All posts by admin

Munas II GGBI | Ditutup dengan Sukacita dan Hadiah

Setelah menyelesaikan Musyawarah Nasional (Munas) II Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) terlihat raut wajah sukacita dari seluruh peserta yang masih tersisa di Wisma Retret Baptis (WRB) Bukit Soka Salatiga, Kamis, 10 Maret 2016.

Sesudah bermusyawarah sejak Selasa pagi 8 Maret 2016, para peserta disegarkan dalam ibadah penutup yang dipimpin Ketua Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI, Pdt. Yosia Wartono di Aula YBI. Pujian “Satukan Kami” dan “Dalam Yesus Kita Bersaudara” semakin menguatkan bahwa mereka merupakan saudara yang saling mendukung di dalam Tuhan.Apalagi dalam pujian kedua, Gembala Sidang GBI Setia Bakti Kediri tersebut mengajak para perwakilan gereja Baptis di Tanah Air menyanyi bersama sambil bergandengan tangan, juga menyebutkan hal-hal positif satu sama lain.

Ucapan syukur kepada Tuhan juga disampaikan Gembala Sidang GBI Golgota, Kroya, Cilacap Pdt. Jacob Hardiarto melalui pujian berjudul “Terima Kasih Tuhan”. Tanpa melakukan latihan dulu dengan tim musik yang terdiri dari anggota BPN GGBI itu, Pdt. Yakub membawakan pujian tersebut dengan apik dan penuh kesungguhan hati. Gayanya yang jenaka tidak lepas ketika ia menyelipkan cerita singkat sebelum memuji Tuhan. Tentu, hal ini mengundang gelak tawa para peserta munas.

Sebelum kembali melayani di gereja masing-masing, seluruh peserta dibekali firman Tuhan yang disampaikan Wakil Ketua BPN GGBI Pdt. Daniel Royo Hariyono. Mengambil landasan firman Tuhan dari Nehemia 2:18; 4:6, Gembala Sidang GBI Peniel Surabaya itu menjelaskan pentingnya menunjukkan identitas diri sebagai umat pilihan Allah. Tokoh Alkitab dalam firman yang disampaikan, Nehemia, melakukan kehendak Tuhan setelah semuanya siap. Didukung dengan semangat gotong royong bersama umat untuk mewujudkan tembok kota yang mampu tegak berdiri. Kondisi ini dinilai Pdt. Royo, sama seperti keadaan masyarakat Indonesia yang guyub rukun dan saling menolong.

Pascafirman Tuhan, mantan Ketua BPN GGBI Pdt. Timotius Kabul memimpin doa penutup sekaligus berkat untuk peserta munas bertema “Siap Bekerjasama Wujudkan Harapan”. Kemudian dilanjutkan dengan pujian “Kuserahkan pada Tuhan”.

Sesi terakhir adalah bagian yang cukup ditunggu-tunggu peserta munas karena panitia telah menyiapkan sejumlah hadiah menarik. Tiga hadiah pertama diberikan untuk para peserta yang dapat menjawab tanggal lahir PembinaYayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) Yohanes Widoyoko dan Ketua Badan Permusyawaratan Nasional (Bamusnas) Pdt. Hana Adi Nugroho, serta menyebutkan nama lengkap Ketua Pelaksana Munas II GGBI Andreas Sugeng. Sementara hadiah menarik lainnya untuk gereja, seperti handphone, magic com, seragam, dan dispenser.

Penulis: Luana Yunaneva

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

Munas II GGBI | WARNASARI GEREJA, TETAP PEMERAN UTAMA

Tepat di pukul 10.00 WIB, acara pengesahan dilanjutkan ke sesi WARNASARI yang dipimpin Pdt. Paul Kabariyanto. Lepas membacakan poin musyawarah, beberapa peserta kembali mengajukan usulan berkenaan dengan agenda acara bersama ke depan.

Loyalitas, sempat terucap dari Pdt. Dodik Hernowo, Gembala Sidang GBI Klaten. Menyepakati keluhan Eleonora Moniung sebelumnya yang menyayangkan ketidakhadiran para perwakilan lembaga di sesi-sesi terakhir, khususnya ketika yang dimaksud tidak menginap bersama dengan peserta lain di Wisma Retret Baptis (WRB) Bukit Soka, Salatiga.

“Tidak ada kesan keluarga besar di akhir musyawarah, karena sampai detik ini narasumber banyak yang tidak hadir!” tandas Elen.

