dari tiga alasan yang pak Heru sampaikan tadi, alasan pertama dan kedua itu ada benarnya namun yang ketiga bagi saya sangat tidak masuk di akal.

    alasan pertama: sebelum injil Yesus Kristus menyentuh pada orang lani dan pegunungan papua, nenek moyangNya memang kalau orang mati di bakar,dan tersentuh Injil Yesus, pada orang lani,tradisi ini masih di pertahankan, sejak zaman misi orang Barat (kulit putih) masih di pertahankan karena alasan teologi tadi,” manusia asal dari debu tanah maka kembali ke tanah”

    Alasan kedua:dari sisi kesehatan pada masa kini itu ada benarnya, tapi bagi saya orang lani , nenek moyang kami tidak mengetahui yang namanya penyakit, karena zaman dulu orang tua langsung mengatuh dengan alam papua, makanan dan minuman yang mereka konsumsi adalah langsung dari alam, tidak dengan produk modern masa kini….

    alasan yang ketiga: bagi saya sangatlah tidak wajar, karena tradisi kami dari nenek moyang sampai tersentuh ajaran Injil budaya bakar mayat masih di pertahankan, samapai saat ini. yang dimaksud pak Heru budaya dikebumikan/kubur, bagi orang lani hal baru setelah integrasi Papua kedalam Indoenesia,hanya saja hal ini bagi orang tua saya di kampung pedalaman papua pada suku lani asing di mata mereka…..

    syalom Tuhan Memberkati



Your Comment






Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.