RSS

GEREJAKU : GBI KALAM PURWOKERTO

SEMPAT MENJADI PEMBUANGAN SAMPAH

Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kalam, Purwokerto Pdt. Agustinus Ponidjo tengah duduk di teras pastori ketika tiba-tiba seorang pria melompati pagar gedung gereja yang hanya sebatas lutut. Pdt. Ponidjo heran, tak mengerti tujuan pria tersebut.

Piwi, anjing ras peking milik Pdt. Ponidjo ribut menggonggong melihat orang asing memasuki kompleks gereja di Jl. Gatot Subroto No. 7 Purwokerto ini.

“Saya pikir, orang itu mau ngapain? Ternyata dia menurunkan celananya, tidak hanya pipis tetapi juga buang air besar di pekarangan gereja!” ungkap Pdt. Ponidjo.

Pria kelahiran Yogyakarta 9 September 1967 yang belum berapa lama menjadi pindah pelayanan ke GBI Kalam ini kaget sekaligus trenyuh.

“Aduh Tuhan, kok rumah-Mu diperlakukan seperti ini? Itu sangat-sangat menyedihkan hati saya. Bahkan saya terlalu sering harus menegur tukang becak yang melompati pagar dan seenaknya bukan air kecil di pekarangan gereja, seakan-akan bangunan ini sudah tidak terpakai,” ujarnya mengisahkan kembali kejadian beberapa tahun lalu itu kepada kontributor Suara Baptis (SB) Banyumas, Pdm. Tomson Lumbantobing.

Ketika SB pertama kali mengunjungi GBI Kalam tahun 2005 lalu, penampilan rumah ibadah ini memang begitu kumuh. Banyak yang berkata, GBI Kalam adalah gereja Baptis Indonesia terbesar dan tertua di eks-Karesidenan Banyumas. Dengan penuh semangat dan perasaan bangga membayangkan ada gereja Baptis besar di tengah kota, SB yang tengah mencari-cari tempat kebaktian di sela-sela perintisan pelayanan bersama Tim Banyumas ini bergegas meluncur ke lokasi.

Rupanya, yang terbayang tidaklah seperti yang terlihat. Betul, gedung GBI Kalam cukup besar dan pekarangannya luas. Namun, yang terlihat hanyalah sebuah gedung gereja yang suram dan terbengkalai.

Pagar di sekelilingnya berlumut dengan pintu gerbang yang rusak. Dinding luar gereja pun kusam karena catnya sudah luntur. Eternit di langit-langit gedung gereja banyak ditumbuhi lumut bahkan berlubang-lubang. Di sejumlah bagian, atap asbes tampak “melayang-layang” hampir lepas.

Beberapa kali SB harus menutup hidung agar tidak menghirup bau tidak sedap dari selokan lebar dan terbuka yang memisahkan gedung gereja dengan pastori dan gedung sekretariat. Jika tidak hati-hati, bisa saja seseorang terperosok ke dalam selokan itu. Bila angin bertiup kencang, bau menyengat terbawa angin hingga mengganggu suasana ibadah.

Di altar, terdapat beberapa alat musik dan peralatan sound system yang tidak terawat dengan baik. Suasana ibadah pun kurang nyaman karena ruangan tidak dilengkapi kipas angin yang baik. Hanya ada beberapa kipas angin usang menempel di dinding gereja.

Buku Nyanyian Pujian banyak yang robek. Untuk bernyanyi, gereja masih menggunakan overhead projector (OHP). Sementara bangku gereja menyisakan warna yang kabur karena sudah lama tidak dicat.

Gedung gereja yang kusam tak terawat, mengundang banyak masalah. Ketika berlangsung sebuah pagelaran musik underground di gedung kesenian sebelah gereja, beberapa anak muda masuk kompleks gereja dan mabuk-mabukan di samping gedung sekretariat. Sebagian lainnya berpacaran di bawah pohon cemara di halaman gereja. Mereka baru lari terbirit-birit ketika Pdt. Ponidjo mendatanginya.

“Yang sangat menjengkelkan, gereja ini dijadikan tempat pembuangan hewan.  Berkali-kali ada orang membuang anak kucing ke pekarangan gereja,” tutur Pdt. Ponidjo.