Pdt. Dodik pun mengungkapkan kekecewaannya pada jajaran yayasan dan lembaga yang tidak lengkap mengisi bangku musyawarah, dan menganggap itu sebagai bentuk ketidakloyalan.

Menjawab pertanyaan berintonasi tinggi tersebut, Sekretaris Pembina YBI/YRSBI Yohanes Widoyoko Irawan mengambil alih. Sebagai salah satu tokoh yang duduk di deretan kursi lembaga, ia menjelaskan, “Dalam MUNAS ini kan yang wajib hadir adalah utusan gereja. Jika Bapak Ibu bertanya, mengapa tidak semua (pimpinan) lembaga hadir, perlu diketahui, sebenarnya yayasan, lembaga, dan BPN GGBI itu diundang untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban dan program. Jika tugas tersebut sudah selesai, yang bersangkutan berhak meninggalkan tempat.”

Ia melanjutkan, “Hampir semua pengurus dan pengawas sudah bekerja sangat keras, jadi mohon dimaklumi. Dan saya memohon maaf atas nama pengurus dan pengawas, karena belum sampai selesai sudah meninggalkan tempat ini. Para pengurus dan pengawas lain itu ladangnya tidak di sini (yayasan atau lembaga), mereka punya lapangan pekerjaan lain. Saya dan Pdt David (Ketua Pembina YBI/YRSBI) masih bisa tetap di sini karena kami ini pengangguran, jadi sampai besok pun masih bisa kami ladeni,” paparnya santai dan kalem, disambut tawa para peserta.

Masih soal peran yayasan, sehubungan dengan rencana pembangunan aula di WRB Bukit Soka, Salatiga (yang bisa memuat 800 orang untuk MUBES) juga perluasan sarana penginapan, Widoyoko pun menjelaskan, bahwa ini bukan tanggung jawab yayasan. Ia meminta agar umat tidak salah paham dan kemudian menuntut Yayasan Baptis Indonesia (YBI) untuk bertanggung jawab penuh.

“Sifat kami (YBI dan YRSBI) hanyalah supporting system, jadi kami hanya mendukung. Jadi penyelenggaraan MUBES tetap ada di tangan BPN GGBI dan gereja!” tegasnya.

Pdt. Hana membenarkan penjelasan tersebut. Ia berharap sisa dari beban biaya pembangunan aula maupun penambahan bangunan penginapan di WRB Bukit Soka Salatiga ini, juga menjadi beban umat. Bahkan seharusnya, umatlah yang bertanggung jawab penuh, mengingat kepentingan acara musyawarah-musyawarah adalah kepentingan umat.

Rencana pembangunan ini bertujuan menghemat anggaran musyawarah berikutnya agar sebagian peserta tidak perlu menginap di hotel. Usaha menghemat anggaran ini juga dilakukan dengan mengganti model buku minit ke bentuk Compact Disc (CD). Di samping mengirit ongkos cetak, bentuk soft copy ini dapat memudahkan peserta untuk membawanya di pertemuan berikutnya dan memudahkan penyalinan.

Berbicara mengenai musyawarah selanjutnya, Pdt. Hana mengimbuhkan, setiap gereja sebaiknya tidak mengganti-ganti utusan, karena keputusan Munas akan terus berkesinambungan.
Ia juga terus mengingatkan peserta bahwa kekuatan tetap di tangan umat, dan penting untuk terus menjalin kebersamaan dan asas kekeluargaan.

Penulis : Andry W.P
Editor : Prisetyadi Teguh W.

Munas II GGBI | MUSYAWARAH PLENO VI, REVISI SURAT KETETAPAN, BAMUSNAS TERBUKA MENERIMA MASUKAN

Di penghujung agenda MUNAS II 2016 (Rabu, 10/3/2016), meski sebagian kecil peserta dan beberapa perwakilan lembaga sudah meninggalkan Salatiga karena beberapa kepentingan, peserta lain yang tersisa masih tampak antusias mengikuti musyawarah.

Kali ini, sesi Pengesahan dan Warnasari dipimpin Pdt. Frank Stevanus Daud Suitela, sekretaris BAMUSNAS. Runut, Pdt. Frank membacakan 15 lembar Surat Ketetapan Musyawarah Nasional (MUNAS) II GGBI yang merupakan rumusan hasil kesepakatan bersama.

