RSS

OPINI : MENGAPA HYMN SEMAKIN JARANG DINYANYIKAN?

Iswara Rintis Purwantara *)

Ada banyak alasan mengapa orang Kristen, tak terkecuali orang Baptis, menjadi “anti” dengan lagu-lagu hymn dalam buku Nyanyian Pujian. Kita dapat menggolongkan alasan-alasan tersebut ke dalam dua kategori. Pertama, persoalan teknis, dan yang kedua adalah persoalan teologis.

Persoalan-persoalan Teknis

Persoalan ini jelas terkait dengan kenyataan bahwa hymn memerlukan syarat-syarat teknis musikal yang tinggi. Karena keterbatasan tempat, persoalan-persoalan teknis ini akan dibahas secara umum saja.

  • Persoalan pemain musik.

Untuk bisa menyanyikan hymn dengan baik dan benar diperlukan syarat-syarat teknis musikal yang tinggi. Hymn bukanlah nyanyian murahan. Sayangnya, di banyak gereja Baptis tuntutan yang tinggi ini tidak selalu disertai dengan sumber daya manusia (SDM) yang memadai, khususnya pemain musik. Banyak gereja Baptis tidak mampu membayar pemain musik yang “ahli”. Sebagian yang lain mampu, tetapi tidak mau.

Pada dasarnya ada dua jenis pemain musik: pemusik formal dan pemusik alam. Yang pertama bermodalkan pendidikan formal (cenderung ke klasik), yang kedua bermodalkan pengalaman dan belajar otodidak (biasa disebut pemain musik alami). Masing-masing mempunyai kelemahan dan kelebihan. Yang jelas, kebanyakan gereja Baptis di Indonesia minim pemain musik formal. Padahal lagu-lagu hymn lebih memerlukan iringan pemain musik jenis ini.

Ketika program studi S-1 Musik Gerejawi Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) masih dibuka, kurikulum formallah yang diajarkan. Para mahasiswa yang datang untuk kuliah diasumsikan sudah mempelajari musik secara formal sampai pada taraf tertentu. Misalnya, mereka diasumsikan sudah bisa membaca not balok.

Tetapi asumsi ini keliru. Sebagian besar dari mereka datang hanya bermodalkan pengalaman alias bakat alam. Mereka datang dengan  teori-teori dan hukum-hukum outodidact sendiri tentang cara bermain musik (kebanyakan mengandalkan sistem “akord” yang memang pas untuk mengiringi lagu-lagu pendek dengan keyboard).

Tidak heran jika mereka menjadi frustasi ketika ikut kuliah. Sampai ketika kuliah selesai pun kebanyakan tetap tidak bisa mengiringi lagu-lagu hymn dengan benar (skill yang ditampilkan pada waktu recital piano hanya produk hafalan).

Setelah lulus, mereka kembali lagi ke alam asli mereka, sama seperti dulu sebelum kuliah: lebih lihai mengiringi lagu-lagu pendek. Kalau pun berusaha mengiringi sebuah lagu hymn, mereka menggunakan sistem dan style yang sama dengan yang mereka pakai untuk mengiringi lagu-lagu pendek, tidak mengikuti patokan partitur lagu hymn tersebut.

Akibatnya, banyak variasi iringan musik (tempo, birama dan style) yang ketika diterapkan untuk lagu-lagu hymn, malah membuat lagu-lagu hymn itu terdengar jelek, lucu dan menggelikan. Tak ayal lagi, lagu-lagu hymn menjadi semakin “menderita”. Karakternya semakin direndahkan akibat iringan yang tidak semestinya. Selanjutnya, karena merasa frustrasi, buku Nyanyian Pujian lama-kelamaan mereka tinggalkan.

Ada pemain musik alam, yang karena tidak terampil memainkan alat musik, bersikeras mengajak teman-temannya untuk mengiringi lagu hymn dengan full band. Agar kelemahannya tidak terlalu mencolok, ia meminta rekan-rekannya memukul drum sekeras-kerasnya, atau menaikkan volume suara gitar sekeras-kerasnya (menjadi dominan). Bisa diduga, apa yang akan terjadi.

