RSS

Kongres Persekutuan Gereja Baptis Papua, 24-28 Oktober 2011

PERHELATAN ORGANISASI BERSUASANA KEKELUARGAAN

Kongres PGBP selama lima hari ini tak ubahnya sebuah perhelatan kekeluargaan yang erat. Setiap hari selalu muncul orang-orang yang tidak sekadar bersalaman, tetapi berjabat lengan dan saling peluk dengan hangat. Khas, salam suku Dani.

Kongres ini juga tidak sekadar hajatan organisasi. Peserta kongres baik utusan gereja pemilik suara, peninjau, dan tamu sekitar 500 orang. Namun selain mereka, datang juga ibu-ibu membawa anak-anak. Mereka tidak bergabung dengan peserta kongres namun diam di wisma BLK Industri dan di tenda-tenda. Menurut Pdt. Richard, ditambah dengan panitia, jumlah seluruhnya lebih dari seribu orang.

Sidang-sidang pleno maupun komisi dilangsungkan dalam ruangan tanpa penyejuk udara (AC) dan di bawah tenda besar di luar gedung. Meski panitia memasang puluhan kipas angin, udara panas tak mampu ditaklukkan. Suara Baptis sempat terkejut lantaran arloji yang dilepas selama setengah jam dalam ruang terbuka di bawah tenda, terasa panas seperti baru saja dijemur di bawah matahari.

“Di Wamena (daerah pegunungan tengah Papua) yang dingin pun, mataharinya kaya dengan ultraviolet. Makanya kulit kita jadi cepat hitam kalau terpapar,” jelas salah satu pimpinan sidang pleno, Christian Kondobua.

Para peserta kongres terlihat sangat sopan. Setiap kali melintas di depan peserta lain yang duduk – tak peduli orang yang dilintasi lebih muda – mereka akan dengan sungguh-sungguh bilang “permisi” sembari berjalan membungkuk dan menempatkan sebelah lengan di depan badan. Sepanjang kongres berlangsung, tak satu pun peserta kongres yang duduk dengan melipatkan paha ke paha lain, yang umumnya masih dianggap sopan. Sebaliknya, mereka duduk dengan kaki sejajar, sebagian yang lain memilih duduk di lantai karena kelelahan berlama-lama di atas kursi plastik. Sepanjang kongres berlangsung, Suara Baptis hanya mendapati satu-dua pria yang duduk melipat kaki, itu pun pendatang, bukan warga asli Papua.

Hari keempat kongres, datang beberapa truk mengangkut anggota-anggota gereja yang datang dari pegunungan. Mereka juga membawa persembahan berupa bahan pangan dalam jumlah besar seperti talas, jagung, ubi, pisang, tebu juga beberapa ekor babi hidup. Yang menakjubkan, mereka juga membawa banyak daging babi yang sudah dibakar di atas batu (bakar batu) beserta ubi, jagung dan sayur-sayuran.

Sesampai di belakang tenda peserta kongres, daging babi dipotong-potong seukuran telapak tangan dan tebal mencapai tujuh centimeter. Bahkan untuk orang-orang penting, potongan daging akan lebih besar dan berasal dari bagian-bagian istimewa. Cuma, potongan-potongan besar daging babi yang disajikan setengahnya terdiri dari lemak, yang minyaknya bertetesan ketika daging diiris-iris. Juga rasanya hambar lantaran daging samasekali tidak dibumbui. Rasa sayuran yang dibakar di atas batu panas tanpa bumbu pun menjadi aneh di lidah, seperti sayuran hangus. Sementara jagung yang matang kekuningan seperti direbus, terasa keras ketika dikunyah.

Bagaimanapun, mencicipi makanan hasil bakar batu tetaplah menjadi pengalaman yang menarik. Untunglah, daging babi lain dan ikan yang dimasak panitia tetap dibumbui. Maka, acara makan pun selalu menyenangkan semua orang.

Sesudah mengevaluasi kinerja BPP PGBP periode lalu dan menyusun rencana kerja, kongres memilih Pdt. Perinus Kogoya sebagai Ketua BPP PGBP untuk kedua kalinya, didampingi Sekretaris Umum Marten Kogoya dan Bendahara Peter Kale. Kongres juga memilih susunan Badan Pelayan Lengkap (BPL) PGBP.

Kongres berakhir Jumat 28 Oktober 2011 pukul 16.12, dan ditutup secara resmi di Auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen). Penutupan kongres berlangsung meriah, sekaligus sebagai upacara syukur atas terpilihnya Prof. Berth Kambuaya sebagai Menteri Lingkungan Hidup serta Befa Yigibalom dan Berthus Kogoya sebagai Bupati dan Wakil Bupati Lanny Jaya.

Sebelum acara berakhir, Befa Yigibalom yang didaulat menyampaikan sambutan, mengundang para pendeta senior berjajar di panggung mendampinginya. Befa lantas memuji para hamba Tuhan ini yang meski sudah berada di usia pensiun, tetap mengabdikan diri untuk melayani Tuhan di tanah Papua.

“Harapan saya adalah, yang muda akan melakukan yang terbaik. Mestinya bapak-bapak ini pensiun sudah lama, tetapi mereka tetap melayani. Mari, saya sampaikan terima kasih. Jika Tuhan dimuliakan, orang banyak akan dengar Yesus dan dimenangkan,” ujar Befa.

Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lanny Jaya ini juga mengingatkan umat Baptis Papua untuk setia memberikan perpuluhan. Ia juga menyampaikan keprihatinannya tentang gereja-gereja Baptis yang tidak bergembala.

“Gereja harus hidup dari pemberian umat Baptis di tanah Papua!” tandasnya.

Upacara penutupan ini dihadiri beberapa perwakilan gereja di luar gereja Baptis Papua, juga para pejabat publik seperti anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Jayapura dan Ketua DPR Kabupaten Lanny Jaya, Nius Kogoya. Prof. Berth Kambuaya sendiri tidak dapat hadir karena sibuk dengan tanggung jawab barunya di Jakarta.

Sepanjang kongres berlangsung, lokasi BLK Industri dijaga ketat. Panitia bergiliran menjaga pintu gerbang untuk mencegah orang-orang yang bukan peserta kongres, memasuki lokasi. Maklum, selain masalah konflik kepemimpinan PGBP masih belum sepenuhnya rampung, situasi politik juga lumayan tegang sesudah Kapolsek Mulia, Jayawijaya AKP Dominggus Awes ditembak hingga tewas Senin 24 Oktober 2011 pukul 11.30.

Syukurlah, kongres berlangsung lancar dan aman.

“Ya, saya pikir cukup memuaskan. Kongres sudah dipersiapkan dengan baik berjalan lancar. Antisipasi dari jemaat sangat baik dan seluruh proses sudah berjalan secara demokratis, sesuai dengan semangat gereja Baptis, dan hasilnya juga sudah maksimal, lah,” ujar Ketua Panitia Pengarah Kongres Ke-6 PGBP Pdt. Richard Pangendahen.

 SB/anes/pris


Your Comment






Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.