Tertib, peserta MUNAS dan perwakilan lembaga bergantian menyampaikan usulan perbaikan dalam salinan Surat Ketetapan yang sudah sampai di tangan peserta tersebut. Koreksi meliputi kesalahan ketik, nama, istilah sampai pada usulan pergantian nama “Surat Ketetapan” menjadi “Surat Keputusan” yang diikuti perubahan draft surat.

Sebagaimana interupsi yang disampaikan Eleonora Moniung, utusan Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kebayoran, Jakarta. Menurutnya, secara umum surat yang merupakan hasil kesepakatan semacam ini disebut “Surat Keputusan.”

Melengkapi usulan Elen, Jorius Sumampouw, salah satu pengawas Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) membagikan pengalamannya dalam penyusunan SK berdasarkan proses legal drafter, yaitu harus dimulai dari “memperhatikan” karena ini merupakan dasar hukum SK. Kemudian “menimbang”, setelah itu barulah muncul suatu ketetapan, dan lalu “mengesahkan.” Ia melanjutkan, “Benar apa yang dikatakan Ibu Elen, bahwa surat ini seharunya disebut Surat Keputusan, karena hasil dari keputusan musyawarah bersama (kalau ketetapan cenderung bermakna peraturan).

Pdt. Hana Aji Nugroho, selaku Ketua BAMUSNAS menanggapi positif masukan tersebut. Ia mengaku senang jika peserta turut menolong pihak BAMUSNAS dalam penyempuraan SK, khususnya dalam hal ini menyangkut penggunaan istilah dan bahasa yang tepat.

Memasuki menit ke-46, suasana memuncak dalam pembahasan SK no.4/MUNAS II GGBI/2016, tentang Pembentukan TIM 3.

Pdt. Helly Hariyanto, yang ditunjuk sebagai anggota TIM 3 menanyakan status keputusan dalam SK no. 4 ini, apakah berarti ketetapan no.11 di MUNAS I tahun 2015 tentang TIM 7 sudah tidak berlaku.

Menjawab ringan, Pdt. Frank mengarahkan agar yang bersangkutan memperhatikan bagian “menimbang” no. 2, yang menjelaskan bahwa keberadaan Tim ini merupakan tindak lanjut ketetapan nomor 11 MUNAS I GGBI 2015.

Ungkapan “tindak lanjut” dalam baris itu mengundang berbagai koreksi. Sekretaris Pembina YRSBI, Yohanes Widoyoko menyarankan, saat mencabutan SK sebelumnya (SK no. 11/MUNAS I GGBI/2016) hendaknya dalam salinan SK yang dipakai sekarang disertakan juga laporan yang belum di audit dan keputusan yang sudah telanjur dicantumkan di minit sebelumnya. Atau bisa menggunakan istilah “SK tersebut (SK no. 11/MUNAS I GGBI/2016) sudah tidak berlaku.”

Menjawab pendapat itu, Pdt. Hana menuturkan, pihaknya akan melakukan musyawarah internal dengan pimpinan-pimpinan BAMUSNAS.

Penting, saat pembacaan dan pembahasan ini, sejumlah peserta menanyakan kepanjangan dari singkatan BAMUSNAS yang benar. Mayoritas peserta mengira kepanjangan BAMUSNAS adalah Badan Musyawarah Nasional. Namun, sesuai dengan penegasan wakil ketua BAMUSNAS, kepanjangan BAMUSNAS adalah BADAN PERMUSYAWARATAN NASIONAL (sekaligus ralat liputan wawancara SB Online ‘Siapakah BAMUSNAS?’), sesuai yang tercantum dalam Anggaran Dasar & Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Penulis : Andry W.P
Editor : Prisetyadi Teguh W.

Munas II GGBI | Pembahasan Hasil Seluruh Komisi Tuntas, Peserta Sukacita

Setelah melewati berbagai pertanyaan dan jawaban yang cukup pelik, akhirnya Musyawarah Pleno V Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) ditutup dengan doa syukur pada Rabu 9 Maret 2016 pukul 23.05.

Dipimpin Wakil Ketua Badan Musyawarah Nasional (Bamusnas) GGBI Pdt. Paul Kabariyanto di Aula YBI, Wisma Retret Baptis (WRB) Bukit Soka Salatiga, seluruh peserta musyawarah akhirnya menyetujui hasil musyawarah Komisi III yang membahas laporan Yayasan Baptis Indonesia (YBI) dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI). Namun diharapkan laporan kinerja dan keuangan kedua lembaga dalam munas sudah berupa hasil audit, serta disesuaikan penjadwalannya dengan rencana penyelenggaraan munas. Apalagi materi Munas GGBI seharusnya dikirim ke gereja-gereja sebelum acara rutin tahunan itu digelar, sesuai hasil Munas GGBI 2015.