Memang, pemain formal ada kelemahannya. Saya pernah diminta dosen musik saya menggantikan dia mengiringi Pdt. Bill O’Brien menyanyikan lagu “Mulia Setia-Mu” dengan piano. Ketika saya bertanya, “Mengapa saya?” ia menjawab, “Kami tidak membawa partitur lagunya!” Saking formalnya, ia menjadi sangat bergantung pada not balok yang tertulis. Pengiring nyanyian pujian yang baik adalah yang kuat latar belakang formalnya, tetapi fleksibel (tidak 100 persen bergantung pada partitur, perasaan dan pendengaran peka, cepat menghafal), plus memiliki kreativitas dan kemampuan improvisasi (variasi).

Sebenarnya Pak Paul Nugraha sudah banyak menulis soal dan solusi teknis perihal bagaimana mengiringi lagu-lagu hymn dalam ibadah (lihat artikel-artikelnya dalam majalah Suara Baptis dan makalah-makalah lain). Sangat disesalk kalau tulisan-tulisan tersebut tidak diperhatikan.

  • Persoalan instrumen musik.

Banyak gereja Baptis di Indonesia yang lemah dari segi dana untuk membeli alat-alat musik yang cocok untuk mengiringi nyanyian pujian, misalnya piano atau keyboard yang baik. Dari sekian ratus gereja Baptis yang berafiliasi dengan GGBI, yang memiliki piano dapat dihitung dengan dua puluh jari, yang memiliki baby grand piano dapat dihitung dengan lima jari. Kebanyakan gereja juga hanya mampu membeli keyboard dengan grade dan kualitas rendah, yang tidak mampu menghasilkan voice dengan performa semirip piano.

Hymn bisa diiringi dengan alat musik apa saja. Tetapi bagaimana pun juga, jiwa, karakter dan keindahan lagu-lagu hymn tidak dapat terekspresikan sebagaimana mestinya bila hanya diiringi gitar atau oleh keyboard dengan grade rendah.

Mungkin ada yang bertanya, “Bukankah kita bisa memuji Tuhan dengan alat musik apa saja, dan dengan gayaapa saja sesuai dengan konteks budaya?”

Pertanyaan ini biasanya dimotivasi oleh semangat penginjilan. Tetapi penginjilan bukanlah ibadah, dan ibadah bukanlah penginjilan. Meskipun saling mengisyaratkan dan saling mengakibatkan, keduanya tidak boleh dicampur-adukkan.

Kita juga harus jujur, berapa banyak gereja Baptis di Jawa yang masih menggunakan gamelan demi menjangkau orang-orang Jawa? Tampaknya hampir semua gereja lebih ingin menjangkau kaum muda daripada “orang Jawa”, karena mereka lebih memilih drum set daripada gamelan. Jika ingin lebih jujur lagi, keputusan kebanyakan pendeta untuk mengakomodasi peralatan musik dan lagu-lagu tertentu lebih didasarkan pada “ketakutan kehilangan anggota gereja”, bukan pada “keinginan untuk mencari jiwa baru”.

Pikirkanlah orang-orang Islam: ketika beribadah, dari dulu hingga kini, mereka tidak pernah menaruh alat musik apa pun di dalam mesjid. Mereka tidak pernah mengeluh soal “kekunoan” itu.

Ibadah adalah soal kemuliaan dan kesenangan Allah, lebih daripada soal pemuasan dan kesenangan diri sendiri. Sebenarnya kekacauan dan ketimpangan teologi kita sendirilah yang telah menciptakan pola pikir dan praktik yang salah kaprah tentang ibadah.

Benar bahwa lagu-lagu hymn bisa dimodifikasi iramanya, temponya dan karakter instrumen pengiringnya, tetapi tidak semuanya. Jika tidak diiringi dengan kemampuan memilih dengan tepat lagu hymn mana yang bisa dimodifikasi, dan kemampuan untuk menemukan birama, tempo dan karakter musik mana yang tepat dan cocok dikenakan pada sebuah lagu hymn, modifikasi hanya akan mengakibatkan kekacauan.