Selain itu, pastori yang ditempati Pdt. Ponidjo beserta istri dan dua anak lelakinya ini tidak memiliki kamar mandi dan WC sendiri. Mereka harus melintasi selokan lebar dengan bau busuk ini bila hendak ke kamar mandi yang terletak hampir di ujung kompleks gereja.

“Tahu tidak, awal-awal pelayanan di sini, sungguh perjuangan berat buat saya. Kala hendak buang air kecil di saat nikmatnya tidur di malam hari, saya harus ke luar rumah, melewati selokan, menembus dinginnya udara malam. Kembali dari sana, saya sudah tidak bisa tidur karena jarak pastori dan kamar mandi cukup jauh,” lanjut Pdt. Ponidjo yang mulai melayani GBI Kalam sejak 1 Juli 2008.

Suami Dwi Nur Cahyawati ini pun mulai menyusun rencana perbaikan gedung gereja dan pastori. Ia lalu menggerakkan jemaat untuk terlibat dalam pekerjaan besar membenahi rumah ibadah ini.

Tidak mudah memulainya. Sebagian anggota gereja tidak mempercayai gerakan perubahan ini. Namun Pdt. Ponidjo terus menggugah kesadaran jemaat melalui berbagai persekutuan di gereja maupun di kelompok pembinaan warga (KPW).

Usaha keras ini tidak sia-sia. Jemaat pun bangkit dan memulai pemugaran. Selokan yang terbuka lalu ditutup beton sehingga tak lagi tercium bau menyengat. Tidak ada lagi eternit berlubang dan atap asbes yang hampir terlepas. Dinding gereja dicat rapi sedangkan lantainya dipasang keramik mengkilap. Kipas angin tua diganti dengan yang besar dan kokoh, mengalirkan angin sejuk ke ruang ibadah. Kursi-kursi terlihat seperti baru karena sudah dibersihkan dan dicat kembali.

Kesan sederhana namun cantik pun tampak jika memandang altar yang dihiasi bunga-bunga  dan tirai gorden warna merah. Selain berdiri mimbar yang kokoh, terdapat speaker berukuran besar dilengkapi dengan sound system baru. Ada beberapa mikrofon yang dapat digunakan para penyanyi saat beribadah. Jemaat pun dapat menatap layar LCD sambil bernyanyi. Pemimpin ibadah dan pujian tak harus menghapalkan lirik lagu karena sudah tersedia layar monitor yang menampilkan lagu-lagu yang hendak dinyanyikan.

Kalau ingin buang air kecil  tidak perlu khawatir. Anda dapat menikmati dua toilet gereja yang bersih dan lega berwarna biru cerah.

Di sekeliling kompleks gereja juga dibangun tembok setinggi dua meter dan pintu gerbang diperbaiki. Kini, orang tak dapat lagi seenaknya melompati pagar gereja atau membuang sampah ke halaman. Jemaat juga membangun kamar mandi di dalam pastori. Lantai tempat tinggal keluarga gembala sidang ini pun dipasang keramik cantik.

“Jadi, tujuan pembangunan tembok ini bukan untuk membuat gereja eksklusif (terpisah dari lingkungannya) tetapi agar privasi gereja terjaga dan orang-orang bisa lebih menghargai rumah Tuhan. Puji Tuhan, jemaat memperhatikan keluarga gembalanya dengan membuatkan kamar mandi di dalam pastori,” tutur Pdt. Ponijo.

GBI Kalam tengah mendoakan pengadaan alat musik keyboard karena masih meminjam dari jemaat. Pelayanan yang semakin berkembang juga mendorong jemaat berdoa bagi pengadaan mobil gereja. Maklum, gereja memiliki beberapa KPW  yang tempatnya cukup jauh dari lokasi gereja.

Terkadang, gereja giat melakukan pembenahan fisik tetapi melupakan pembenahan di bidang yang lain. GBI Kalam tak ingin mengalaminya. Pdt. Ponidjo dan jemaat lalu menyusun anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) sebagai pedoman penatalayanan.