Para peserta musyawarah juga menerima Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) YBI dan YRSBI dengan syarat, rencana Sekolah Tinggi Teologia Bandung (STTBB) menempati lokasi baru dapat terealisasi pada Juni 2016. Lokasi baru yang telah disepakati sebelumnya adalah gedung bekas percetakan Lembaga Literatur Baptis (LLB) yang beralamat di Jalan Soekarno Hatta 762 Bandung.

Sejumlah usulan juga disampaikan dalam musyawarah yang dibantu Mexy Juliana Tambunan sebagai Sekretaris Komisi III tersebut, antara lain meningkatkan kerja sama YBI dan YRSBI yang transparan dan saling menguntungkan; laporan pertanggungjawaban YBI menerangkan secara terperinci mengenai dana abadi dan pengelolaannya; merekomendasikan dr. Andreas Andoko sebagai Direktur Definitif di Rumah Sakit (RS) Baptis Kediri; dan meminta materi munas sudah dikirim dua minggu ke gereja-gereja sebelum acara dihelat sehingga memudahkan sosialisasi ke Badan Pengurus Daerah (BPD). Yang terpenting lagi, menurut mereka, mengingatkan YBI untuk merealisasikan persiapan WRB sebagai lokasi Mubes XI GGBI tahun 2020.  Hal ini sesuai keputusan Kongres X GGBI di Surabaya, Maret 2015 lalu.

Usulan Komisi III agar Andreas Andoko ditetapkan sebagai Direktur RS Baptis Kediri menyebabkan pembicaraan pun berkepanjangan. Ketua Pengurus YRSBI Pdt. Victor Rembeth menjelaskan, pemilihan Direktur RS Baptis adalah kewenangan Pengurus YRSBI, bukan Munas GGBI. Itu sebabnya Pdt. Victor meminta usulan tersebut dicabut.

Namun pembicaraan mengenai hal ini tidak segera reda. Maka Pdt. Victor kembali menegaskan pemilihan direktur RS Baptis adalah kewenangan Pengurus YRSBI dan kandidatnya harus lebih dulu melalui uji kepantasan dan kepatutan. Ketua Pengawas YRSBI Pdt. Martinus Ursia pun menjelaskan, AD/ART YRSBI memberikan kewenangan kepada Pengurus YRSBI untuk menetapkan direktur RS. Bahkan Sekretaris Pembina YRSBI Yohanes Widoyoko Irawan harus pula memberikan penjelasan soal periode jabatan direktur dan kewenangan Pengurus YRSBI.

Sesudah melalui pembicaraan panjang, akhirnya usul Komisi III ini sepakat dicabut.

Penulis: Luana Yunaneva

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

Munas II GGBI | Segarkan Suasana dengan Kuliner dan Doorprize

Menghabiskan sepanjang hari ini, Rabu 9 Maret 2016 dengan musyawarah, membuat sebagian besar peserta Musyawarah Nasional (Munas) II Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) kelelahan. Untuk menjaga mereka tetap bersemangat pascamusyawarah Pleno IV sekitar pukul 21.00, Panitia Pelaksana memberikan penyegaran dengan menyediakan serabi hangat, pisang rebus, dan tahu berontak, bekerja sama dengan pihak tuan rumah Wisma Retret Baptis (WRB) Bukit Soka Salatiga. Setelah break selama 15 menit, Sie Acara Munas II GGBI Adhitsa Widiasputra mengajak para peserta melakukan permainan singkat.

Pemuda kelahiran Salatiga 17 September 1991 itu menantang sepuluh peserta pertama yang berani meneriakkan yel-yel “Salam Keluarga Besar”. Tanpa malu-malu, para peserta berlomba maju ke depan menghampirinya dan saling memberikan semangat.

“Salam keluarga besar?Yes, saya keluarga besar! Mantap!” demikian yel tersebut mereka serukan.

Berkat semangat mereka yang luar biasa, kesepuluh pria tersebut mendapatkan hadiah yang disponsori Lembaga Literatur Baptis (LLB) berupa buku, mug dan payung cantik. Tidak sampai di situ, pemuda yang akrab disapa Adhit itu memanggil empat nama. Ternyata mereka adalah empat orang yang paling disiplin menghadiri sesi-sesi Munas II GGBI yang digelar sejak Selasa 8 Maret 2016 pukul 10.30. Dengan demikian, mereka berhak mendapatkan hadiah-hadiah yang telah disediakan panitia. Yosep dari GBI Bulu Semarang mendapatkan dispenser, Yusak Subagyo dari GBI Segrumung Semarang mendapatkan lampu emergency, juga Pdt. Agung Irianto dari GBI Pradah Surabaya dan Setyo Aji dari GBI Cemara Tujuh Kedu mendapatkan buku “Total Church Life” yang juga diterbitkan LLB.