Supaya terkesan mengakomodasi lagu-lagu pendek-kontemporer dan bersamaan dengan itu mengakomodasi “nyanyian-nyanyian Baptis”, sebagian orang memodifikasi lagu hymn apa saja dengan birama, tempo dan karakter musik ala kontemporer. Akibatnya malah terdengar lucu, terasa tidak nyaman, dan seperti sedang berkelakar ketika dinyanyikan. Bukannya mendukung kesiapan dan kesungguhan hati dalam beribadah, malah merusaknya.

Di sebagian gereja yang mencoba menggunakan full band, lagu hymn diiringi dengan melodi, harmoni dan ritmis yang tidak seimbang – iringannya lebih menyerupai iringan para pemain band “kagetan”. Para pemainnya sibuk sendiri-sendiri. Pemukul drum tidak peduli dengan jemaat yang tersengal-sengal karena hampir tidak memiliki kesempatan menarik napas dengan benar. Syair-syair hymn yang berbobot pada akhirnya tidak bisa menyalurkan kuasa dan wibawa sebagaimana mestinya. Mereka lupa bahwa hymn adalah hymn dan pop adalah pop. Hymn bukanlah pop atau rock, dan pop bukanlah hymn.

Ada juga gereja yang enggan untuk membeli piano, bukan karena tidak mampu secara finansial, tetapi karena “takut” kepada piano. Mereka lebih memilih alat musik “serba bisa” yaitu keyboard. Mengapa? Karena tidak ada SDM yang memadai di gereja itu. Mereka hanya memiliki “pemusik alam” yang suka memanjakan diri dengan tombol transpose pada keyboard. Dengan begitu, mereka bisa selalu bermain pada kunci C setiap kali mengiringi lagu dengan kunci apa pun.

Lebih jauh, karena tidak memiliki alat musik yang penuh tantangan (piano), mereka tidak pernah mengalami kemajuan secara skill. Mereka tidak pernah bisa memainkan kunci As, Bes dan Es yang mendominasi lagu-lagu hymn dalam buku Nyanyian Pujian. Selamanya mereka juga hanya berkutat dengan tuts-tuts pada rentang tiga atau lima oktaf saja, tidak bisa lebih lebar dari itu. Hedonisme (paham yang meninggikan “kemudahan”, “jalan pintas”) akan selalu berdampak buruk, entah bagi tata gereja maupun tata ibadah yang benar.

Persoalan Teologi

Persoalan ini jelas terkait dengan kenyataan bahwa cara kita beribadah, termasuk cara kita memilih dan menggunakan lagu-lagu di dalam ibadah menunjukkan kepercayaan kita.

  • Pemahaman yang terlalu antroposentris tentang ibadah.

Oleh sebagian orang, ibadah dipahami sebagai aktivitas yang bersifat antroposentris (berpusat pada manusia). Ibadah dipahami bukan saja sebagai aktivitas yang berpusat pada diri sendiri, tetapi juga sebagai aktivitas yang tata caranya ditentukan oleh diri sendiri. Selera manusialah yang menentukan bagaimana cara ibadah dilaksanakan.

Akibatnya – sebagaimana termanifestasi dalam ibadah-ibadah masa kini – ibadah menjadi aktivitas liberal, termasuk dalam pemilihan lagu-lagunya. Ini bertentangan dengan sifat alami ibadah sebagaimana dideskripsikan dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama (PL), Allah sendirilah yang menetapkan aturan bagaimana bangsa Israel harus beribadah dan menyembah-Nya (oleh para teolog, tata ibadah PL diklasifikasikan sebagai hukum-hukum ritual). Orang Israel tidak menentukan sendiri bagaimana mereka harus beribadah.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus menegaskan bahwa sifat Allah sendirilah yang harus menjadi dasar untuk menentukan cara yang kita gunakan untuk menyembah Dia. “Allah itu Roh.”Konsekuensinya, “…barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:24).