“Ada ‘4 T’ yang saya pikirkan, yaitu tata pelayanan, tata gereja, tata ibadah, dan tata administrasi gereja. Jadi, saya berangkat dari substansinya lalu dituangkan dalam AD/ART sehingga bisa menjadi pedoman dalam membuat rancangan program, mengambil sebuah kebijakan, dan lain-lain. Kemudian kami menyiapkan personel-personelnya lantas kita ajak bicara untuk transfer visi, dilanjutkan dengan bekerja mewujudkan program tersebut. Setiap tahun kami mengevaluasi program yang sudah terlaksana dan ada laporan pertanggungjawaban di hadapan jemaat. Dengan demikian, apa yang kita kerjakan benar-benar transparan,” kata Pdt. Ponijo ketika pertama kali memulai pembenahan di GBI Kalam.

Untuk pertama kalinya, gereja ini mempunyai sekretaris dan koster. Berkat adanya pelayan-pelayan Tuhan itu, keperluan administrasi dan pemeliharaan sarana gereja dapat terpenuhi.

“Betul, sebelum kehadiran Bapak Gembala (Pdt. Ponidjo, red.), kita memang tidak terpikir akan kebutuhan sekretaris dan koster, apalagi keuangan gereja tidak mendukung untuk hal itu. Tetapi semuanya berubah setelah Pdt. Ponijo melayani di gereja ini. Ternyata, ada banyak manfaat yang gereja rasakan dengan adanya pelayan-pelayan Tuhan tersebut,” ucap Edi Purwanto, anggota GBI Kalam yang bekerja di Rumah Sakit Sinar Kasih.

Yang menarik, Edi maupun Pdt. Ponijo menjelaskan, apa yang sudah dicapai GBI Kalam tidaklah dimulai dengan modal yang besar. Tuhan memberi hikmat panitia perancang untuk membuat sertifikat pinjaman bagi anggota jemaat yang tergerak memberikan pinjaman bagi keperluan gereja. Secara berkala, gereja mengangsur pengembalian pinjaman tersebut. Namun tidak jarang, anggota jemaat menolak pengembalian pinjaman tersebut dan mempersembahkannya kepada gereja.

“Kami juga diajarkan pentingnya pengabdian melalui persembahan perpuluhan. Ketika jemaat setia memberi perpuluhan, Allah memberkati kami berkelimpahan. Puji Tuhan, pemasukan gereja yang dulunya hanya berkisar Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, sekarang sudah mencapai Rp 8 juta sampai Rp 10 juta per bulan,” lanjut Edi.

Sekalipun telah melakukan banyak pembenahan untuk perubahan, gembala sidang yang senang bernyanyi dan bersuara lantang ini rupanya masih punya mimpi yang akan terus dikerjakan bersama jemaat.

“Mimpi saya cukup besar buat gereja ini. Saya rindu jemaat bertumbuh dan berbuah. Saya rindu 10 tahun mendatang terjadi pelipatgandaan dan ada pembangunan berkelanjutan. Saya memimpikan gedung gereja dapat disambung dengan gedung sekretariat, lalu dibuatkan balkon  sehingga gedung gereja dapat memuat 300 orang saat kebaktian. Nah, untuk Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPD GGBI) Banyumas, saya punya kerinduan agar ada ikatan kerja sama dan sinergi di antara gereja. Hamba-hamba Tuhan harus solid dan saling menopang sehingga Banyumas semakin eksis dalam pelayanan, bukan hanya di tingkat daerah tetapi juga nasional.”

GBI Kalam berdiri di tepi jalan utama dan di pusat kota. Dengan posisi yang sangat strategis ini, impian Pdt. Ponidjo bukanlah sebuah mimpi di siang bolong. Saat ini GBI Kalam melangsungkan dua ibadah Minggu pagi (kehadiran 70-90 orang) dan sore (15-25 orang) dan memiliki enam KPW (masing-masing terdiri dari 10-25 orang) dan 1 Balai Pembinaan Warga. Jika gembala sidang dan jemaat sama-sama memiliki visi pelipatgandaan ini, mimpi menjadi gereja yang bertumbuh besar dan kuat pasti segera dapat diwujudkan.

SB/tomson lumbantobing

Pdm Tomson adalah peserta pelatihan jurnalistik Suara Baptis di purwokerto, Agustus 2012

 


Your Comment






Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.