“Kiranya bapak-bapak ini bisa menjadi teladan kita semua untuk lebih disiplin dalam mengikuti munas yang akan datang,” ucap Adit yang juga anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Salatiga saat memimpin acara.

Hadiah yang ia bagikan tidak hanya sampai di situ. Ia telah menyediakan hadiah berupa magic com yang dipersembahkan WRB Bukit Soka Salatiga. Bingkisan tersebut hanya untuk peserta munas yang bisa menjawab tanggal pelaksanaan Indonesian Baptist Youth Conference (IBYC) 2016. Dan satu-satunya peserta yang berhasil menjawab dengan benar adalah Pdm. Andreas Jumadi dari GBI Perdamaian, Pare, Kabupaten Kediri. Pdm. Andreas pun menerima hadiah dengan penuh sukacita.

“Kami masih punya hadiah yang dibagikan untuk peserta munas, besok (Kamis 10 Maret 2016, red.). Jadi pastikan Anda tidak meninggalkan WRB sebelum acara berakhir,” tukasnya menutup permainan sebelum acara dilanjutkan Wakil Ketua Bamusnas GGBI Pdt. Paul Kabariyanto.

Penulis: Luana Yunaneva

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

Munas II GGBI | Hasil Komisi II, Musyawarah Pleno IV, Sempat Cair

Masih di aula yang sama, aula YBI WRB Salatiga. Suasana Musyawarah Pleno IV (9/3/2016)digelar pukul 19.00 WIB sedikit berbeda dengan Musyawarah Pleno III sebelumnya. Sukabdyono, utusan Gereja Baptis Indonesia (GBI) Sleman (dari komisi III), yang dalam musyawarah sebelumnya aktif mengajukan beberapa pertanyaan dalam sidang pleno komisi I, kembali mengajukan pertanyaan kepada pleno komisi II (laporan oleh Pdt Yusuf Widodo).

Beberapa kali moderator memohon agar yang bersangkutan memperlambat dan memperjelas pertanyaannya.

Pertanyaan Sukab Dyono seputar laporan audit keuangan BPN GGBI, ditanggapi dengan penjelasan konkret Pdt. Hana, dalam perannya sebagai Ketua BAMUSNAS, yang juga pengawas BPN GGBI. Disusul juga imbuhan jawaban dari bagian keuangan BPN GGBI.

Usai memberi penjelasan, Pdt. Hana kembali menanyakan apakah yang bersangkutan cukup puas. Utusan dari GBI Sleman ini mengaku setuju dengan wajah tersipu. Sontak seluruh peserta tertawa. Suasana yang sebelumnya sempat tegang lantaran pembahasan seputar program PAUD yang tidak mencantumkan anggaran, kini mulai cair.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, beberapa pertanyaan yang diajukan oleh komisi lain (komisi I dan komisi III) sebelumnya sudah dibahas dalam Musyawarah Internal Komisi II siang tadi. Pertanyaan seputar ketiadaan rencana anggaran untuk program pelatihan pengadaan PAUD di gereja diungkapkan Pdt. Dodik Hernowo. “Ajaib jika program yang tertulis (tanpa anggaran) ini menjadi kenyataan,” ungkapnya.

Juga muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai beberapa program BPN GGBI yang tidak terealisasi. Sebagian peserta menafsirkan anggaran yang tidak tercantumkan di laporan pengeluaran sebagai ketiadaan realisasi program.

Menanggapi ini, Bendahara BPN GGBI, Indriana angkat bicara. Ia menjelaskan dengan terperinci soal keuangan BPN GGBI yang memang minus namun terus berusaha tetap melaksanakan program. Menurutnya, jika tidak ada laporan pengeluaran, peserta seharusnya mengamati laporan realisasi yang sudah jelas mencantumkan hasil kerja.