Allah bukan saja fokus ibadah. Ia adalah penentu cara manusia beribadah. Pengakuan Iman Baptis Tahun 1989 pasal XXII.1. mencatat, “Bahkan cara yang sejati untuk menyembah Allah yang benar ditentukan oleh Allah sendiri menurut kehendak-Nya. Sehingga ia tidak boleh disembah menurut khayalan dan sarana manusia atau anjuran setan.”

Sementara bagi sebagian orang, ibadah yang benar adalah “apa yang diperintahkan, plus segala sesuatu yang tidak secara nyata dilarang”, bagi kaum Baptis, ibadah yang benar adalah “hanya apa yang diperintahkan”. Sementara bagi sebagian orang, ibadah yang salah adalah “hanya apa yang secara nyata dilarang”, bagi kaum Baptis, ibadah yang salah adalah “segala sesuatu di luar apa yang diperintahkan”. Alkitab melarang secara eksplisit semua bentuk ibadah yang tidak diperintahkan Allah (Im 10:1-3; Bil 17:3; 4:2; 12:29-32; Yos 1:4; 23:6-8; Mat 15:13; Kol 2:20-23).

D. A. Carson, dalam bukunya Exegetical Fallacies tepat ketika berkata, “Berpegang pada Firman Allah melibatkan kita dalam komitmen bukan hanya untuk mempercayai semua yang dikatakan-Nya, tetapi juga menghindari dari ‘bergerak jauh melampaui apa yang ada tertulis’ (lihat 1 Kor 4:6).”

Samuel E. Waldron menegaskan, “It is the prerogative of God alone to determine the terms on which sinner may approach Him in worship. What arrogance for man to think that he has the least business in determining God will be worshipped!

Budaya tiru-tiruan, ikut-ikutan telah melanda banyak gereja masa kini. Sayangnya sebaik apa pun mereka meniru, mereka tidak pernah menyamai apa dan siapa yang mereka tiru. Daripada berusaha seunik mungkin, sekhas dan seasli mungkin, mereka tetap sibuk meniru agar semirip mungkin dengan yang ditiru. Padahal yang namanya tiruan tetap hanyalah tiruan. Kalau identitas teologi tidak jelas, peluang untuk menenggelamkan diri ke dalam identitas orang lain semakin besar.

  • Mengacaukan ibadah dengan kegiatan-kegiatan lain.

Menurut Alkitab, ibadah ada untuk ibadah itu sendiri, bukan untuk penginjilan, peperangan, ulang tahun, hiburan, dan lain-lain. Sama seperti penikahan harus dibedakan dari penginjilan (orang Kristen tidak boleh menikahi seorang non-Kristen dengan alasan untuk menjadikan dia Kristen), ibadah juga harus dibedakan dari penginjilan. Sebagai konsekuensinya, musik ibadah harus dibedakan dari, misalnya, musik penginjilan yang lebih kontekstual, toleran, bebas (itulah sebabnya ada istilah ibadah seeker sensitiv’ untuk membedakannya dari kegiatan ibadah bersama orang-orang percaya).

John Piper, gembala senior Betlehem Baptist Church di Minneapolis, Minnesota, Amerika menulis:

Bagi sebagian jemaat dan pendeta, saya khawatir, pengalaman ‘ibadah’ pada hari Minggupagi lebih dimaknai sebagai sebuah sarana untuk mencapai sesuatu yang lain, selain dari ibadah itu sendiri. Kita beribadah demi menggalang dana; kita beribadah demi menarik massa; kita beribadah demi mengobati hati manusia; kita beribadah demi mendapatkan para pelayan; kita beribadah demi meningkatkan spirit gereja.

Kita beribadah demi memberi kesempatan kepada para pemusik berbakat untuk menggenapi panggilan mereka; kita beribadah demi mengajarkan jalan kebenaran kepada anak-anak kita; kita beribadah demi menjaga keutuhan rumah tangga; kita beribadah demi menginjili kaum terhilang di antara kita; kita ‘beribadah’ demi memotivasi umat melayani; kita beribadah demi menumbuhkan perasaan sebagai keluarga dalam gereja, dan lain-lain….