“(Faktanya)Ada beberapa (personel BPN GGBI) yang mengeluarkan uang pribadi namun tidak mau dicatat namanya. Di sisi lain, dalam beberapa kesempatan, (para pengurus) BPN GGBI menggunakan uang pribadi untuk biaya tranportasi saat melakukan pelayanan. Memang keinginan kita, sebanyak mungkin kegiatan dilaksanakan tetapi seefisien mungkin dana dikeluarkan,” tegasnya.

Ia juga menandaskan, pihak keuangan BPN GGBI berusaha seketat dan secermat mungkin mengelola keuangan. Terbukti, dalam MUNAS kali ini, BPN GGBI sanggup menyerahkan laporan keuangan yang paling up to date (laporan sampai akhir Februari) kepada peserta, pada hari Jumat (4/3/2016).

Penulis : Andry W.P.
Editor : Prisetyadi Teguh Wibowo

Munas II GGBI | Pembahasan Hasil Komisi I : Sepakati Sejumlah Perubahan Istilah

Hentak musik drum memberi semangat tersendiri ketika para perwakilan gereja Baptis Indonesia akan memulai Musyawarah Pleno III di Aula Serbaguna, Wisma Retret Baptis (WRB) Bukit Soka Salatiga, Rabu 9 Maret 2016 . Diawali meddley lagu “Satukanlah Hati Kami” dan “Kucinta Keluarga Tuhan”, para utusan dan narasumber bersemangat memuji Tuhan. Sukacita tampak di raut wajah mereka yang tersenyum, sembari bertepuk dan bergandengan tangan.

Sesudah diawali doa pembukaan yang dipimpin Sekretaris Jenderal (Sekjen) Badan Pengurus Nasional (BPN) Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI), David Vidyatama, pembahasan hasil Komisi I dimulai pukul 16.00. Ketua Bamusnas Pdt. Hana Aji Nugroho menuturkan, sesi tersebut terlambat 40 menit dari jadwal yang telah ditentukan. Meski begitu, ia bersyukur, seluruh komisi berhasil menyelesaikan pokok bahasan masing-masing tanpa terkecuali.

Ketua Komisi I Pdt.Helly Hariyanto menyampaikan hasil musyawarah yang digelar sejak Selasa 8 Maret 2016 malam hingga Rabu 9 Maret 2016 siang. Pembahasan serius itu dihadiri 54 anggota pada musyawarah pertama dan 53 anggota pada musyawarah kedua, juga empat narasumber yang terdiri dari satu perwakilan Yayasan Baptis Indonesia (YBI), satu perwakilan Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI dan Badan Musyawarah Nasional (Bamusnas) GGBI.

Salah satu keputusan yang telah disepakati bersama seluruh peserta Munas GGBI adalah perubahan beberapa istilah, seperti ‘persidangan’ menjadi ‘musyawarah’. ‘Rapat Urusan Gereja’ menjadi ‘Musyawarah Anggota Gereja’, ‘pembina’ menjadi ‘organ’, dan ‘utusan’ menjadi ‘peserta musyawarah’.

Selain itu, akan ada perubahan nama dan reorganisasi Badan Pengurus Daerah (BPD) GGBI. Namun sebelumnya perlu dilakukan pembicaraan dan pengamatan khusus mengenai gereja yang mengalami reorganisasi anggota. Pelaksanaannya tidak perlu dalam waktu dekat, apalagi pemekaran BPD GGBI membutuhkan pertimbangan yang baik dan matang.

Inilah gambar paling bawah yang diterima peserta musyawarah.Dengan catatan memberikan tambahan tulisan "(GBI Cemara Tujuh)"  di bawah tulisan "GBI Cemara Tujuh"Pembicaraan cukup seru ketika membahas perubahan plang nama gereja, dengan catatan khusus, yaitu gambar yang paling bawah diterima. Penyeragaman stempel gereja dan kop surat juga perlu dilakukan.

Penulis: Luana Yunaneva
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

Munas II GGBI |Musyawarah Komisi II (Laporan Pertanggungjawaban BPN GGBI)

Musyawarah komisi II (Rabu, 9/3/16) berlanjut di pukul 08.30 tepat. Musyawarah dimoderatori Pdt. Yusuf Widodo, wakil ketua BAMUSNAS dibantu Agnes Chentie L, sebagai sekretaris.

Pdt. Yusuf memberi kesempatan peserta untuk menyampaikan pertanyaan, koreksi dan usulan sehubungan dengan laporan pertanggunjawaban BPN (Badan Pengurus Nasional) GGBI (Gabungan Gereja Baptis Indonesia) yang tertulis di Buku Materi Munas (Musyawarah Nasional) II GGBI Komisi I dan II dalam beberapa termin.