Saya tidak menyangkal bahwa ibadah yang sejati dapat menimbulkan ratusan dampak positif dalam kehidupan gereja. Tetapi, maksud saya adalah, pada saat kita ‘melakukan ibadah’ demi alasan-alasan demikian, pada saat itu juga ibadah tidak lagi menjadi ibadah. Terus menjadikan kepuasan di dalam Allah sebagai pusat, akan menyelamatkan kita dari tragedi tersebut….

Itulah sebabnya, Saudaraku (para gembala/pendeta), fokuslah pada esensi ibadah.

Sebagian orang mengacaukan ibadah Kristen dengan sistem ibadah Perjanjian Lama. Contoh, gedung gereja disamakan dengan kemah suci atau bait Allah Perjanjian Lama (dalam ibadah, altar menjadi tempat maha kudus); keimaman orang-orang percaya diganti dengan semacam keimaman Harun (dalam ibadah, pendeta/gembala sidang berlagak seperti imam Harun); tradisi mempergunakan liturgi khayalan (imaginer) dari prosesi di dalam Bait Allah Perjanjian Lama untuk melambangkan gerak maju orang beriman ke arah ruang maha kudus (banyak syair lagu pendek/kontemporer yang mencerminkan pemikiran ini); menyayikan lagu pendek secara berulang-ulang dalam praise-worship dipahami sebagai kegiatan arak-arakan menanjak menuju pemuliaan Allah; nyanyian dimengerti sebagai semacam magic atau mantera untuk “menghadirkan” atau mendekatkan Allah. Tetapi semua ide ini tidak ada dalam Perjanjian Baru.

Banyak orang mencoba memahami “musik gereja” terlepas dari pemahaman yang benar tentang apakah “gereja” itu (penduduk surga yang sedang tinggal di dunia). T. J. Bach berkata, “Pada saat saya menjadi warga negara surga, saya menjadi orang asing di dunia.”

Di dunia ini ada banyak pilihan jenis musik dan nyanyian yang bisa dipakai untuk beribadah. Tetapi diperlukan tingkat kedewasaan tertentu untuk mempraktikkan yang satu dibandingkan dengan yang lain. Yang jelas, hymn hanya bisa dinyanyikan para penyembah yang memiliki “hati seorang anak dan otak seorang dewasa”.

       *)Penulis adalah dosen STBI Semarang


4 Comments Add Yours ↓

  1. shinta #
    1

    bagus opininya, kirim ke email saya .thx

  2. recky wosia #
    2

    ee rintis masih ingat qta ale pe tman satu angkatan diprogram studi pendidikan studi pendidikan sejarah fkip unpatti tahun 1992
    yang namanya recki wosia mantan ketua bidang kesejaahteraan hmps sejarah periode 1995-1996 beta skarang sdah tinggal dimanado sjak tahun 2002 klau ale mo hubungi beta ni qta pe nomor hp 08219683xxx lalu ale pung cewe dlo yang prnah ale bnceng dngan motor dimuka fekon unpatti poka yaitu betty hetarion pantat bensinda titip salam par ale kiriman sahabatmu recky wosia frm manado

  3. Anes #
    3

    trima kasih Pak Recky Wosia, komentar Bapak nanti kita sampaikan ke Pak Rintis. GBU

  4. 4

    lagu hymn memang menjadi “harta karun” bagi gereja. Lagu hymn dibuat bukan untuk “dijual” seperti beberapa lagu kontemporer. Lagu Hymn juga dibuat oleh pengarangnya berdasarkan pengalaman yang telah ia dapat bersama dengan Tuhan. Sebut saja “It Is Well with My Soul” atau “Nyamanlah Jiwaku” karya Horatio G. Spafford.
    Bukan menjadi suatu persoalan apakah hymn harus dimainkan full band atau tidak. Selama musik dimainkan sesuai pada patron dan baik, bukanlah jadi suatu masalah. Toh, dengan musik yang baik, jemaat dapat digiring untuk masuk lebih dalam menikmati hadirat Tuhan.

    Terimakasih :)



Your Comment






Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.