Di setiap termin pertanyaan, beberapa peserta tampak kritis menanggapi serentetan laporan Departemen GGBI. Bukan sekadar koreksi atau pertanyaan tidak paham, sebagian peserta justru mengajukan usul bahkan aduan.
Seperti yang diungkapkan Pdt. Jacob Hardiarto, Gembala Sidang GBI Golgota Kroya, berharap Departemen PI lebih memperhatikan gereja-gereja di Badan Pengurus Daerah (BPD) Banyumas, khususnya saat sosialisasi PI.

“Saya ingin ketika ada kunjungan sosialisasi program, ketua Departemen PI dapat hadir, tidak saat emergency saja. Mungkin beberapa orang menggolongkan (BPD) Banyumas sebagai IDT (Inpres Desa Tertinggal), tapi saya merasa diberkati kok sebagai hamba Tuhan di Kroya, ” tandasnya.

Agung Setiawan, utusan dari GBI Kedungmundu Semarang mengimbuhkan, penting bagi Departemen PI menjaga kemitraan dengan utusan Injil yang menggembalakan atau merintis gereja-gereja di luar Pulau Jawa.

Pun saat memasuki termin pertanyaan dalam pembahasan laporan pertanggungjawaban Departemen Kependetaan, Pdm. Sugih Purnomo, Gembala Sidang GBI Cilandak, BPD DKI Jaya Banten, menanyakan adanya keganjilan di salah satu BPD (yang tidak disebut namanya). Ia menyayangkan ada beberapa gereja tersebut memberlakukan sistem “pendeta kontrak” , di mana pendeta “dipekerjakan” seperti outsourching yang masa pelayanannya ditentukan dalam kurun waktu tertentu.

Menjawab aduan tersebut, Ketua Departemen Kependetaan Pdt. Stefanus Ngatimin mengusulkan adanya diskusi lebih lanjut, mengingat gereja-gereja Baptis Indonesia memang memiliki hak otonomi.

“Bapak, Ibu, Saudara bisa memberikan informasi . Mungkin kami bisa melakukan dialog dan memberikan masukan. Selanjutnya kita bisa membicarakan dalam forum kependetaan. Bisa kita diskusikan,” paparnya.

Sebagian peserta mempertanyakan program-program BPN yang tidak berjalan, khususnya yang berkaitan dengan program PI dan pendidikan (mayoritas program tentang pendidikan musik gereja dan ibadah).

Seperti yang ditanyakan Arsendi, utusan GBI Batu Zaman, Bandung, ia mengamati ada beberapa program yang menurutnya tidak menyedot banyak dana, namun tidak terealisasi.

Contoh lain , buku Pedoman Pejabat Gereja yang sampai saat ini belum selesai. Pdt. Ngatimin berharap umat dapat menanti penyempurnaan dan pengesahan hingga MUNAS III GGBI mendatang, sementara menggunakan buku yang ada sekarang. Juga distribusi kartu kependetaan, pihaknya meminta kesabaran para pendeta untuk menunggu hingga Musyawarah Koordinasi Nasional bulan April 2016.

Saat mengakhiri sesi laporan pertanggungjawaban, Pdt. Yusuf meminta kesepakatan peserta untuk menyetujui laporan-laporan yang ada, dengan berbagai catatan, mengingat ada bagian laporan yang tidak lengkap dan beberapa program yang belum berjalan. Acara dilanjut ke sesi musyawarah RKA (Rencana Kerja dan Anggaran) setelah dipastikan tidak ada interupsi dari peserta.

Penulis: Andry Wahyu Pertiwi

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

Munas II GGBI | Santai dan Akrab, Tak Kurangi Esensi Musyawarah Komisi III

Suasana kekeluargaan cukup terasa dalam musyawarah Komisi Yayasan Baptis Indonesia (YBI) dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI), Rabu 9 Maret 2016. Bertempat di Aula Kim, Wisma Retret Baptis (WRB) Bukit Soka Salatiga, bayangan tentang ekspresi serius para dokter dan praktisi kesehatan yang tergabung dalam YRSBI, juga wajah kaku para pengurus YBI tidak tampak sama sekali.

Berdasarkan pengamatan Suara Baptis (SB) di lapangan, musyawarah yang dipimpin Pdt. I Gede Wastra dibantu Mexy Juliana Tambunan sebagai sekretaris sejak pukul 09.45 itu berlangsung dengan serius tetapi santai. Materi usulan, pertanyaan, dan jawaban memang serius dan patut menjadi pertimbangan bersama. Namun beberapa orang menyampaikan pendapatnya dengan diselingi canda sehingga mengundang gelak tawa.

Hal-hal yang banyak dibahas di komisi tersebut adalah perihal kinerja YBI, juga kabar mengenai yayasan yang dipimpin Edi Krisharyanto akan membiayai generasi muda Baptis yang hendak melanjutkan pendidikan teologia. Pembahasan mengenai pemberian beasiswa teologia cukup mengundang semangat sejumlah utusan sebab mereka menjumpai generasi muda yang berminat namun sempat ragu dengan ada tidaknya beasiswa yang kabarnya akan diberikan YBI tersebut.

Suasana musyawarah komisi yang akrab dan santai seperti yang tampak di Komisi YBI dan YRSBI ini selaras dengan kerinduan Badan Musyawarah Nasional (Bamusnas) Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) dalam memperkuat konsep keluarga besar. Sebelumnya, Sekretaris Pdt. Frank Stevanus Daud Suitela mengemukakan kepada wartawan SB Luana Yunaneva, prinsip kekeluargaan inilah yang mendorong Bamusnas mengistilahkannya dengan rapat keluarga. Pihaknya juga tidak mengadakan sidang atau pertemuan yang terlalu formal sehingga cenderung rentan memunculkan sikap saling menghakimi.

Penulis: Luana Yunaneva
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

Munas II GGBI | Lebih Perkuat Konsep Keluarga Besar

Ada sejumlah perbedaan yang tampak antara Musyawarah Nasional (Munas) I dan II Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI), meski keduanya berlokasi di Wisma Retret Baptis (WRB) Bukit Soka Salatiga. Demikian disampaikan Sekretaris Badan Musyawarah Nasional (Bamusnas) GGBI Pdt. Frank Stevanus Daud Suitela, Selasa 8 Maret 2016.

Pertama, Munas II GGBI yang digelar Selasa hingga Kamis 8-10 Maret 2016 ini lebih memperkuat konsep keluarga besar umat Baptis Indonesia. Prinsip kekeluargaan inilah yang mendorong Bamusnas tidak mengadakan sidang atau pertemuan yang terlalu formal sehingga rentan memunculkan sikap saling menghakimi. Pria yang akrab disapa Pdt. Kiki itu lebih suka mengistilahkannya dengan rapat keluarga.

“Fungsi yang berubah tidak terlalu banyak, apalagi dari sidang Badan Pengurus Daerah (BPG) menjadi Bamusnas. Hal ini dikarenakan umat menjadi pengawas untuk Badan Pengurus Daerah (BPN) GGBI dan para pembina Yayasan Baptis Indonesia (YBI). Yang diubah hanya konsepnya,” jelasnya kepada wartawan Suara Baptis (SB) Luana Yunaneva.

Suasana musyawarah Komisi YBI dan YRSBI dalam Munas II GGBI, Rabu 9 Maret 2016Pdt. Kiki menuturkan, pengambilan keputusan secara mufakat sebenarnya telah diterapkan di Kongres X GGBI, Maret 2015. Dicontohkannya, ketika terjadi deadlock dalam musyawarah, pimpinan tidak langsung memutuskan pengambilan suara terbanyak (voting), tetapi mengambil waktu untuk istirahat sejenak (break) dulu, lalu memanggil pihak-pihak yang berargumen dan mendiskusikannya secara baik-baik dalam kelompok kecil. Sesudah kesepakatan dibuat, mereka pun kembali membahasnya bersama umat.

Kedua, pengaturan ruangan dalam Munas II GGBI dibuat berbeda dengan Munas I GGBI yang digelar Selasa sampai Jumat 9-11 Juni 2015. Jika desain Munas sebelumnya membuat seluruh peserta fokus ke depan, kali ini munas yang bertema “Siap Bekerjasama Wujudkan Harapan” tersebut dibuat melingkar.

“Pimpinan sidang Bamusnas berada di tengah dan narasumber melingkar di belakang kami (Bamusnas, red.). Sementara umat duduk mengelingkar. Desain ini juga kami terapkan dalam sidang komisi, yaitu Komisi BPN GGBI dan Bamusnas, Komisi Organisasi, serta Komisi Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) dan Yayasan Baptis Indonesia (YBI),” pungkas Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kalibeji, Semarang itu.

Penulis: Luana Yunaneva
Editor: Prisetyadi Teguh WIbowo